Seruan Foucault

Bandung Mawardi *
http://www.seputar-indonesia.com/

Filsafat abad XX mewarisi mozaik pikiran ganjil dan radikal ala Michel Foucault (1926–1984). Tokoh ini mengantar suguhansuguhan filsafat impresif,mendulang gagasan aneh, dan mengucap dalam bahasa pekat.

Foucault membeberkan pelbagai ihwal lakon peradaban abad XX mengacu babakbabak historis.Konon, semua gagasan itu bermula dari pandangan sejarah ala Foucault. Sejarah itu selalu berupa genealogi dan intervensi. Perubahan adalah niscaya dalam ranah pengetahuan dan model pemahaman. Arus pemikiran Foucault jadi menu signifikan untuk gairah filsafat mutakhir.

Sekian buku produksi Foucault: Madness and Civiliztion: A History of Insanity in the Age Reason,The Birth of the Clinic: An Archaeology of Medical Perception,The Order of Things: An Archaelogy of the Guman Sciences,The Archaelogy of Knowledge, Disiplin and Punish,dan The History of Sexuality.

Sekian buku ini mengguncang filsafat abad XX. Ikhtiar membaca dan menafsirkan pokok-pokok filsafat Foucault terus berlangsung sampai abad XXI.Pembacaan tak pernah rampung, eksplanasi tak pernah selesai,dan pemahaman selalu tak utuh. Publikasi buku berjudul Agama, Seksualitas,Kebudayaan ini jadi menu pelengkap atas buku-buku moncer Foucault. Pengumpulan serpihan gagasan jadi mengejutkan tatkala ditautkan dengan konstruksi gagasan-gagasan besar di zaman mutakhir.

Foucault dalam jangkauan sejarah agama abad XV dan XVI menemukan ada sikap penolakan umat terhadap iblis. Kalangan pemegang otoritas agama Kristen seru mendebatkan keberadaan dan bentuk penampakan iblis.Perdebatan berurusan dengan iman, gereja, dan nasib peradaban.Tema iblis ini mengandung sengketa kebenaran dan pemaknaan dosa. Foucault menganggap babak sejarah itu sebagai “perdebatan pelik tentang jenis kebenaran ilusi.”

Pengalaman beragama dan tafsir agama rentan dengan seteru mengandung ilusi. Klaim-klaim kebenaran agama jadi rapuh dan ringkih. Foucault juga menjelaskan makna agama dalam relasi seks, tubuh, dan dosa.Ajaran seksualitas dalam kitab suci kadang mengaburkan prosedur pemaknaan spiritualitas. Konsep tubuh dalam dosa, sinisme atas seksualitas, dan kuasa dosa tebarkan ketakutan- trauma berkepanjangan.

Penegatifan ini justru mengalpakan manusia dari kehendak mengarahkan diri menuju cinta ilahi.Tabu, larangan,dan mitos mengakibatkan laku seksualitas identik dosa: menjauhi orbit agama. Sejarah kelam pemikiran seksualitas ini direcoki Foucault melalui pembukaan selubung rasionalitas dan imajinasi. Erotisme dalam sejarah peradaban Eropa identik dengan peremehan dan stigma.

Foucault malah mengundang orang merefleksikan seksualitas sebagai basis kebudayaan. Seruan ini melampaui kegenitan filsafat erotisme dan pengekangan politik seksual. Bahasa menjadi medium ungkap kritis: mengurai dan mengalami seksualitas. Bahasa adalah undangan filosofis. Foucault menganggap kemunculan seksualitas dalam peradaban modern adalah “peristiwa” bergelimang nilai: terang dan samar.

Pandangan ini berkenaan kematian Tuhan dan kehampaan ontologis di batas pemikiran manusia. Pembungkaman sistematis atas diskursus seksualitas mirip represi kehendak untuk manusia memeriksa diri dan merasai sakralitas seksualitas. Konsekuensi telak adalah bahasa “dierotiskan” selama hampir dua abad (XIX dan XX). Semesta bahasa menyerap, mengubah,dan menempatkan seksualitas dalam kekosongan tanpa daulat manusia.

Seksualitas sebagai persoalan fundamental mendapati godaan dan pengukuhan. Kontradiksi dalam diskursus seksualitas selalu ada tanpa keterselesaian tafsiran. Foucault telaten sebarkan seruan filsafat seksualitas dalam agenda agama dan peradaban modern. Seni erotis di Barat dianggap Foucault sesak ilusi dan paradoks. Seni erotis justru membuat orang tidak belajar bercinta, tidak belajar mencurahkan diri untuk kenikmatan, tidak belajar memproduksi kenikmatan melalui orang lain, atau tidak belajar mengintensifkan-memaksimalkan kenikmatan.

Seni erotis memang memberi tendensi kemunculan ilmu seksual tapi rentan kabur oleh dominasi pemikiran- pemikiran formalistik. Masyarakat Eropa menggandrungi ilmu seksual selama sekian abad. Kebenaran seksualitas cenderung dijadikan substansi agenda ilmu seksual ketimbang prosedur memperoleh intensitas kenikmatan.Corak ini memengaruhi pandangan dunia untuk pembentukan masyarakat modern di Eropa. Seksualitas adalah basis peradaban sekaligus aib untuk kerapuhan sistem filsafat Eropa.?

25 September 2011
Bandung Mawardi, Pengelola Jagat Abjad Solo