Bangsa Indonesia Kehilangan Jati Diri

Eri Anugerah
Media Indonesia,9 Mei 2007

GLOBALISASI merupakan suatu keniscayaan. Ia terus bergerak dan menyentuh setiap sisi kehidupan manusia di penjuru dunia. Globalisasi mengalir cepat tidak bisa dibendung. Tidak mengherankan, sebagian kalangan khawatir arus globalisasi akan menggerus nilai-nilai asli. Keberadaan tradisi dan budaya lokal terancam tersisih.

Padahal era globalisasi tidak perlu ditakuti jika bangsa Indonesia membekali diri dengan memperkuat kebanggaan jati diri bangsa. Sebab, jati diri bangsa yang kokoh akan melahirkan karakter bangsa yang mampu bersaing dengan bangsa lain. Bangsa Indonesia pun akan mampu bicara di tingkat global.

Demikian kesimpulan dari diskusi bertema Konsolidasi ekonomi perdagangan nasional berbasis khazanah budaya bangsa yang digelar Indo Solution di Warung Apresiasi, Bulungan, Jakarta, Senin (7/5). Acara diskusi itu digelar menjelang diadakannya seminar nasional bertajuk Penyiapan Kapal Dagang Indonesia, Belajar dari Pengalaman Sejarah Perdagangan Indonesia-India di Jakarta, pada 21 Mei mendatang.

Dalam diskusi itu, budayawan WS Rendra mengungkapkan, penjajahan Belanda telah berhasil merusak tatanan bidang tata negara, tata pemerintahan, tata hukum, dan tata pembangunan Indonesia. Bahkan sampai sekarang masalah tatanan tersebut belum teratasi.

“Mereka berhasil membuat kohesi atau rasa kebersamaan bangsa kita menjadi tidak kokoh lagi. Jadi sebenarnya kita bukan mengalami krisis nasionalisme, tetapi krisis kohesi,” ujarnya.

Hukum dirusak kolonial Belanda. Kalau dahulu, hukum adat begitu kuat, kini sudah melemah. “Oleh karena itu, konflik di berbagai daerah di Indonesia terus terjadi. Coba kalau pakai hukum adat. Kalau kepala adat bilang setop, tidak akan ada perpecahan,” ungkapnya.

Penyair yang menguasai sejarah itu memandang konflik di Poso bisa dituntaskan. Bila aparat polisi tidak masuk dan kepala adat diberdayakan, persoalan konflik horizontal tidak separah sebagaimana yang terjadi belakang.

Ironisnya, perusakan tatanan kehidupan bangsa Indonesia terus berlanjut. Bahkan pascapenjajahan, proses perusakan tatanan kehidupan terus berlanjut. Pemerintah Orde Lama dan Orde Baru turut andil merusak tatanan kehidupan.

“Aturan di segala bidang menggunakan aturan yang dibuat Belanda (pemerintah). Tidak mengherankan, kalau tatanan hidup bangsa Indonesia terus amburadul. Bangsa kita telah kehilangan jati dirinya,” paparnya.

Keadaan seperti itu telah menyebabkan sumber daya manusia yang dimiliki Indonesia tidak matang, terutama saat menghadapi dunia modern. “Ini dampak budaya yang menyedihkan,” ujarnya.

Dampak selanjutnya, bangsa Indonesia kehilangan kewibawaan saat beradaptasi dengan ilmu pengetahuan. Ketidakwibawaan muncul ketika menghadapi banjirnya produk-produk dunia modern hasil bidang pemikiran, ekonomi, dan perdagangan. Tidak ada transfer produk modern yang disaring berdasarkan pertimbangan. “Kita hanya menjadi peniru,” tandasnya.

Sementara itu, pembicara lain, Guru Besar Manajemen Strategis Universitas Prasetya Mulya, Sammy Krista Mulyana, mengungkapkan, kemampuan adaptasi bangsa Indonesia memang bagus. Sayangnya, karena tidak mempunyai jati diri budaya, bangsa Indonesia dikesankan hanya sebagai penghasil imitasi. “Karenanya, untuk memasuki era globalisasi diperlukan adanya perencanaan dengan pemahaman terhadap budaya lokal,” ungkapnya.

Amerika Serikat kalah pada perang Vietnam. Penyebabnya, karena Amerika tidak menguasai budaya atau cara berperang orang Vietnam.

Sammy memandang sebuah bangsa yang menjalankan sesuatu, baik itu bidang sosial, politik, ekonomi atau budaya, akan maju jika mempunyai karakter atau jati diri bangsa sendiri.

“Misalnya, India yang sering diprotes Bank Dunia karena sangat lambat mengeluarkan aturan. Tapi, mereka karena mengenal jati diri bangsanya sendiri, ya mereka tidak menghiraukan peringatan tersebut. Toh, India maju juga sekarang. Bahkan, menjadi negara yang amat diperhitungkan di dunia sekarang ini,” katanya.

Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2007/05/globalisasi-bangsa-indonesia-kehilangan.html

PuJa

http://sayap-sembrani.blogspot.com/