Sastra Jawa yang ‘Nges’

Anjrah Lelono Broto *

Masyarakat Jawa telah lazim menempatkan sastra sebagai produk seni yang terangkai dalam indahnya tata bahasa, diksi, serta rima. Tidaklah mengherankan apabila sastra Jawa yang masuk dalam kategori ‘klasik’, tidak hanya menempatkan isi sebagai unsur yang dominan, tetapi juga apiknya tata bahasa, diksi, serta rima. Produk seni sastra yang memenuhi standar tersebut di atas layak menyandang predikat sebagai karya yang ‘nges’ (meminjam istilah Herry Lamongan). Continue reading “Sastra Jawa yang ‘Nges’”

Akhmatova

Hasif Amini
Kompas, 18 Juni 2006

Anna Andreevna Gorenko lahir di Odessa, Ukraina, tahun 1889. Tak lama kemudian orangtuanya pindah ke sebuah wilayah bernama Tsarskoe Selo (Kampung Tsar), tempat berlibur keluarga kerajaan di pinggiran kota St Petersburg. Di sana ia tumbuh menjadi seorang gadis manis yang pendiam, dan suka menulis puisi diam-diam. Pada suatu hari, di usia 17, ia berniat menyiarkan karyanya di sebuah majalah yang terbit di St Petersburg. Ayahnya mendengar kabar itu, memanggilnya, dan seraya menegaskan bahwa ia tak melarang anaknya menulis puisi, meminta Anna agar tak menggunakan nama keluarganya yang terhormat. Continue reading “Akhmatova”

Mudik dan Balik dalam Sajak

Asarpin *

Saya memandang sebuah foto yang tak terlampau bagus, namun kena untuk tema yang kita bicarakan di sini: tentang mudik dan balik, atau rumah dan pulang dalam sajak. Dua orang sedang melintas rel kereta sambil menenteng sebuah koper, tepat ketika kedua orang itu sedang berada di lintasan rel. Di kiri kanan rel dengan warna hitam pekat itu, tampak kerumunan orang yang berdesakan menunggu kereta tiba. Foto hitam putih itu memang tak dimaksudkan sebagai teror mental, tapi lebih sebagai foto realis yang menyuguhkan tempat atau rumah bagi seorang penyair. Continue reading “Mudik dan Balik dalam Sajak”

Bahasa »