Obituari: Ong Hok Ham Sahabatku

Myra Sidharta*
Kompas, 07 Okt 2007

KETIKA saya kenal Ong Hok Ham kira-kira 30 tahun yang lalu, dia tinggal di sebuah rumah BTN di Bekasi. Untuk mencapai rumahnya dia harus menempuh tiga bus dan dari halte bus terakhir dia masih harus naik ojek ke rumahnya. Sering kali dia datang makan dan dalam hal itu dapat bertanding dengan suami saya yang juga sama kuat makan. Mereka bicara mengenai keadaan politik atau mengenai sejarah sehingga suasana menjadi akrab.

Pada suatu saat dia lama tidak datang. Ternyata dia sering ke Jawa Tengah untuk mencari barang antik untuk menghiasi rumah barunya yang sedang ia bangun. Rumah ini dirancang oleh Hendro Sumardjan, putra Prof Selo Sumardjan, yang mengenal baik sama Ong dan mengerti bahwa dia inginkan sebuah rumah yang lain daripada yang lain.

Entah apa rumah ini memang lain daripada yang lain, atau karena fengshuinya bagus, tetapi setelah selesai kehidupan Ong berubah total. Bahkan dapat dikatakan, ia memasuki puncak kehidupannya. Dia dapat sesukanya menjamu tamu-tamunya, yang datang dari seluruh pelosok dunia. Sering kali saya pun turut diundang, sehingga saya pernah bertemu dengan banyak kaum cendekiawan Indonesia, seperti Gus Dur, Umar Kayam, Tunggul Siagian, istrinya Milly dan saudaranya Sabam, Harry Tjan Silalahi, dan seterusnya, dengan anggota-anggota korps diplomatik asing seperti dari Meksiko, Jerman, Spanyol, dan ahli sejarah sedunia seperti Ruth Mc Vey, Heather Sutherland, Adriaan Lapian, Rickleffs, Leonard Blusse, Ben Anderson, dan banyak lagi.

Mereka datang untuk menikmati makanan yang Ong persiapkan dengan baik. Bahan-bahan dia telah kumpulkan dari seluruh pelosok Jakarta. Ikan bandeng dia beli dari Glodok, dim-sum dari Petak Sembilan, mi dari pasar basah Senen, yang juga suplier bakso dagingnya dan lain bahan untuk resep mi. Tidak ada tempat yang terlalu jauh atau sulit terjangkau bagi Ong yang menempuh seluruh perjalanan itu dengan kendaraan umum.

Puncak semua jamuan adalah ulang tahunnya yang jatuh pada 1 Mei, tetapi biasanya dirayakan pada akhir pekan sesudah tanggal tersebut. Pada hari itu banyak teman membantunya masak atau membawa makanan. Dari teman-teman di Tangerang, dia biasanya dapat babi panggang. Dari salah satu pemilik gerai Bakmi Gajah Mada, dia dapat mi goreng, yang selalu merupakan syarat untuk ulang tahun. Kue ulang tahun berasal dari temannya, William Wongso, pemilik Vineth Bakery. Yang tidak membawa makanan dapat membawa bunga atau anggur. Pada kesempatan itu Ong memakai pakaian batik yang dijahit oleh Peter Sie dan sering kali batiknya dihadiahi oleh Ardiyanto dari Yogyakarta.

Pernah ada lima duta besar menjadi tamu di perayaan ulang tahunnya. Mereka ada yang duduk di lantai karena tempat duduk tidak cukup meskipun makanan berlimpah. Ketika acara potong kue dimulai, seperti biasa dipimpin oleh Peter Sie, tidak ada yang menyangka bahwa tidak ada piring atau tisu disediakan. Apa daya? Peter menyuruh semua tamu berbaris di depannya dan semua dapat sepotong di tangannya.

Sering kali Ong dengan bangga memperlihatkan benda antik yang baru saja dia peroleh entah dari mana, dari sahabatnya, Jacob Vredenbregt, atau ketika ia pulang dari Pontianak dan membawa beberapa piring cantik. Kalau ia mampir di Malang, tempat tinggal kakak perempuan Olga, dia selalu membawa barang kristal atau perak dari keluarganya.

Pernah juga dia dapat sebotol minuman keras bermerek Armagnac. Dia berpesan agar minuman itu disimpan untuk saat-saat terakhir kalau ia menghadap Sang Pencipta. Tentu pemberitahuan itu menjadi lelucon terlaris di antara kami semua.

Ong selalu menikmati hidup seolah-olah tidak ada yang serius yang dipikirkan. Namun, saya pernah dapat kesempatan melihat Ong termenung dan memikirkan masa depannya. Saat itu adalah pada waktu suami saya terbaring di rumah sakit karena stroke. Ong datang menjenguk dan selama beberapa jam dia duduk dan tidak bicara. Baru ketika saya bertanya apa yang ia pikirkan, ia menjawab sambil menunjuk ke suami saya: “Dia orang yang beruntung, dia punya istri untuk merawatnya.”

“Ya Ong, untukmu kesempatan sudah lewat, kau telah terlalu tua untuk mengambil istri. Tetapi kau mempunyai pembantu-pembantu yang setia, yang akan merawatmu kelak.” Ia tidak menjawab, hanya menggeleng-geleng kepala saja. Kebetulan ada sebuah sekolah Buddhis yang menawarkan kepadanya untuk menjadi direktur sekolah mereka di Tangerang. Ia segera menerima tawaran tersebut karena, menurut dia, mereka pasti akan merawatnya di hari tua.

Selama tujuh tahun dia masih menikmati hidup penuh kebahagiaan dan kebebasan itu. Temannya dari kelompok Tangerang turut memberikan kesenangan kepadanya dengan persahabatan mereka.

Pada suatu hari saya ditelepon bahwa Ong terbaring di Rumah Sakit Panti Rapih di Yogya. Dia berada di Yogya untuk turut serta dalam seminar yang diadakan untuk menghormati hari ulang tahun ke-80 Prof Dr Sartono, tetapi dapat stroke di rumah Ardiyanto. Belakangan saya dengar bahwa ketika Pak Adri Lapian menjenguknya, dia menyuruh beliau mengambil kertas dan pulpen serta seluruh isi rumahnya dibagikan kepada teman-temannya sebagai warisan. Kita tidak tahu apa saja yang ada dalam daftar itu, kecuali satu, yaitu bandeng super yang baru saja dia beli untuk merayakan Imlek diwariskan kepada Ibu Kartini Mulyadi!

Ketika esok hari anak buahnya tiba di rumah sakit, dia membuat mereka sedih dengan bertanya: Mana Armagnac saya, kenapa tidak dibawa?

Cukup lama Ong berada di rumah sakit dan kondisinya itu menjadi titik balik kehidupannya. Operasi tenggorokan untuk memperlancar pernapasan ternyata malahan mengganggunya pada saat menelan makanan. Banyak teman khusus datang ke Yogya untuk menjenguknya. Ketika tidak dapat bicara selama luka operasi belum sembuh, Ong berkomunikasi dengan menulis jawaban atau pertanyaannya di atas kertas. Dia penuh harapan bahwa dia akan segera sembuh dan rajin melatih dengan fisioterapisnya.

Ketika kembali di rumah, dia menghadapi segala masalah, terutama masalah transportasi. Namun, hal ini dapat segera diatasi berkat bantuan keponakannya dan teman-teman setia, tidak ketinggalan tentu juga “kelompok Tangerang”. Bagaimanapun juga, Ong harus menyesuaikan diri dengan gaya hidup baru, yang berarti banyak pembatasan dari kehidupannya yang lama.

Tidak ada lagi minuman keras, hanya sedikit wine. Tetapi Ong pun banyak akalnya. Kalau ia datang ke resepsi perwakilan asing, dia bisa menambah jatahnya. Dan kalau ada yang datang untuk menyalaminya dengan membawa segelas wine yang sedang mereka minum, dia mengulurkan tangan bukan untuk membalas salaman mereka, melainkan untuk mengambil gelas yang ada di tangan mereka untuk kemudian dihabiskan sendiri.

Jamuan makan di rumah berkurang karena tanpa masakan dari Ong sendiri, suasana menjadi lain. Kadang-kadang Jacob Vredenbregt datang dengan makanan favoritnya, yaitu roti baguette yang panjang dengan paté hati angsa. Saya juga pernah pergi bersama Leonard Blusse dan Claudine Salmon dengan makanan yang sama. Ong sangat menikmati makanan dari sahabat-sahabatnya itu, tetapi yang paling penting baginya tentu adalah anggurnya.

Pada suatu sore hari kelelahan telah melebihi yang biasa, seperti sebuah lilin yang sudah lama berkedap-kedip karena sumbunya ataupun lilinnya sudah habis, kehidupan Ong pun telah padam. Kami sahabat-sahabatnya ditinggal untuk selamanya.

Tetapi sebelum pergi, dia telah meninggalkan sepucuk surat berisikan suatu daftar panjang dengan nama-nama sahabatnya dengan benda-benda yang ia mau mewariskan kepada mereka. Yang satu dapat lukisan, yang lain dapat sebuah guci, dan sebagian dapat sejumlah uang. Dan untuk saya, dia telah tinggalkan dua piring antik besar serta dua ukiran terakota. Dia masih ingat apa yang saya inginkan dan apa yang pantas untuk dipajang di rumah saya.

Tidak ada kata-kata yang dapat saya ucapkan kepada sahabatku yang berbudi luhur, kecuali: terima kasih Ong, atas nama semua sahabat dan kerabat yang telah mengalami kebajikanmu, saya mengucapkan terima kasih sedalam-dalamnya.

* Myra Sidharta, psikolog, ahli sastra Tionghoa
Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2007/10/obituari-ong-hok-ham-sahabatku.html