Seorang Nenek di Ujung Dermaga *

Vyan Tashwirul Afkar

Untuk kesekian kalinya, aku melihat nenek itu di sana lagi. Di ujung dermaga, sore hari. Menatap penuh harap kepada lautan seolah-olah menanti sesuatu akan bangkit dari sana. Dari balik gulungan air laut, di antara celah-celah batuan karang, atau mungkin dari dalam lubang-lubang persembunyian keong dan hewan-hewan laut lainnya. Entah apa itu. Aku dan semua warga di sekitar dermaga lainnya tiada menahu. Yang kami tahu, adalah sebuah kewajiban bagi nenek itu untuk berada di ujung dermaga ketika senja merayap menaiki langit kampung kami.

Nenek itu berbadan kurus ramping. Beberapa bercak hitam menyebar begitu bebas di wajah sayunya. Tubuhnya membungkuk melengkung, membuatnya tampak pendek. Kulitnya kuning langsat, keriput, dan kusam berbalur debu. Rambutnya, tiap aku melihatnya, tergerai dihembus angin laut. Matanya selalu terkatup menghadang terjangan angin.

Baju yang dipakai nenek itu selalu sama sejak pertama kali aku melihatnya. Kebaya biru muda bermotif bunga-bunga tembus pandang. Memperlihatkan dalaman hitam yang juga selalu dikenakannya. Tapi, siapa tega melihatnya? Bagian bawah terbalut dengan batik lusuh berwarna coklat kemerahan bermotif bunga pula. Sandal jepitnya selalu sama tapi berbeda. Kaki kanan dialasi sandal jepit berwarna merah yang bagaikan mencekik erat telapak kakinya. Pada kaki yang lainnya, sandal kuning selalu setia diinjaknya. Sandal kuning yang berukuran dua kali kakinya. Sebuah anting-anting bermutiara tertusuk pada telinga kirinya saja. Sisanya, penampilannya layaknya gelandangan pada umumnya, tak terurus dan memilukan. Tinggal secara nomaden dari satu emper toko ke emper yang lain, toko di pasar tradisional sekitar dermaga.

Ia datang ke kampung kami begitu saja. Bagaikan hembusan angin yang ada seketika. Tidak ada yang tahu di mana rumahnya, siapa keluarganya, atau bahkan namanya. Setiap kami menanyai, ia hanya menunjuk sedih ke arah tumpukan batu karang yang katanya adalah anaknya. Ironis sekali.

Ketika cuaca di laut buruk dan ombak menggulung-gulung perahu yang berlabuh, ia justru berlari ke dermaga sambil berteriak pilu memanggil seseorang yang tidak kami kenal, berbalur air mata. Kami hanya mampu mengintip penuh rasa prihatin dari balik tirai jendela rumah kami masing-masing. Karena apabila kami menghentikannya, kami akan memperoleh tamparan keras di salah satu pipi kami. Terkadang, juga disertai celaan dan umpatan pedas yang memuakkan siapa saja yang mendengarnya.

Aku dan warga di sekitar dermaga lainnya memanggil nenek itu Nek Rubayat. Dari nama seorang tokoh legenda Malin Kundang. Yakni Si Emak yang tega mengutuk anak semata wayangnya menjadi batu. Tidak diketahui juga siapa yang memberinya nama itu. Mungkin, anak-anak gelandangan yang biasanya mengais ikan dan bermain di tepi dermaga. Karena kebiasaannya menangis pada batu yang ia panggil anak.
***

Pernah suatu sore, sepulang kerja, aku menghampiri Nek Rubayat yang tengah terduduk di tepi dermaga. Untuk pertama kalinya aku melihat aktifitas yang dilakukannya setiap sore itu dari dekat. Dia menangis sambil menyanyikan sebuah lagu anak-anak. Aku mendekat lalu duduk di sampingnya.

?Nek, nenek kenapa?? tanyaku tiba-tiba.

?Ada apa, Bocah?? jawabnya setelah beberapa saat sambil mengusap air matanya, menyadari kehadiranku yang tiba-tiba, seperti kedatangannya ke kampung kami.

?Nenek kenapa??

?Apakah penting, jika kujawab??

?Tidak terlalu. Tapi, setidaknya kami tahu alasan nenek datang ke kampung kami, alasan nenek ke sini tiap sore, dan beribu pertanyaan tak terungkap lainnya yang ingin kami ketahui.?

Nek Rubayat terdiam sejenak, menatapku, membuatku tahu betapa cantiknya ia saat muda. Kami masih terdiam ketika burung kuntul berteriak-teriak di atas kepala kami sembari melintas.

?Bocah…?

?Iya.?

?Apa kau lihat karang itu??

?Iya.?

?Itu adalah anakku!?

Aku kebingungan mendengar pengakuannya. Mataku melihatnya penuh tanya keheranan.

?Tapi, Nek, itu hanyalah sebuah batu!?

?Itu anakku! Ssst! Diam!? Hening, hanya deburan ombak yang terdengar, ?Dengar, dia menangis!?

?Tidak ada apa-apa Nek! Itu hanyalah sebuah batu, dan batu itu sudah ada sebelum Nenek datang ke sini, ke kampung kami!?

?Dan aku sudah ada sebelum kamu ada, Bocah! Dari mana kau tahu??

?Kau yang sudah tua ingat apa? Lihatlah dirimu, kau bahkan tidak tahu di bumi mana tempatmu berpijak, langit ke berapakah yang menanungimu, atau mungkin juga makhluk apakah dirimu!?

?Jaga bicaramu, Bocah! Apakah orang tuamu juga tak berakhlak sepertimu??

Tanganku mengepal erat, darahku naik pitam ke saraf ubun-ubunku semuanya. Ingin rasanya aku menggampar nenek ini. Namun rasa kasihanku terlalu besar kepadanya rupanya. Dia hanyalah seorang nenek tak berdaya.

?Sudahlah, tidak ada gunanya aku berbicara denganmu, Nek.?

?Jadi, kau juga tidak percaya kepadaku??

?Sama sekali.?

Nek Rubayat berdiri mengangkat sebuah batu sekepalan tanganku lalu melemparnya ke wajahku sampai memar.

?Kau sama saja dengan yang lainnya! Tidak mempercayai aku!? Aku mengaduh kesakitan sembari berdiri menegakkan tubuh.

?Dasar Nenek gila! Brengsek!?

Aku berlari memikul amarah yang membungkukkan akal sehatku. Bersama derit-derit kendaraan, kutancap motorku pulang. Sementara aku masih mendengar makian dan umpatan Nek Rubayat kepadaku.
***

Begitulah awal perjumpaanku dengan Nek Rubayat. Sejak saat itu, semua tentang dirinya hanyalah hal-hal buruk bagiku. Menurutku, Nek Rubayat hanyalah seorang gelandangan tua yang kehilangan harta, suami, anak, semuanya, karena kebodohannya sendiri. Dan kini, ia menjadi gila karena penyesalannya.

Kesan buruk itu terus melekat dalam diriku, membuatku selalu ingin memukulnya tiap kali teringat. Dendam itu kutularkan ke anak, istri, dan seluruh tetanggaku, semua warga kampung di sekitar dermaga ini, melalui cerita-ceritaku yang kubesar-besarkan untuk menghancurkan Nek Rubayat.

Anak-anak di kampungku semakin sering mempermainkan Nek Rubayat dan terkadang melemparinya dengan kerikil atau kelereng. Ibu-ibu terus menjadikannya bahan pembicaraan, namun bisa ditebak kalau hanya keburukannya yang mereka perbincangkan. Para bapak dan pemuda lainnya lebih parah lagi, semua merencanakan pengusiran Nek Rubayat dari kampung kami. Dan itu semua bermula dari satu orang. Aku.
***

Senja itu langit berwarna merah marun merona. Bulan sudah merekah di antara sekat-sekat angkasa. Dua mobil hitam berplat merah terparkir angkuh di pekarangan rumah Pak RT yang tepat berada di depan rumahku. Empat lelaki memakai jas turun dari mobil diiringi dengan Pak Lurah di belakangnya, memasuki rumah Pak RT. Dengan penuh rasa ingin tahu, aku keluar rumah, mengencangkan sarung yang kukenakan, dan berjalan berbondong-bondong bersama warga kampung lainnya ke rumah Pak RT.

Dua orang berjas hitam menduduki sofa dengan tangan tersedekap di dada, dua lainnya berdiri di belakang, bagaikan algojo yang siap menghantam siapa saja. Pak Lurah hanya terdiam membisu sedangkan Pak RT tertunduk dengan mata terkaca-kaca penuh keringat.

?Tapi tidak bisa begitu saja, Pak, saya tidak bisa menyerahkan kampung saya untuk apapun. Untuk proyek pembangunan pelabuhan Internasional seperti kata Bapak sekalipun!?

?Pemerintah Kabupaten berjanji akan menebus setiap kerugian, eh, atau lebih tepatnya, kami akan membeli tanah warga Anda seharga sepuluh juta tiap meter persegi.?

?Tetap tidak bisa, Pak. Ini tanah kami. Di sini kami lahir dan di sini jugalah kelak kami akan mati!?

Otakku melambung tinggi memikirkan tebusan dari pemerintah itu. Sepuluh juta per meter! Rumahku, saat diukur dua bulan lalu, luasnya sekitar tiga meter persegi. Jadi, aku akan mendapat uang tiga puluh juta! Oh, Tuhan, betapa miskinnya aku? Tiga puluh kali hidup pun, tidak mungkin aku mendapat uang sebanyak itu.

Pak RT kebingungan mencari jalan keluar, Pak Lurah hanya diam pasrah tidak keberatan sama sekali. Karena kami semua juga tahu, rumah Pak Lurah terletak jauh dari dermaga. Di luar area proyek pembangunan pelabuhan tersebut.

?Sudahlah, Pak RT, biarkan saja.? Usul Pak Lurah dengan nada lesu. Serentak, seluruh warga yang ada di sana berteriak gaduh.

?Jangan!?

Aku masih diam membayangkan uang itu.

?Tapi…? Pak Lurah menggeleng ke Pak RT.

?Maaf, beri kami waktu dua minggu lagi untuk berdiskusi dengan seluruh warga.?

Beberapa warga mulai menangis. Yang lainnya menenangkan dan meyakinkan bahwa kami tidak akan pernah berpindah dari tanah ini. Tanah kami. Membuat bayanganku akan uang-uang tebusan itu sirna.

?Yah, apa kita akan pindah?? tanya anakku dengan nada memelas. Aku bahkan baru sadar kalau dari tadi ia ada di sini.

?Tidak, tentu tidak, Sayang…?

?Apa benar, Yah??

?Iya, Sayang. Selama ribuan ikan masih berenang bebas di dalam laut, ribuan harapan masih ada.? Anakku memelukku erat.
***

Mulai saat itu, setiap hari ada petugas dari pemeritah yang mendatangi kampung kami. Sepertinya, mereka melanggar perjanjian tentang jangka waktu dua minggu itu. Toko-toko dan rumah-rumah yang sangat berdekatan dengan pantai mulai dibongkar walaupun tanpa izin dari kami. Berbagai cara kami lakukan untuk mempertahankan tanah kami. Tanah yang kami dapat dari nenek moyang kami. Konon, tanah ini ada karena nenek moyang kami bergotong-royong mengubur lautan dengan tenaga mereka sendiri. Kami hanya menerima dan memakainya saja. Betapa kami harus mempertahankan tanah ini.

Daerah di pinggiran laut mulai dibatasi oleh sekat bambu yang menjulur memisahkan kampung kami dengan laut. Hanya bagian tengah saja yang tak tertutup. Hanya karena masih ada seseorang di sana. Seseorang nenek yang mempertahankan dirinya agar tetap bersanding dengan karang, anaknya. Nek Rubayat.

Bermacam perlawanan terjadi agar eksekusi tanah tidak sampai terjadi. Tiap hari kian sedikit orang yang menentang kebijakan ini. Bahkan beberapa sudah pindah ke luar kampung atau sekadar tinggal di rumah sanak saudaranya di luar kota. Karena ribuan pasang tangan kami selalu kalah dengan sekarung uang yang dimiliki pemerintah. Semuanya pergi tak tersisa. Tidak lagi kulihat lampu-lampu berkedip dari arah laut. Tidak lagi kudengar tawacanda anak-anak maupun suara mengaji yang biasanya menggema mengisi langit senja. Yang ada sekarang hanyalah deburan ombak yang nyaring terdengar karena saking sepinya. Dan secercah cahaya lilin di tepi laut, tempat Nek Rubayat selalu duduk menunggui Si Batu, anaknya.
***

Cahaya surya membahana memadati jagat raya. Seseorang dari pemerintahan datang membawa sepucuk surat yang ia baca nyaring-nyaring di tengah kerumunan orang.

?Besok, Pak Presiden akan datang ke sini untuk meresmikan proyek pembangunan pelabuhan Internasional. Jadi, dimohon untuk segenap warga untuk mengosongkan daerah pantai. Besok, saat Pak presiden datang, tidak boleh ada seorang pun di sana.? Katanya dingin.

Anak dan isteriku mulai mengeluh ingin pindah saja. Tapi selalu kularang. Berbagai alasan kulontarkan agar kami masih tetap berada di sini.

?Kenapa kita tidak pindah, Mas? Tetangga kita sudah tinggal sedikit. Untuk apa kita mempertahankan hal ini kalau akhirnya nanti kita akan kalah??

?Jangan pesimis, Sayang.?

?Lihatlah anakmu! Sekolahnya sudah ditiadakan karena kehabisan murid. Aku juga! Setiap hari pergi ke kota sebelah hanya untuk membeli sayur dan lauk saja. Kau harus tahu itu, Mas!?

?Aku sudah tahu, Sayang. Aku tahu! Aku juga kehilangan pekerjaanku karenanya. Sudahlah, rejeki kita masih banyak.?

?Bukan hanya masalah uang atau makanan. Tapi pendidikan anakmu mau kau kemanakan? Kau ajari sendiri? Kamu? Yang tidak sampai lulus SD itu??

?Baiklah, secepat mungkin kita akan pindah dari kampung ini. Tapi sebelumnya, kita harus tinggal di rumah orang terlebih dahulu. Untuk sehari atau mungkin seminggu saja. Apa kau punya kenalan??

?Tidak. Tapi kita ke rumah Pak Lurah saja.?

?Ide bagus sepertinya.?
***

Hari dimana Pak Presiden datang ke kampung kami tiba. Mengendarai mobil dinas dibuntuti oleh beberapa pejabatnya, mereka datang memenuhi kampung kami. Daerah pantai sudah dikosongkan sore kemarin. Termasuk Nek Rubayat. Kemarin, kulihat ia digelandang oleh dua orang petugas secara kasar. Nek Rubayat didorong-dorong hingga sering kali jatuh tersungkur mencium tanah. Memilukan. Dan sekarang, keberadaanya tidak kami ketahui lagi. Sebagaimana ia sebelum kami mengenalnya. Sebelum ia datang ke kampung kami. Walaupun Nek Rubayat telah mengancam akan bunuh diri apabila ia dipisahkan dari anaknya.

Pak Presiden sempat memberikan pidato singkat sebelum menandatangani surat pengesahan proyek. Riuh tepuk tangan mengguncang terop-terop hijau yang berdiri megah menutupi seisi kampung kami. Mereka yang bertepuk tangan adalah pihak pemerintah. Kami, warga sini, hanya terdiam melihat tanah kami tergerus oleh keserakahan dan kebiadaban yang disahkan.

?Saya sangat bangga dan mendukung rencana pembangunan pelabuhan Internasional ini.? itulah sepotong kata yang telah diucapkan Pak Presiden yang kuingat. Selebihnya kuacuhkan bersama ketidakpercayaanku kepada pemerintah.

Betapa terkejutnya kami, ketika mobil-mobil bulldozer merobohkan dinding bambu, terlihat Nek Rubayat masih duduk di ujung Dermaga sambil menangis dan menyanyi pelan. Wajah Bupati dan beberapa petinggi kabupaten marah dan merasa dipermalukan.

?Kenapa Nenek gila itu masih berada di sana?? Tanya seseorang dari pemerintah.

?Tidak tahu. Kemarin kami sudah mengusirnya pergi.?

?Cepat, usir dia pergi dari sini!?

?Baik, Pak!?

Kami semua tercengang menatap betapa tenangnya Nek Rubayat di antara auman mesin-mesin berat yang mengepung. Belasan petugas datang membawa tongkat memukuli Nek Rubayat. Nek Rubayat menolak pergi lalu melempari mereka dengann batu. Pak Presiden hanya terdiam tidak percaya dengan apa yang kami lihat saat ini.

?Hentikan!? Perintahnya kepada para petugas itu.

?Hei! Berhenti! Biarkan saja!? Teriak Bapak Bupati menanggapi titah atasannya. Merasakan seolah dirinya ditelanjangi di depan umum. Kini nampaklah betapa keegoisannya untuk membangun pelabuhan ini.

Pak Presiden berdiri mendekati Nek Rubayat. Ribuan kamera wartawan mengejar tiap langkahnya.

?Nenek kenapa ada di sini??Tanya Pak Presiden kepada Nek Rubayat.

?Pokoknya aku nggak mau pergi dari sini!? Jawab Nek Rubayat lantang.

Pak Presiden termenung sesaat.

?Baiklah, Semuanya, hentikan proyek ini! Biarkan Nenek ini tetap di sini. Proyek ini dibatalkan saja. Ganti dengan proyek yang lain. Yang tidak merugikan seseorang pun!? Kata Pak Presiden bijak.
Aku tersenyum senang.
***

Bambu pemisah ditarik kembali oleh pemerintah. Beberapa warga juga kembali lagi ke kampung ini. Sebagian lainnya sudah terlanjur membeli rumah di lain tempat. Sejak saat itu, Nek Rubayat menjadi pahlawan kami. Setiap hari, kami mengasuhnya secara bergantian berurutan. Toko-toko mulai dibuka kembali, kerdip kerlip lampu bisa kusaksikan lagi tiap malamnya. Di ujung dermaga, kami buatkan gubuk kecil berlampu temaram untuk tempat Nek Rubayat menunggui anaknya tiap sore.

Semua kembali seperti semula. Walaupun sekarang terasa sedikit lebih lengang dibandingkan dahulu.
***

Langit berwarna kemerahan dari arah laut. Semua warga di kampungku menyaksikannya bersama di halaman rumah kami masing-masing. Awalnya, kami kira itu adalah sebuah fenomena alam yang sangat langka. Karena sejak kecil, aku belum pernah melihatnya. Namun lama-kelamaan kami sadar, pasar tradisional di sekitar dermaga telah terbakar!

?Pasar terbakar! Pasar terbakar! Pasar terbakar!?Teriak seorang pemuda mengendarai motor dari arah dermaga. Membuat kami semakin yakin dan membenarkan dugaan kami.

Saat kami tiba di sana, api sudah terlalu besar sehingga tidak mampu kami padamkan. Apalagi angin laut yang bertiup kencang membuat api semakin berkobar dan menjilat-jilatkan lidahnya ke seluruh benda yang bisa diraihnya. Tidak mempedulikan kesulitan kami saat membangunnya, tidak menghiraukan jerit tangis kami yang pecah seketika, tidak menghiraukan apapun. Api itu terus membesar menerangi langit malam. Melebihi terangnya senja dimana empat utusan dari pemerintah datang. Melebihi terangnya senja yang selama ini kulihat.

?Nek Rubayat masih berada di sana!? Teriak seorang ibu. Kami semua saling memandang, baru menyadari ketidakberadaan Nek Rubayat di tengah hiruk pikuk kami.

?Nek Rubayaaat!? Kami semua mulai histeris, memanggil nama itu.

?Cepat, panggil polisi, ambulans, dan pemadam!? Pinta Pak RT.

?B-baik, Pak!? Jawab seseorang di antara kami. Orang itu segera menerobos keluar kerumunan.

Api terus merayap, menjalar ke semua penjuru kampung. Perlahan-lahan tapi pasti, membakar rumah-rumah kami juga. Kami hanya mampu berteriak tanpa ada perlawanan terhadap api sekalipun. Kami sadar, sampai kami menguras air lautpun, api ini tidak akan padam karena ia sudah terlalu besar. Yang bisa kami lakukan hanyalah menyelamatkan benda-benda yang mampu kami bawa. Selebihnya, hanya kami lihat bersama kesirnaannya.

Hingga saat api telah meredup karena sudah tidak ada lagi benda yang bisa ia bakar, polisi, pemadam, dan ambulans belum satupun yang memperlihatkan batang hidungnya kemari. Ribuan ember air telah kami lemparkan pada api-api yang tak kunjung padam. Terus menelan harapan, keindahan, dan tentunya kampung kami. Menyisakan abu hitam yang terus-menerus mengasap ke awang-awang. Bersama meleburnya semua kenangan kami di tanah ini. Di kampung ini. Beberapa orang memanggil-manggil Nek Rubayat tapi tidak ada sahutan.

Esoknya, beberapa tim forensik dari pemerintah baru datang dengan wajah tak berdosa. Mereka hanya melihat sebentar bekas kebakaran semalam, mengambil beberapa barang yang mereka masukkan ke dalam plastik, lalu menyimpulkan kepada kami bahwa kebakaran tadi malam disebabkan korsleting di salah satu toko. Kami hanya terdiam memendam amarah dan dugaan kami bahwa pemerintahlah yang membakarnya. Bagaimana mungkin, tak satupun pihak pemerintah yang menolong kami semalam. Padahal kami telah menghubungi mereka berkali-kali sampai-sampai tombol teleponnya comot.

Sejak kebakaran itu, tidak pernah lagi kulihat seorang nenek di ujung dermaga. Tidak pernah lagi kami lihat Nek Rubayat. Bahkan jasadnya tidak pernah kami temukan setelah itu. Barangkali, Nek Rubayat telah gosong bersama puing-puing kayu yang menghitam, sehingga kami tidak mengenali keadaannya. Konon, di atas karang yang dulunya diperanakkan oleh Nek Rubayat terdapat sebuah karang baru yang lebih besar. Karang yang datang entah dari mana. Kami yakin, itu adalah Nek Rubayat. Ia telah berhasil memeluk anaknya. Sekarang, mereka dapat berbicara dengan bahasa batu mereka. Tidak akan ada lagi lagu ataupun tangisan. Semuanya sirna. Tidak pernah lagi kami lihat Nek Rubayat. Nenekku. Nenek kami. Pahlawan kami.

Rumah kami telah menghilang bersama dibersihkannya puing-puing sisa kebakaran. Tanah kami resmi dirampas pemerintah. Kini, tiada lagi orang yang akan menghalangi mereka. Dan kami harus merelakan semuanya untuk itu. Karena bagaimanapun, tangan-tangan kami selalu kalah dengan sekarung uang mereka. Semua perjuangan yang kami lakukan bukanlah masalah bagi mereka untuk menyirnakannya. Kami tahu, kami harus pergi dari tanah ini. Kami sadar, kami akan terombang-ambing dengan keberadaan yang tak pasti. Setelah ini, kami akan tenggelam di pinggir jalan, di kolong jembatan, atau mungkin di dermaga yang lain. Mungkin, suatu saat kami akan menjadi Nek Rubayat-Nek Rubayat yang lain, di dermaga yang lain. Lalu membatu, bersama mengerasnya amarah kami.
***

Jombang, Maret 2011
*) Jurnal Sastra dan Budaya ?Jombangana,? Edisi III 2011 [Dewan Kesenian Jombang].