Puisi-Puisi Syifa Aulia

Sepotong doa untuk kepala yang dipenggal paksa

Darah kembali bersimbah
di Bumi para Nabi
mengalirkan sungai
disudut mata Bunda Pertiwi
BMI berduka lagi.

Bersama hukum pancung
seluruh asa pun terpasung
setulus doa terpanjat
serupa kidung agung
menghantar ketempatmu
yang abadi dan terlindung.

Hai Rembulan
belikan kami telpon genggam
untuk menghubungi Tuhan
bikin perjanjian, bahwa
hidup bukan hanya milik
tuan-tuan berseragam safari
di gedung dewan perwakilan.

Sebab rancangan undang-undang
yang kesekian
nama-nama kami tidak
disebutkan sebagai anak
Negara
yang satu tumpah
air mata darah.

20-6-2011
(puisi untuk ibu Ruyati BMI/TKW yang dihukum pancung di Arab Saudi)

Aku Kau dan Jarak

Jarak ini bentangan waktu,
sayang
pulau-pulau yang bakal
kita lewati adalah
sejumput harapan
tentang rumah, juga
pepohonan yang melilitnya
laut-laut tumpah di matamu,
bahwa kita kehilangan
dayung
hanya layar mengantar
sampai ke Negeri siapa
kita sasar.

Kita bukan orang tepian
sayang
kita pernah jadi
nahkoda pada kapal
sendiri
gagahi lautan, tunjuk
bintang, tak kenal
labuhan
juga menyelam pada
karang-karang.

Garis tangan kita adalah
garis khatulistiwa
maka musim tak akan
berpihak
sebelum kita temukan
alamat
pada peta tak bernama.

03-Sep-11

Berproses

Tidak mudah untuk sampai
pada titik ini
dimana mata tumpah
di ujung telapak kaki sendiri
mencandui kebengisanmu
yang selalunya
membuatku makin tak terlihat
oleh mata sekalipun.

Jika mencintaimu adalah
kesalahan
biarlah terus menjadi salah
tak harus menjadi benar
untuk membenarkan
segala salah
dan menciptakan surga
sebagai bentuk kelit
dari setiap masalah
sebab dalam diam aku menang.

Tak perlu kutanyakan lagi
mengapa cinta dan harapan
lahir seluruhnya padamu
takkan kubiarkan
diriku menjadi keparat
untuk memilikimu.

23-7-2011

Mamoar Rindu

Aku enyahkan rindu itu
yang melubangi tubuhku
bagai bongkah-bongkah harap
tertelan gelombang pasang.

Aku bukan dewi
yang bisa kau puji
dan sesekali kau bohongi.

Aku butuh persembahan
paling naif
dari angka-angka
yang tak sempat diperhitungkan
dan jalan pulang
sudah terlanjur bercabang
ketika singgahmu tertunda.

Tak kuberi makna padanya
hanya senja yang sesekali
mengirim gerimis
bagi pualamku
atas namamu.

14-3-2011

Senja

Di hening yang sempurna
mencipta bening
direlung sukma
kutatap senja di bentang
cakrawala
dalam arakan mega
kembali berpulang kepelukan malam gulita
membiarkan Matahari
menjadi piatu karenanya

dan
aku masih saja di sini
mencumbui kata yang tak
sempat tereja
hingga karatan makna
sebab ada rengkah kaca
menghalang raga
untuk meraba warna
menjelma sulur jiwa
tapi masih ada tangan-tangan rapuh
yang akan senantiasa merapal doa.

26-8 -2011