Misteri Syahrazad dan Matinya Para Pendongeng

Faisal Kamandobat
senimana.com

PADA malam kelabu di masa kanak-kanak, ketika hantu-hantu dalam khayalan kita bermain layaknya badut-badut yang menyeramkan, kita sering meminta bantuan ibu kita untuk mengusir hantu-hantu itu. Ibu kita tak akan mengmbil tindakan gila dengan memberi anaknya sebuah kapak, tetapi memberi kata-kata yang disusun dalam dongeng yang penuh jebakan. Hantu-hantu itu pun lari terbirit-birit, takut pada kata-kata ibu kita; kata-kata murni yang menyimpan tenaga luar biasa, nyaris sama dahsyatnya dengan bom atom bikinan ilmuwan eksentrik yang beruntung. Continue reading “Misteri Syahrazad dan Matinya Para Pendongeng”

Pengantar singkat wacana post strukturalisme dalam kesusasteraan

Diposting: Paox Iben
http://senimana.com/

Strukturalisme dibangun atas prinsip Saussure* bahwa bahasa sebagai sebuah sistem tanda harus dilihat ke dalam tahapan tunggal sementara (single temporal plane). Aspek diakronis bahasa, yakni bagaimana bahasa berkembang dan berubah dari masa ke masa, dilihat sebagai bagian yang kurang penting. Dalam pemikiran post strukturalis, berpikir sementara menjadi hal yang utama. Continue reading “Pengantar singkat wacana post strukturalisme dalam kesusasteraan”

ZAPATISTA, Revolusi Simbolik dari Hutan Lacandona

Dian Yanuardy
senimana.com

1 Januari 1994. Selang beberapa menit setelah perayaan tahun Baru, sekelompok orang yang memakai balaklava menembus rimba raya Lacandona. Memanggul senjata seadanya, orang-orang ini menduduki San Cristobal de la Casas, ibukota negara bagian Chiapas, sebelah tenggara Meksiko, dan secara resmi mengumumkan pemberontakan. Sepanjang perjalanan, mereka menyebarkan komunike-komunike yang dimuat di seluruh media massa Meksiko, dan lantas tersebar melalui jaringan internet ke seantero dunia. Continue reading “ZAPATISTA, Revolusi Simbolik dari Hutan Lacandona”

KRETEK SEBAGAI KRITIK KEBUDAYAAN

Waskiti G Sasongko
http://senimana.com/

3 Juni 1953, Agus Salim dan Sri Paku Alam beserta rombongan duta besar Indonesia mendapat tugas dari Soekarno untuk menghadiri upacara penobatan Ratu Elizabeth II. Di tengah-tengah jamuan serimoni agung tersebut Agus Salim menyalakan sebatang kreteknya, menghisapnya dalam-dalam dan menghembuskan keluar kuat-kuat. Pangeran Duke of Endiburgh, sang suami Ratu Elizabeth itu, tampak tidak senang menoleh ke kiri dan ke kanan sembari bertanya-tanya pada hadirin, dari mana bau tidak sedap itu datang? Continue reading “KRETEK SEBAGAI KRITIK KEBUDAYAAN”

Bahasa ยป