Aku Menanam Pohon

Heru Hikayat*
Pikiran Rakyat, 20 Sep 2008

DI Gedung Indonesia Menggugat (GIM) Bandung, pada 5-21 September 2008, ada pameran “Bandung Kotaku Hijau”. GIM merupakan gedung besar tua dengan arsitektur gaya kolonial. Memasuki ruangan GIM anda akan terkondisi: ini gedung bersejarah. Di ruang depan segera setelah pintu masuk, ada foto-foto lama dari Bung Karno dan tokoh-tokoh lain yang pernah diadili pengadilan pemerintah kolonial Belanda di gedung tersebut. Gedung itu memang sangat dihubungkan dengan Bung Karno hingga tanda larangan merokok di dalam ruangan ditambahi keterangan “karena Bung Karno pun tidak pernah merokok di ruangan ini”. Namun di ruangan itu, Anda tidak akan mendapat petunjuk apa pun mengenai kegiatan macam apakah “Bandung Kotaku Hijau” itu, selain jajaran sejumlah bibit pohon yang samar-samar memberi petunjuk, o mungkin ini menyangkut kegiatan menanam pohon.

Memasuki ruangan berikutnya ada pajangan foto-foto di dinding dan manekin torso memamerkan rancangan busana. Tulisan ini hanya akan mengulas materi pameran foto. Ada beberapa foto mengenai kegiatan komunitas pesepeda dengan moto “Bike to Work”. Foto-foto ini, bagi saya, mendedahkan persoalan orang kota: tak cukup Anda bersepeda ke tempat kerja sebagai upaya mengurangi polusi, Anda juga harus mengumumkannya. Maka di keseluruhan foto-foto pameran “Bandung Kotaku Hijau” Anda akan melihat aku sedang menanam pohon. Tak cukup menanam pohon itu sendiri, harus ditunjukkan AKU-lah yang menanam pohon.

Sebagian besar foto di GIM merupakan rekaman peristiwa seremonial penanaman pohon. Bapak anu menyerahkan pohon pada bapak anu, ibu anu mendapat penyerahan pohon dari bapak ini. Pengunjung memang tidak diberi petunjuk foto-foto itu rekaman dari peristiwa di mana dan kapan, tidak juga siapa orang yang ada di dalam foto, bahkan tidak ada keterangan siapa fotografernya (kecuali anda baca agenda kegiatan di koran “PR” 13 September 2008 baru Anda dapat informasi bahwa fotografer yang berpameran adalah Agus Bebeng Handiana dan Arul). Pengunjung hanya bisa mengamati ada lelaki berdasi mengesankan dirinya kaum eksekutif, ada klub pengendara mobil berpenggerak empat roda merek tertentu, ada lelaki berpakaian ala kaum Sunda buhun: mereka semua memegang bibit pohon, membagikannya, menanamnya. Pembagian dan penanaman pohon ini ada dalam situasi disorot kamera dan diriuhi tepuk tangan banyak orang. Dalam foto-foto itu, tidak ada kegiatan menanam pohon yang sepi. Tidak ada menamam pohon sebagai menanam pohon itu sendiri.

Aku yang “sumeleh”

Goenawan Mohamad (GM) dalam esai Sebuah Torpis, Sederet “Nama” (Exploring Vacuum, Cemeti Art House, Yogyakarta 2003) menganggap sejak Duchamp mengirimkan tempat kencing sebagai karya seni, Aku telah dibunuh. Ideologi seniman-mencipta-dari-tiada-menjadi-ada hingga kejeniusannya patut dihargai, telah diruntuhkan.

GM dengan meneladani Heidegger menyarankan suatu “aku-yang-rendah-hati”. Pelajaran yang bisa kita ambil dari Heidegger adalah betapa arogan manusia modern. Manusia modern memandang segala sesuatu di dunia ini ada untuknya, hingga segala sesuatu dipandang secara fungsional. Akibatnya manusia mengaveling-kaveling dunia ini. Air mineral kemasan adalah contoh bagus dari kritik Heidegger: bagaimana ceritanya air bisa dimiliki hingga orang yang bukan pemilik harus membeli air itu? Bahkan, waktu dikaveling seolah-olah waktu bisa dimiliki juga hingga beberapa profesi dibayar berdasar jumlah waktu yang digunakan: tarif 300 dolar AS per jam. Bagi Heidegger, seni bisa menyediakan alternatif bagi pandangan “teknologis” arogan ini.

Ketika pandangan “teknologis” membuat manusia menghargai segala sesuatu hanya jika berguna bagi dirinya dan manusia bahkan melupakan bahwa sesuatu itu juga merupakan suatu “ada”, seni mengingatkan manusia tentang segala sesuatu yang “ada” di sekelilingnya. Seni mampu menyingkap hijab yang menutupi “ada”. Syaratnya, Aku harus cukup rendah hati hingga tidak menjulangkan dirinya tinggi mengatasi yang lain. Aku melebur dalam dunia. GM, mengutip Heidegger, menyarankan seniman itu “hampir seperti sebuah lorong yang menghancurkan dirinya sendiri dalam proses kreatif agar karya itu muncul”.

Maka mana yang lebih penting, menanam pohon itu sendiri atau siapa yang menanam pohonnya? Dilema orang kota adalah kita semua begitu sibuk mengotori lingkungan hingga ketika tiba waktunya menanam pohon menjadi begitu urgen, kita harus mempromosikan kegiatan menanam pohon itu agar kesadaran tentangnya tersebar. Menanam pohon itu sendiri tidak cukup, harus “orang penting” yang memulai proses menanam pohon, harus dipastikan peristiwanya diliput media, harus ada gemuruh tepuk tangan agar kemudian “orang-orang biasa” (yang banyak itu) ikut menanam pohon dan kita semua mendapat manfaatnya.

Arogansi yang membuat lingkungan kita rusak punya akibat lebih jauh lagi. Kita tak bisa lagi cukup rendah hati untuk menanam pohon diam-diam dan menjaganya agar “tumbuh tidak tergesa-gesa”.***

* Heru Hikayat, kurator independen, tinggal di Bandung.
Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2008/09/aku-menanam-pohon.html