Sekala, Siger, Borobudur (I)

Henry Susanto
http://www.lampungpost.com/

Mungkinlah Sekala adalah Sriwijaya? Mungkinkah Siger replika Borobudur? Mungkinkah Siger mahkota Pramodya Wardani? Bagaimanakah kemungkinan sejarahnya?

KISAH ini dimulai dari sejarah migrasi orang-orang dari negeri Hindustan (India) menyebar ke Nusantara yang terjadi ketika meletus perang besar Hindu-Buddha di daerah tersebut pada sekitar 100 tahun SM. Perang itu diabadikan dalam cerita sastra India yang sangat terkenal, yaitu Maha Bharata. Kekuatan Hindu yang berhasil menguasai kekuatan politik dan militer di India saat itu berhasil mendesak kekuatan Buddha hingga menyingkir ke ujung selatan India. Perburuan orang-orang Buddha ke India Selatan terus berlanjut dilakukan pasukan Hindu, maka terjadilah eksodus besar-besaran orang-orang Buddha ke luar India mengarungi samudera yang sekarang ini dikenal dengan sebagai Samudera Hindia.

Tempat pendaratan pelarian orang-orang Buddha dari India tersebut, terutama adalah pesisir selatan Pulau Jawa Dwipa (Jawa) dan pesisir barat Pulau Swarna Dwipa (Sumatera), yaitu pada tempat-tempat yang mempunyai garis pantai landai. Hal ini sejalan dengan teori yang menyatakan bahwa Hindu sebagai religi memang lebih dulu ada daripada Buddha, tetapi pengaruh kebudayaan India yang pertama kali masuk ke Nusantara adalah Buddha.

Daerah di Pulau Jawa yang dipergunakan sebagai tempat pendaratan pelarian orang-orang Buddha dari India adalah daerah Jawa Barat dan Yogyakarta. Enclave (daerah kantong) Buddha mulai bermunculan di Jawa. Pada masa itu Pulau Jawa terkenal sebagai Pulau Api yang berbahaya karena banyak terdapat gunung berapi di dalamnya, sehingga banyak dihindari orang dari daerah luar untuk tidak menyinggahi maupun mendatanginya ketika berlayar. Dampaknya, keberadaan orang-orang Buddha di tanah Jawa nyaris tanpa gangguan apa pun dari luar Jawa.

Daerah-daerah pendaratan di Pulau Sumatera, antara lain Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Lampung. Para pelarian di Pulau Sumatera ini setelah mampu menciptakan keamanan bagi mereka dengan terlebih dahulu meniadakan (menaklukkan) gangguan-gangguan keamanan dari orang-orang asli Sumatera (orang Tumi), membentuk enclave-enclave bercorak Buddhis di pesisir barat Pulau Sumatera.

‘Enclave’ Lampung

Kemungkinan besar enclave Buddhis pertama di Lampung adalah berada di daerah Sekala (banyak terdapat pohon sekala, yaitu seperti lengkuas tetapi besar-besar). Para migran dari India yang mendarat di pesisir barat Lampung kemudian bergerak ke pedalaman pegunungan Lampung bagian barat hingga sampailah mereka di daerah Sekala dalam rangka mencari daerah tempat tinggal yang datar, subur, dan aman terhindar dari kemungkinan kejaran orang-orang Hindu dari India.

Berawal dari daerah Sekala inilah selanjutnya para migran Buddhis dari India tersebut kemudian menjelajah dan menyebar ke daerah-daerah yang ada di Lampung. Tidaklah mengherankan di masa sekarang, apabila orang membicarakan tentang asal-usul orang Lampung selalu mengacu ke arah daerah Sekala, dan di Sekala inilah ditemukan situs Batu Brak (batu-batuan yang lebar dan besar bekas permukiman).

Sebutan kata Lampung itu sendiri berasal dari kata selopun yang maksudnya adalah selo atau duduk bersila, dan puun yang artinya dimuliakan. Daerah Sekala dan sekitarnya yang kemudian menjadi tempat mukim menetap bagi orang-orang Buddhis migran dari India dipimpin oleh pendeta-pendeta Buddhis yang dimuliakan yang mempunyai kebiasaan duduk meditasi bersila (ciri khas posisi duduk atau mudra Buddha). Oleh sebab itu, daerah bagian selatan dari Pulau Swarna Dwipa (Sumatera) kemudian dikenal dengan nama Selopun atau tempat orang mulia yang duduk bersila. Kata Selopun lama-kelamaan sering diucapkan orang pada masa itu secara cepat dengan ucapan “Lo-pun” untuk menunjuk nama daerah kekuasaan Kerajaan Sekala di bagian selatan dari Pulau Swarna Dwipa (Sumatera). Pada masa sekarang ini, daerah bagian selatan dari Pulau Swarna Dwipa (Sumatera) dikenal dengan nama Lampung.

Pada abad ke-6 seorang musafir Tionghoa I-Tsing pernah singgah di Selopun (Lampung). Musafir I-Tsing ini menyebut Selopun dengan nama Tola P’ohwang. Sebutan Tola P’ohwang diambilnya dari kata Selopun yang diucapkan secara per-ejaan suku kata hingga menjadi So-la-po-un. Berhubung I-Tsing adalah orang China yang ucapan di lidahnya tidak dapat menyebutkan kata “Se” maka diejanya dengan bunyi “To”. Kata Selapon diejanya menjadi To-la- P’o-hwang (maksudnya Se-Lo-Po-Un).

Musafir I-Tsing masuk dan singgah ke Selopun berlayar dari China melalui Laut Jawa, dan mendarat berlabuh pada sebuah kota pemukiman berupa kota bandar perdagangan yang berada di muara sungai besar di pantai sebelah timur dari Selopun. I-Tsing menyebut daerah tempat itu sebagai To-la- P’o-hwang (tentu maksudnya adalah Selopun atau Lampung sekarang). Daerah tempat mendarat dan sungai besar tempat berlabuh kapal yang membawanya dari negeri China hingga sekarang dikenal dengan nama To-la- P’o-hwang (Tulangbawang).

Aksara Lampung yaitu aksara Ka-ga-nga mempunyai huruf induk berjumlah 20 yang berasal dari huruf Pallawa dari daerah di India Selatan. Aksara Ka-ga-nga ini, di kemudian hari setelah Lampung mendapat pengaruh agama dan budaya Islam, dikenal dengan sebutan Had Lampung. Penulisan fonetik-nya menjadi berjenis suku kata yang merupakan huruf hidup sebagaimana penulisan fonetik dalam Huruf Arab, dengan mempergunakan tanda vokal menyerupai fathah di baris atas dan tanda menyerupai kasrah di baris bawah tapi tidak menggunakan tanda dommah di baris depan melainkan menggunakan tanda di belakang, yang masing-masing tanda mempunyai nama tersendiri.

Dapatlah dikatakan bahwa masyarakat Lampung sebelum adanya pengaruh agama dan budaya Islam adalah mempergunakan huruf Pallawa dan berbahasa Sanskerta. Masyarakat Lampung setelah masuknya pengaruh agama dan budaya Islam mulai mempergunakan aksara Kaganga (dikenal dengan Had Lampung) yang berupakan perpaduan huruf Pallawa dan huruf Arab, dan berbahasa Lampung yang merupakan perpaduan dari bahasa Sanskerta, Arab, dan Melayu.

Prahara Pikatan

Kondisi Pulau Jawa yang subur karena terdapat banyak gunung berapi dan cenderung dihindari orang dari luar, merupakan tempat yang strategis untuk pelarian dan mengembangkan kehidupan ekonomi, sosial, budaya, maupun politik bagi orang-orang Buddha pelarian dari India. Migrasi pelarian orang-orang Buddha dari India ke Pulau Jawa makin intensif pada 100 tahun SM, ketika India dipimpin Raja Harsya (Hindu) dengan ketenarannya dalam sejarah India sebagai Beludru Berlumur Darah karena menerapkan hukum bakar hidup-hidup pada para pengikut maupun pendeta Buddha yang tertangkap.

Sejalan dengan semakin berkembangnya kehidupan sosial, ekonomi, budaya, dan politik di Pulau Jawa, pada abad ke 3 Masehi munculah kerajaan bercorak Buddhis pertama di Jawa, yaitu Kerajaan Mataram Kuno yang didirikan oleh Sanaha sebagai pendiri Dinasti Sanjaya di tanah Jawa. Pada masa tersebut, bertepatan dengan berakhirnya peperangan antara Hindu dan Buddha di India. Masyarakat Hindu dan Buddha mulai dapat hidup tenang berdampingan di India. Hubungan persahabatan dan perdagangan antara India dan Mataram Kuno mulai terjalin. Hal tersebut juga berdampak pada masuk dan berkembangnya juga masyarakat dan kebudayaan Hindu dari India di Mataram kuno (Jawa), yang hidup damai berdampingan dengan masyarakat maupun budaya Buddha di bawah pemerintahan Dinasti Sanjaya.

Henry Susanto, Dosen Pendidikan Sejarah FKIP Unila