Belajarlah Menjaga Lidahmu Abdiku

Syifa Aulia

Saat ini kami tak mau gegabah
bahkan pada perih
yang menyelinap diam-diam
serupa guratan sejarah
yang di bungkam

Sebab telah kembali
kau hujamkan belati
ke dada kami
berulang kali
mengalirkan darah kebencian
di jiwa-jiwa kami

Lidahmu terlalu pedang
yang senantiasa mampu
membunuh rasa hormat
kami padamu
kami meletakkan kepala
di kaki-kaki kami
bukan untuk kalian
injak semaunya

dan perih ini tak akan
kami biarkan

Kami ingin bercanda denganmu
tanpa janji-janji yang membongkar
busuknya
kami memilih di titik hening
sambil menuntaskan teriakkan
yang tertinggal di kotamu

Saat ini kami tidak ingin ceroboh
bahkan pada jalan setapak
menuju gubug tua yang
nyaris roboh
sebab disanalah tersimpan
air mata rahasia
menjadi misteri yang melilit
kepongahan masa depan

Jangan lagi kau usik kami
sebab kami lebih nyaman
di bawah pohon rindang
dengan kaki pincang.

Nb: kalau kalian masih ngeyel saja
mari kita berperkara sebab
bukan dikening manusia lain
kami meludah tapi disinilah.

________
* Puisi ini lahir atas ucapan merendahkan dari ketua DPR Marzuki Ali pada kami TKW.