Pluralisme: Hidup Damai Milik Dawam Rahardjo

Isyana Artharini
Media Indonesia, 6 Mei 2007

PADA perayaan ulang tahun ke-65, Dawam Rahardjo keluar dari ruang kesepiannya setelah teman-teman lama menjauhinya. Mengenakan peci hitam dan setelan jas abu-abu, ia menyambangi teman-teman barunya.

Ulang tahun Dawam dirayakan bersamaan dengan peluncuran buku berjudul Demi Toleransi, Demi Pluralisme, di aula Nurcholish Madjid, Universitas Paramadina, Jakarta, Jumat (4/5) malam.

”Ternyata teman saya masih banyak, karena akhir-akhir ini saya merasa ditinggalkan oleh teman-teman lama saya,” kata Dawam di sela perayaan ulang tahunnya.

Buku sebagai hadiah ulang tahun telah diedit oleh kawan-kawannya, Ihsan Ali-Fauzi, Syafiq Hasyimm, dan JH Lamardy. Buku itu memberi kesan bahwa para kolega dan sahabatnya masih setia dengan pemikiran dan gerak aktivitas, serta esai-esai Dawam.

Keistimewaan buku itu ditulis oleh 31 orang, antara lain Ahmad Syafii Maarif, BJ Habibie, Siti Musdah Mulia, Franz Magnis Suseno, Komaruddin Hidayat, Didik J Rachbini, Nono Anwar Makarim, dan Daniel Dhakidae.

Ada yang istimewa bagi mantan Rektor Unisma Bekasi kelahiran Kampung Baluwarti, Solo, 20 April 1942, dalam pesta ulang tahunnya itu. Malam itu ikut hadir juga teman-teman ‘terbaru’ Dawam, dari Komunitas Eden. Komunitas itu melalui salah seorang juru bicaranya menyatakan hanya Dawam satu-satunya orang yang bersedia dialog dan bertanya tentang kepercayaan mereka.

Dawam pun ikut terlibat dalam diskusi-diskusi panjang untuk mencoba memahami ajaran Eden. Ia juga menyerukan untuk membela Ahmadiyah, sebuah sikap yang berseberangan dengan kawan-kawannya.

”Semua itu atas nama toleransi dan pluralisme. Saya tidak peduli dikatakan orang. Dibilang Komunitas Eden, enggak apa-apa. Ahmadiyah, enggak apa-apa. NU juga enggak apa-apa. Asal jangan bilang saya Muhammadiyah,” kata Dawam disambut tawa hadirin.

Pluralisme, baginya, menjadi sebuah jalan menuju kedamaian. Ia mengaku, saat menjadi seorang yang belum toleran, ia harus terus-menerus membenci dan menolak segala sesuatunya yang berbeda darinya. Ia harus terus penuh dengan rasa marah. ”Tapi sekarang saya dapat kasih sayang lebih banyak. Ancaman yang saya terima malah berkurang,” katanya lagi.

Toleransi, juga menjadi kata kunci menuju kedamaian. Namun baginya yang lebih penting lagi adalah kunci menuju kemajuan. Tanpa toleransi, tidak mungkin Islam akan menjadi maju. ”Toleransi tidak berarti lemah. Saya malah lebih bisa memahami akidah saya dengan lebih baik,” ujar Dawam.

Dawam yakin kebenaran ada di mana-mana. Kebenaran bisa ditemukan di berbagai kitab suci. Ia pun pernah memberikan nasihat kepada Rektor Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Azyumardi Azra tentang toleransi. ”Seseorang tidak akan bisa menjadi intelektual sempurna jika ia masih apriori dengan marxisme.”

Teman-temannya yang hadir seperti Utomo Dananjaya, Daniel Dhakidae, Siti Musdah Mulia, dan M Syafi’i Anwar pun memuji langkah intelektual Dawam yang berani menunjukkan jati dirinya.

Mereka menilai Dawam sebagai seorang intelektual yang telah melakukan pembelaan bagi rakyat dan mengedepankan keadilan. Direktur International Center for Islam and Pluralism (ICIP) Jakarta M Syafi’i Anwar menambahkan mengutip pendapat Bung Hatta, intelektual harus memiliki kepribadian moral, kepedulian sosial, dan melakukan pembelaan terhadap rakyat.

”Beliau telah memenuhi persyaratan itu dengan menunjukkan identitas dan jati dirinya saat melakukan pembelaan terhadap kelompok-kelompok yang dipinggirkan.”

Selamat ulang tahun Pak Dawam.

Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2007/05/pluralisme-hidup-damai-milik-dawam.html