WAJAH KOMUNITAS SASTRA JOMBANG *

Purwanto, Siti Sa?adah

Membincang sastra dalam wilayah publik, akan kita temui sebuah gambaran eksplisit tentang realita sastra di masyarakat. Ketika merujuk pada masyarakat sastra, tidak diragukan lagi betapa penting dan perlunya perananan sastra dalam masyarakat tersebut. Namun lain halnya pada masyarakat awam sastra, kemungkinan besar yang terjadi adalah sastra hanya dipandang sebelah mata.

Dengan jelas bisa kita tangkap suatu kesimpulan, bahwa sampai saat ini sastra bukanlah hal yang fundamental dalam kehidupan masyarakat. Dibandingkan dengan dimensi hidup yang lain, misalnya; hukum, politik, religi, ekonomi, ideologi, terlebih hiburan, sastra lebih tersisihkan. Ditambah dengan budaya rendah membaca pada masyarakat juga sangat mendukung semakin terpojoknya perkembangan sastra. Walau demikian, nafas sastra masih tetap hidup mengiringi laju zaman dengan segala keterbatasannya.

Di kabupaten Jombang, khususnya, sastra memang belum bisa dikatakan mengalami perkembangan yang signifikan. Tetapi ada hal yang membanggakan, yaitu merebaknya komunitas-komunitas sastra yang menambah semarak kegiatan sastra Jombang di masa mendatang. Komunitas-komunitas ini nyaris tidak terekspos oleh khalayak. Mungkin karena aktivitasnya yang masih bersifat untuk kalangan sendiri. Tercatat tak kurang dari sembilan komunitas yang sampai hari ini memang berkonsentrasi dalam bidang sastra. Komunitas-komunitas tersebut tersebar di beberapa wilayah kabupaten Jombang. Dan semuanya bersifat independent. Beberapa komunitas itu adalah: Komunitas Lembah Pring Jombang, LISWAS (Lingkar Studi Warung Sastra), Sanggar Kata, Gubuk Liat, KOMA (Komunitas Pena), Alifna Qolba, SSL (Sanggar Sinau Lentera), Kelompok Alief Mojoagung dan Lembah Pena Endhut Ireng.

Ada hal yang menarik untuk diamati dari komunitas sastra kabupaten Jombang. Mulai dari latar belakang yang beragam hingga pernak-pernik perjalanannya untuk tetap bertahan dalam dunia seni dan sastra.

Lembah Pring Jombang

Dalam konteks bersastra, komunitas ini bisa disebut sebagai komunitas yang paling intens mengadakan kegiatan. Komunitas yang beranggotakan dua orang –Jabbar Abdullah (Lurah Lembah Pring) dan Fahrudin Nasrulloh– telah melahirkan forum diskusi sastra bertajuk Geladak Sastra. Geladak Sastra diadakan satu sampai dua kali setiap bulan, telah berlangsung sejak 28 Maret 2010 hingga sekarang. Sampai pada tanggal 21 Mei 2011 yang lalu, terhitung sudah 16 episode Geladak Sastra digelar di beberapa tempat berbeda. Tidak tanggung-tanggung, gaung Geladak Sastra pun terdengar hingga di beberapa kota besar di Indonesia. Setiap kali kegiatan, hampir bisa dipastikan ada wajah-wajah baru yang mengikuti diskusi. Hal itu karena prinsip silaturahim yang kuat antara Komunitas Lembah Pring dengan komunitas-komunitas lain.

Geladak Sastra yang dilahirkan Lembah Pring nampaknya telah menjadi semacam benda magnetis yang menarik banyak perhatian kalangan penulis dan seniman daerah Jombang. Semula visi utamanya hanya ingin mengogrok-ogrok penulis pemula agar tak jadi pemalu, ternyata banyak mendapat apresiasi positif di lingkungan Jombang dan sekitarnya. Dengan semangat yang luar biasa, Jabbar dan Fahrudin mampu memberi motivasi kepada para penulis pemula untuk tidak malu mempublikasikan karyanya. Fahrudin Nasrulloh dalam tulisannya ?Geladak Sastra?, Kekaryaan, dan Sinergi Komunitas menerangkan: ?Tujuan digelarnya agenda rutin Geladak Sastra adalah sebagai wadah, tempat berkumpul, ajang pertemuan yang sederhana dan tidak mewah, membuka gagasan apapun dan dari siapapun, dan tidak hanya terbatas pada penulis dan komunitas dari Jombang saja, tetapi membuka diri bagi yang lain di luar kota untuk terlibat, urun pemikiran, serta mengelilingkan ?Geladak Sastra? tersebut sesuai dengan kebutuhan dan kepentingan yang disepakati bersama.?

Ada tiga pokok agenda Geladak Sastra: pertama, bedah karya, diskusi atau jagongan ringan dengan tema sastra, seni, dan budaya dan format dialog lepas, talk show atau orasi budaya, bisa juga berupa pementasan musikalisasi atau monolog, agenda ini akan diselang-seling sesuai kebutuhan dan bersifat kondisional.

Adapun kronik singkat mengenai agenda Geladak Sastra adalah:

1.
Geladak Sastra #1 Bedah Kumpulan Cerpen Pensi Dor karya Siti Sa?adah. Ahad, 28 Maret 2010 pukul 13.00 WIB di Omah Pring dusun Mojokuripan desa Jogoloyo Sumobito Jombang. Pengulas: Rahmad Sularso Nh. Moderator: Purwanto.

2.
Geladak Sastra #2 Bedah Kumpulan Cerkak Bobok Suruh Bodeh karya Sabrank Suparno. Ahad, 18 April 2010 pukul 09.00 WIB di Langgar dusun Dowong desa Plosokerep Sumobito Jombang. Pengulas: Anjrah Lelono Broto dan Ngaidi Wibowo. Moderator: Koko Hari Pramono.

3.
Geladak Sastra #3 Diskusi Gairah Menulis Menembus Koran. Ahad, 16 Mei 2010 pukul 19.00 WIB di Omah Pring dusun Mojokuripan desa Jogoloyo Sumobito Jombang. Pengulas: Bandung Mawardi, Nurel Javissyarqi dan Dian Sukarno (tidak datang, namun mengirimkan materi ulasannya). Moderator: Fatoni Mahsun. Yang hadir saat itu dimohon membawa artikel koran.

4.
Geladak Sastra #4 bedah kumpulan cerpen Ziarah Mandar karya Bustan Basir Maras. Rabu, 14 Juli 2010 pukul 13.00 WIB di Omah Pring dusun Mojokuripan desa Jogoloyo, kecamatan Sumobito Jombang. Pengulas: Nasrul Ilahi, Abdul Malik dan Gita Pratama. Moderator: Aang Fatihul Islam.

5.
Geladak Sastra #5 Bedah Novel Pembunuh di Istana Negara karya Dhian Hari MD Atmaja. Jum’at, 23 Juli 2010 pukul 13.00 WIB (Ba?da Jum?atan) di Padepokan Selo Adji (Rumah Ribut Sumiyono / Pematung Batu Trowulan) Jl. Raya Jatisumber 11 dusun Jatisumber desa Watesumpak kecamatan Trowulan Mojokerto. Pengulas: Halim HD, Robin al-Kautsar, Nurel Javissyarqi. Moderator: Yusuf Suharto.

6.
Geladak Sastra #6 dengan tema Bara dari Tanah Merah yang membedah 3 buku LEKRA, yakni Kumpulan Cerpen dan Puisi Gelora Api 26 (Chalik Hamid, Ed.) dkk., Kisah-kisah dari tanah Merah: Cerita Digul Cerita Buru karya Tri Ramidjo dan Tanah Merah yang Merah karya Koesalah Soebagyo Toer. Pada Selasa, 3 Agustus 2010 yang semula diagendakan bertempat di Aula Disporabudpar Mojokerto dipindah di Omah Pring Jombang pukul 19.00 WIB. Pengulas: Chamim Khohari dan Diana AV Sasa, (Sumrambah tidak datang, catatan tersendiri mengenai Geladak Sastra #6 ini di rubrik Esai Sastra). Moderator: Faizuddin Fil Muntaqabath.

7.
Geladak Sastra #7 pada hari Jum?at, 13 Agustus 2010 di Omah Pring tanpa menyebar undangan dan dihadiri tiga orang yaitu Sabrank Suparno, Gus Kur dan Fahrudin Nasrulloh dengan acara baca puisi Aku Hadir Hari Ini karya R. Bandaharo dan Puisi-Puisi dari Penjara karya S. Anantaguna dan diskusi santai.

8.
Geladak Sastra #8 Bedah Buku Rajegwesi; Puisi-puisi Tak Terduga, karya Fatah Yasin Noor. Ahad, 26 September 2010 pukul 13.00 WIB di Rumah Bapak Djito, Sanggrah ?Akar Mojo?, Dusun Treceh Desa Sajen Pacet Mojokerto. Pengulas: Mashuri, M.S. Nugroho dan Wahyu Hariyanto (tidak datang). Moderator: Akhmad Fatoni.

9.
Geladak Sastra #9 dan Kelompok Alief, Launching dan Diskusi Kumpulan Cerpen Presiden Panji Laras karya M.S. Nugroho pada 22 Oktober 2010 pukul 13.00 WIB di GOR Jl. Merdeka No. 1 Jombang. Pengulas: R. Giryadi, Nu?man ?Zeus? Anggara, Robin Al-Kautsar, Fahrudin Nasrulloh. Moderator: Inswiardi.

10.
Geladak Sastra #10 Bedah Buku Kepada Sastrawan Universal; Kumpulan Esai Sastra AS. Dharta. Ahad, 21 November 2010 pukul 19.00 WIB di Omah Pring Mojokuripan Jogoloyo Sumobito Jombang. Pengulas: S. Yoga, Aguk Irawan MN., Adin, Aan Anshori. Moderator: Achmad Fatoni.

11.
Geladak Sastra #11 Bedah Antologi Cerpen Mata Blater karya Mahwi Air Tawar. Jum?at, 10 Desember 2010 pukul 13.00 WIB di Aula KH. M. Yusuf Hasyim Lt.III Pesantren Tebuireng Jombang. Pengulas: Lan Fang, Salamet Wahedi, David Sugiarto, Peppy Al-Ikthiqom, Fahrudin Nasrulloh. Moderator: Irna Tantira.

12.
Geladak Sastra #12 Bedah Antologi Puisi Facebrick karya para pegiat Kelompok Alief Mojoagung. Jum?at, 31 Desember 2010 pukul 08.00 WIB di Halaman Kompleks PSBR Jombang. Pengulas: Chamim Kohari dan Gandis Uka. Moderator: Zeni Qomariyah.

13.
Geladak Sastra #13 Bedah Kumpulan Puisi Berhala Obama dan Sepatu Buat Bush karya Asep Sambodja. Ahad, 27 Februari 2011 pukul 13.00 WIB di Perpustakaan Daerah (Mastrip) Jombang. Pengulas: Edy Soetjahjono, Nanda Sukmana, Cucuk Espe. Moderator: Siti Sa?adah.

14.
Geladak Sastra #14 Bedah Kumpulan Esai Asep Sambodja Menulis Tentang Sastra Indonesia dan Pengarang-Pengarang Lekra karya Asep Sambodja. Ahad, 27 Maret 2011 pukul 08.00 WIB di Swarna Art Space (SAS) Jl. Sam Ratulangi No. 5-B Jombang. Pengulas: Kusprihyanto Namma, Suyitno Ethex dan Danil Al Madrim (tidak datang). Moderator: Anton Wahyudi.

15.
Geladak Sastra #15 Bedah Kumpulan Cerpen Syekh Bejirum dan Rajah Anjing karya Fahrudin Nasrulloh. Minggu, 3 April 2011 pukul 09.00 WIB di Pendopo Yayasan Al-Muhammady Menturo Sumobito Jombang. Pengulas: Dwi Cipta dan M.S. Nugroho. Moderator: Samsul Arifin (Jr. Dasamuka).

16.
Geladak Sastra #16 Bedah Kumpulan Puisi Kampungku Puisiku: Himpunan Puisi dari Remaja Jambu Kediri. Sabtu, 21 Mei 2011 pukul 09.00 WIB di MTs Miftahul Huda, Jl. Masjid No. 429 RT:01 RW: 09 desa Jambu kecamatan Kayen Kidul Kediri. Pengulas: Siti Sa?adah dan Subardi Agan. Moderator: Ahmad Ikhwan Susilo.

Demikian kronik singkat mengenai agenda Geladak Sastra, sebelum agenda Geladak

Sastra berjalan Lembah Pring pernah menggelar acara Launching Jurnal Cerpen Indonesia dan Jurnal Puisi Rumah Lebah serta diskusi sastra Membaca Geliat Sastra Jombang pada hari Selasa, 21 April 2009 pukul 19.00 di Omah Pring dengan pembicara Raudal Tanjung Banua, Imam Ghazali AR., dan Nur wahida Idris.

Lingkar Studi Warung Sastra (LISWAS)

Berbeda dengan Komunitas Lembah Pring, LISWAS (Lingkar Studi Warung Sastra) yang diketuai oleh Aditya Ardi Nugroho yang akrab disapa Genjus, juga memiliki aktivitas yang tidak kalah menarik. Nama lingkar studi sendiri berdasar atas diskusi lingkaran kelompok kecil di warung kopi yang banyak menggagas persoalan teori sastra, kepenulisan Sastra Jawa-Indonesia, dan tradisi sastra lama. Konsep ide bermula dari Agus Sulton yang selanjutnya disetujui oleh kawan-kawannya seperti: Genjus, Andreas RT, Jojon, Herman, dan beberapa teman di kecamatan Ngoro Jombang. LISWAS bersekretariat di dusun Gresikan RT 02/RW 02, desa Ngoro, kecamatan Ngoro, kabupaten Jombang.

Karya-karya dari anggota LISWAS pernah dimuat di beberapa media; Radar Mojokerto, Surabaya Post, Kompas Online, Jaya Baya, Panjebar Semangat, Djaka Lodang, Mimbar, Gong, dan beberapa jurnal ilmiah. Karya yang sudah dihasilkan dari LISWAS adalah Rembulan Bernyanyi (Novel, 2009), Mobilisasi Warung Kopi (Kumpulan Puisi, 2011), Berhias Mata Kaca (Kumpulan Puisi, 2009), Sketsa Tak Bermantra (Kumpulan Puisi, 2008), Kantin Pelatuk Naga (Kumpulan Puisi, 2010), Independent Research Manuskrip Jawa Kuno-Islamic Manuscript, Tradisi Tulis Masa Lampau, dan Jejak Skriptorium yang segera dibukukan dalam Kondikologi dan Naskah Kuno Kedaerahan.

Sanggar Kata

Sanggar Kata yang digagas oleh M. Fathoni Mahsun, Luthfi Aziz, dan Budi Mardiono juga tumbuh dengan baik. Komunitas ini berkomitmen bergerak dalam bidang sastra, tulisan populer, jurnalistik dan media. Aktifitas komunitas ini lebih pada kepenulisan, pembinaan kepenulisan tingkat pelajar, dan penerbitan. Sanggar Kata lahir dengan harapan agar bisa menjadi kendaraan untuk berdialog dengan masyarakat secara komunikatif dalam jangkauan luas. Hal itu mereka buktikan dengan kegiatan yang selama ini dilakukan. Kegiatan-kegiatan itu berjalan dengan cara berafiliasi dengan masyarakat (yang mereka sebut sebagai masyarakat binaan/sekolah).

Sanggar Belajar Bareng Gubuk Liat

Gubuk Liat merupakan Sanggar Belajar Bareng di Jombang yang dipandegani oleh Rahmat Sularso bersama M. Rifqi Rahman, Rangga Dwi PK., Lucky Ali Murfiqi, Akhiriyah Malik, Muh. Firdaus Rahmatullah, Rangga Prayoga, Tedi Subohastowo, Andik Setyo Ari dll. Memiliki ruang yang disesuaikan dengan kecenderungan anggotanya sehingga memunculkan idiom bilik sebagai pemfokusan kemampuan mereka, yaitu Bilik Sastra, Bilik Musik dan Tradisi, Bilik Teater. Kiprah sastranya yaitu mengadakan diskusi mengenai proses kreatif kepenulisan dan agenda berumbul Safari Sastra, agenda pertama yang telah berjalan adalah Safari Sastra #1 Launching dan Bedah Kumpulan Esai Nurel Javissyarqi Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Chalzoum Bachri pada Minggu, 22 Mei 2011 pukul 08.00 WIB di Aula SMA Muhammadiyah 1 Jombang dengan narasumber Nurel Javissyarqi, Chamim Kohari, M. Zaenal Fanani dan dimoderatori oleh Aditya Ardi Nugroho.

Dalam Historiografi Gubug Liat dijelaskan, ?Berdasarkan azaz kekeluargaan yang diusung bersama, Gubug Liat mampu masuk di setiap pribadi anggotanya menjadi keluarga kedua bagi mereka dengan persaudaraan antar anggota. Sehingga tujuan untuk saling belajar dan mencerdaskan membuat Gubug Liat tidak berhenti untuk menghadirkan terobosan dan juga berbagai inovasi dalam samudera kesenian dan kebudayaan di Kabupaten Jombang.?

Komunitas Pena (KOMA)

Sementara itu, di ponpes Bahrul Ulum Tambakberas Jombang telah tumbuh pula satu komunitas sastra, Komunitas Pena (KOMA). KOMA yang berdiri sejak 14 Februari 2007 semakin mengukuhkan eksistensinya dengan kegiatan rutin yaitu Malem Pituan, setiap bulan pada tanggal 6 berupa bedah karya dan diskusi tematis yang dikoordinir oleh anggota putra, dan Lesehan Sastra yang dikoordinir oleh anggota putri. Hal ini dikarenakan komunitas ini berada di lingkungan pondok pesantren yang tidak memungkinkan santri putra dan putri berbaur secara intens, namun hal demikian bukanlah kendala yang bisa menghambat kreatifitas mereka. Kegiatan tersebut tidak jauh berbeda dengan kegiatan di komunitas sastra lainnya, berdiskusi tentang karya sastra dengan saling mengapresiasi karya yang diangkat pada acara tersebut.

Adapun kegiatan Malem Pituan telah berjalan lebih dahulu sampai pada Malem Pituan #5 diskusi Naza? Budaya, Bedah Cerpen Cincin Berdarah karya Dian DJ., Cerpen Pelacur Cinta karya Rifa Ar-Rifa?i pada hari Rabu, 06 April 2011 pukul 20.00 WIB di Pondok Pesantren Al-Wahabiyah 2 Tambak Beras Jombang. Sedangkan kegiatan Lesehan Sastra yang telah berjalan adalah:

1.
Lesehan Sastra #1 Bedah Cerpen Remo karya Sabrank Suparno, Cerpen Cintaku di Chemistry karya Dwindini, Cerpen Kasihku Berlabuh di Kertas Biru. Bedah Puisi Bahrul Ulum karya Ibnu Taufiq, Harapan karya Vivil pada Jum?at, 15 April 2011 pukul 13.00 WIB di Pondok Pesantren Al-Wahabiyah 2 Tambak Beras Jombang.

2.
Lesehan Sastra #2 Bedah Cerpen Kuwen karya Siti Sa?adah, Cerpen I am (not) Woman karya Esti Vita Ningtyas, Bedah Puisi Tobat yang Tertolak karya Fikhi Juhdi, Puisi Apa yang Kau Inginkan? Atau Aku Harus Bagaimana? Karya Rifa Ar-Rifa?i, Puisi Harapanku karya Miftahur Rosyidah, Puisi Keresahan di Lantai 3 karya Atika F. pada hari Jum?at, 13 Mei 2011 pukul 13.00 WIB di Aula MA Wahab Hasbulloh Tambak Beras Jombang.

Agenda tahunan yang dicanangkan KOMA adalah Pekan Tadarus Sastra, yaitu kegiatan yang berlangsung selama sepekan pada akhir tahun kalender pendidikan sekolah. Adalah M. Fahmi yang telah dipercaya sebagai ketua pada komunitas KOMA saat ini. Anggotanya berjumlah 69 orang berasal dari pelajar Madrasah Aliyah yang banyak nyantri di ponpes Bahrul Ulum Tambakberas.

Menurut M. Shomad, salah satu anggota yang ikut mendirikan KOMA, dalam kegiatan sastra ia merasakan penyegaran rohani. Selain Shomad, Mangun Kuncoro mengaku mendapat banyak dulur (Jawa: saudara) setiap kali mengikuti kegiatan diskusi sastra. Ia merasakan kenyamanan ketika bergaul dengan orang-orang yang bergelut dalam bidang sastra. Sebagai pendatang di kota Jombang, Mangun membuktikan kecakapannya dalam bidang kepenulisan yang tak kalah dengan penulis lainnya. Novel Sepasang Sayap di Punggungmu berhasil ia selesaikan dan dibedah pada acara Pekan Tadarus Sastra, 20-24 Juni 2010 di Aula MTs Plus Bahrul Ulum. Selain itu, puisinya juga telah dimuat di beberapa media. Puisi Qur?an untuk Bunda (Majalah Tebuireng), Darah Juang (Majalah Move, PMII Jombang). Gerak langkah KOMA bisa menjadi salah satu contoh komunitas sastra di Pesantren.

Alifna Qolba SMA Muhammadiyah 1 Jombang

Berkembang juga komunitas Alifna Qolba SMA Muhammadiyah 1 Jombang. Komunitas ini berdiri karena kegelisahan yang memuncak dari para pelajar sekolah tersebut yang tertarik pada sastra. Mahendra PW, yang masih duduk di bangku kelas X SMA Muhammadiyah 1 Jombang adalah pelopor dalam komunitas ini, mulai dari mencari dukungan pada pihak sekolah sampai mengumpulkan 20 pelajar antara lain Faris Fa., Umar Dhani, Amelia, Ainun Najib, Shela, Retno Sugiarti, Amelia dan Azizah untuk mengadakan kegiatan sastra. Pada tanggal 14 Februari 2011 Alifna Qolba resmi berdiri dengan bimbingan Sanggar Sinau Lentera (SSL). Bisa dibilang komunitas ini masih seusia jagung, tetapi semangat yang menggebu untuk terus maju selalu dipupuk.

Menurut Mahendra, mengembangkan sayap kader Muhammadiyah dalam bidang sastra adalah misi utamanya. Paling tidak sudah terbukti dengan aktivitas mereka saat ini. Kegiatan yang dikembangkan fokus pada bidang sastra dan dunia kepenulisan. Setiap Sabtu sepulang sekolah para anggotanya selalu berkumpul untuk sekedar berdiskusi tentang karya-karya mereka, antara lain yang pernah dibedah adalah puisi Laksana Hidup di Neraka dan Titip Sajak Ini karya Mahendra PW. yang hadir antara lain Wong Wingking, Fandi Ahmad dan Ghulam Mk.

Sanggar Sinau Lentera (SSL)

Sanggar Sinau Lentera (SSL) yang diketuai oleh Hadi Sutarno alias Wong Wingking, juga mewarnai dunia sastra Jombang, lahir pada bulan November 2010. Pada awalnya komunitas ini digerakkan oleh dua orang saja yaitu Hadi dan Inung Ardiansyah. Beberapa kali agenda diskusi dan bedah karya bertempat di rumah Hadi dan kampus AMIK Jombang. SSL yang digerakkan oleh Hadi, Inung Ardiansyah, Ghulam, Duqi, Mahendra PW. dan dibantu juga oleh Sabrank Suparno giat mengadakan acara Malam Sastra Lentera yang semula dinamai Lentera Sastra Sepuluh karena diadakan setiap tanggal sepuluh, kemudian diganti dengan nama Malam Sastra Lentera mengingat tanggal pelaksanaanya yang fleksibel. Di antara agendanya adalah Mengenang Chairil Anwar dengan membacakan puisi-puisinya, bedah kumpulan puisi Mahendra PW. dan Inung Ardiansyah pada 30 April 2011 pukul 20.00 WIB di Kampus AMIK Jombang dengan pengulas Nu?man ?Zeus? Anggara dan Cucuk Espe, bedah naskah teater Warteg karya Sinyo Wibisono dengan pengulas Lek Mujib dan A. Zamroni pada tanggal 28 Mei 2011 di RUPIN Karisma Jl. Kusuma Bangsa No. 54 Jombang. Antusiasme kalangan pecinta sastra cukup besar untuk mengikuti kegiatan ini. Terbukti di setiap jalannya diskusi, selalu dihadiri oleh komunitas-komunitas lain di luar SSL dalam dan luar kota.

Kelompok Alief Mojoagung

Kelompok Alief Mojoagung bukanlah komunitas sastra murni. Maksudnya, sastra bukan menjadi konsentrasi utama dalam komunitas ini. Tetapi, sastra menjadi salah satu kegiatan yang dikembangkan. Kelompok Alief yang diasuh oleh Edi Harsoyo, MS. Nugroho dan diketuai oleh Purwanto beranggotakan anak-anak muda Mojoagung yang komitmen bergerak dalam bidang seni dan budaya. Karena berlatarbelakang komunitas teater, aktivitas bersastra menjadi sangat penting untuk mengembangkan potensi menulis anggotanya (minimal dalam bentuk naskah drama).

Selain naskah drama, puisi dan cerpen juga menjadi bidikan untuk mengukur kemampuan dalam kepenulisan. Dengan istilah meguru kepada para seniman dan sastrawan senior Jombang, Kelompok Alief mengasah kreatifitasnya. Bekerjasama dengan beberapa instansi sekolah dan pemerintah kecamatan Mojoagung, pada tahun 2009 Kelompok Alief berhasil mengadakan Workshop Penulisan Puisi tingkat SMA. Kegiatan itu mendapat apresiasi positif dengan mengusung Sastra dalam Pertunjukan berbentuk teatrikalisasi dan musikalisasi puisi. Sampai saat ini sudah dua buku kumpulan puisi Facebrick (2010) dan Ladrang Rarangis (2011) diterbitkan secara mandiri oleh Kelompok Alief.

Zaenal Faudin, Bambang Irawan, Liestyo Ambarwati Kohar, Sigit Yitmono Aji, Arya Esa Mahadewa, Umi Khofsoh, dan beberapa orang lainnya tergabung dalam Kelompok Alief dan giat menulis. Aktivitas menulis dalam kelompok ini selain sebagai kesenangan pribadi, sebenarnya lebih dititikberatkan pada pengembangan kekaryaan bidang seni lain. Dengan kata lain, bagaimana kegiatan sastra bisa berpengaruh positif pada bidang seni pertunjukan dan seni peran yang digeluti. Tentunya untuk lebih diakrabkan pada masyarakat secara luas.

Lembah Pena Endhut Ireng

Dinamakan demikian karena asal muasal manusia diciptakan, endhut ireng adalah lambang sebuah kesuburan negara Indonesia yang gemah ripah loh jinawi, sedangkan Pena adalah lambang produktifitas yang menghijaukan endhut ireng dengan tanaman pengetahuan. Berdiri tanggal 21 September 2009, penggagasnya Aang Fatihul Islam, beranggotakan Bagja Wahid Hasyim, Hevi Candra Aulia Agusta, Bedi Syarifudin dan April Adik Sutanto. Kegiatan rutin satu minggu sekali, tempat pindah-pindah, berupa diskusi, membaca dan menulis. Sedang menyiapkan antologi puisi. Karya dari anggota antara lain: cerpen Ngidam, Gus Dur dan Cah Angon dalam Tembang Ilir-Ilir (Duta Masyarakat), Sastra Lisan Jombang Menunggu Ajal, sebuah mutiara yang terlupakan (Radar Mojokerto), Kekuatan Karya Sastra dan Rekonstruksi Perubahan Masyarakat Jombang (Jurnal Jombangana). Kesekretariatan di dusun Karangturi RT/RW: 01/02 desa Karangdagangan kec. Bandarkedungmulyo Jombang.

Sekilas jika dilihat dari data komunitas sastra di atas, kita bisa menerka-nerka bagaimana kelangsungan kegiatan sastra di Jombang pada masa yang akan datang. Dengan adanya komunitas sastra yang semakin bertumbuh, diharapkan bisa memicu tumbuhnya penulis-penulis generasi baru yang membanggakan. Mengingat sinergi antara komunitas satu dengan yang lain juga terjalin dengan baik, akan menjadi satu kebanggaan tersendiri bagi warga Jombang, khusunya kalangan pecinta sastra. Semakin kuat silaturahim antar komunitas, sangat memungkinkan semakin meramaikan dunia sastra. tidak menutup kemungkinan adanya komunitas sastra lainnya yang belum terlacak dan memiliki keajegan dalam berkarya. Akhirnya, bukan hal yang tidak mungkin jika sastra akan lebih diminati di wilayah yang lebih luas, bukan hanya kalangan pecinta sastra saja.
***

*Jurnal Sastra dan Budaya ?Jombangana,? Edisi III 2011 [Dewan Kesenian Jombang].