Di Batas Majas

Hasif Amini
http://majalah.tempointeraktif.com/

Di sudut sebuah simpang tiga yang agak sepi pernah terpasang sebentang spanduk de-ngan kata-kata ini: “Bersama kita memupuk erat tali persaudaraan sebagai bangsa”. Sebuah niat mulia, tentu, di luar soal kelayuan ung-kapan dan kerancuan susun-annya. Saya pun langsung sepakat: pesan yang terkandung dalam seruan itu memang sangat penting-meski mafhum bahwa deretan kata-kata tersebut niscayalah sekadar versi cetak sebuah bualan tingkat tinggi.

Tetap saja, rasanya ada yang tidak beres. Ternyata saya telah terganggu oleh frase “memupuk erat tali persaudaraan” di sana. “Tali persaudaraan” pastilah bukan ungkapan sulit–jika setiap orang yang bersaudara diibaratkan sebagai sehelai serat yang terjalin bersama serat-serat lain membentuk seutas tali yang kuat; atau jika dibayangkan bahwa di antara orang-orang yang bersaudara terentang semacam tali gaib yang menghubungkan mereka. Namun, apa ar-ti-nya, dan apa gunanya, “memupuk … tali”? Bukankah tali tak akan jadi le-bih kuat (apalagi lebih subur) setelah “dipupuk”, yakni diberi pupuk? Dan “memupuk erat”, apa pula artinya itu?

Jangan lupa: konotasi tak pernah lari terlalu jauh dari denotasi. Ketika sebuah kata mendapat tambah-an -makna baru, lazimnya konotasi- itu memiliki pengertian yang tetap berkait-an dengan denotasinya. Kata “pupuk” dan “tali” di atas, contohnya, ketika digunakan sebagai kiasan, tetap tak bisa terlepas sama sekali dari bayanga-n makna denotatifnya. Sebab, memang makna asal itulah yang menjadi semacam “poros” bagi aneka ragam makna tambahan yang terbentuk kemudian, termasuk ketika bertemu dengan kata lain dan melahirkan sebuah kiasan. “Bunga desa”, “bunga bangsa”, “bunga bank”-betapapun ber-bedanya pengertian ketiga metafor itu, tetap ada sifat-sifat bunga dalam arti harfiah yang diam-diam kita bayang-kan melekat pada ketiganya.

***

Suatu siang, di satu gerbong yang tak terlalu sesak, saya membaca sebuah artikel tentang para penumpang atap kereta rel listrik. Sehalaman laporan yang seru dan menarik. Tetapi sebaris ungkapan dalam artikel tersebut sempat membuat saya terkedut: “Tak sampai 20 menit, KRL yang ditunggu sudah menampakkan moncongnya. Serulingnya menyalak saat mendekati gerbang stasiun.” Saya terkesima. Asta-ga: serulingnya menyalak.

Setahu saya, kereta listrik memiliki semacam klakson (dengan bu-nyi nyaring panjang) yang biasa dibunyikan setiap kali kereta mendekati stasiun- atau tempat-tempat yang banyak dilintasi pejalan kaki atau kendaraan berban. “Menyulap” klakson jadi se-ruling adalah sebuah percobaan penuh kenekatan, dan menjadikan seruling itu menyalak jelas sebuah distorsi yang berlebihan. Andaikata ungkapan tersebut muncul dalam sebait puisi surealis, misalnya-yang tak hendak menyampaikan informasi apa pun selain barangkali sengkarut bawah sadar-boleh jadi itu memang “sudah kodratnya”. Adapun dalam sebuah laporan jurnalistik, upaya mencapai “efek puitis” namun kurang kendali semacam itu bisa menyesatkan (bagi pem-baca yang tak akrab dengan hal-ih-wal yang digambarkan), atau hanya meng-herankan, atau se-kadar menggelikan.

Sebuah metafor, jika kita tengok gunanya dalam pemakaian sehari-hari, sebenarnya “bertugas” membantu orang mendekati dan memahami suatu pengertian yang kompleks. Sesuatu yang mestinya memerlukan keterang-an panjang jadi teringkas (dan terlukis) dalam satu-dua citraan benda yang punya kemiripan (sifat maupun bentuk) dengannya, cukup umum dikenal, dan mudah atau enak dibayang-kan. Perihal “umum dikenal, mudah, enak” itu tentu bisa berubah dari waktu ke waktu. Apa yang ganjil atau janggal hari ini mungkin menjadi wajar dan baik-baik saja suatu hari nanti, begitu pun sebaliknya. Maka bukanlah hal aneh jika suatu peni-laian tentang ke-tepatan dan kemantapan suatu majas (termasuk penilaian dalam tulisan ini) suatu ketika mendapat sanggahan atau koreksi, dan koreksi atau sanggah-an itu barangkali kelak akan mengala-mi pembalikan lagi, dan seterusnya.

***

Tapi apa boleh buat: selama kita hendak mengadakan komunikasi de-ngan orang lain melalui bahasa, setidaknya sampai hari ini, soal kejelasan dan kepaduan ungkapan tampaknya masih penting. Lain perkara jika seorang penulis atau pelisan meng-anggap pembaca atau pendengarnya sebagai “musuh” yang perlu dibikin bingung, pusing, dan muntah, sebelum pada akhirnya menyerah.

14 Agustus 2006