Berfilsafat dengan Lelucon

Judul : Plato Ngafe Bareng Singa Laut: Berfilsafat dengan Anekdot
Penulis : Thomas Cathcart dan Daniel M. Klein
Penerbit : Kanisius, Yogyakarta
Cetakan : 2011
Tebal : xii + 212 hlm.
Peresensi : Naufil Istikhari Kr
http://www.lampungpost.com/

FILSAFAT selalu menjadi tema besar yang tak pernah selesai dibicarakan. Ia hadir di tengah-tengah manusia sebagai entitas yang begitu rumit, sulit, dan bahkan menakutkan. Rasionalitas telah mengantarkan filsafat pada level di mana tak semua orang mampu memahaminya dengan mudah. Ciri khas filsafat yang melekat hingga kini adalah tuntutan keseriusan berpikir dalam kesepelean hal-hal kecil.

Banyak yang suka terhadap filsafat sebagaimana juga tak sedikit yang membencinya. “Kebencian” mereka didasarkan pada kondisi filsafat yang sangat sulit dipahami. Ludwig Wittgenstein sendiri menyadari bahwa persoalan-persoalan filosofis klasik begitu memusingkan hanya karena dirumuskan dengan bahasa yang kacau dan membingungkan. Para filsuf seharusnya menyadari bahwa tugas mereka sebenarnya adalah mengurai kemacetan-kemacetan linguistik, merumuskan kembali kerangka teoritis dalam filsafat agar dapat dipahami tidak oleh sebagian orang saja (hal, 132).

Sisi lain yang menyebabkan filsafat sulit dimengerti, karena objek materialnya memang cenderung abstrak dan spekulatif. Kajian utama filsafat sedari awal tak pernah lepas dari “apa tujuan hidup”, “seperti apa kebenaran”, “bagaimana eksistensi Tuhan” dan pertanyaan-pertanyaan senada yang tak kalah mendasar. Filsafat tak henti-hentinya mempertanyakan sesuatu “di balik-realitas”.

Tema serupa juga banyak ditemukan dalam buku ini, tapi dengan diksi-diksi yang kocak. Meskipun bernuansa humor, bukan berarti aspek-aspek mendasar luput dari pembahasan. Justru di sini kita akan mendapati kelenturan bahasa dalam merekam aspek-aspek filsafat yang penuh canda tawa. Tak hanya itu, kita juga akan menemukan kritik-kritik mendasar tapi menggelitik.

Hadirnya buku ini tak lain merupakan jawaban bagi mereka yang kesulitan atau bahkan benci filsafat lantaran bahasa-bahasa yang sulit amat. Filsafat dalam buku Plato Ngafé Bareng Singa Laut ini begitu renyah dan menarik untuk dicerna. Stigma filsafat yang menakutkan diam-diam berubah menjadi penghibur yang menyenangkan. Mitos “filsafat yang rumit” pun runtuh.

Asumsi yang dibangun penulis tak jauh beda dengan Wittgenstein. Filsafat harus dipoles ke dalam bentuk yang tak (lagi) menakutkan. Menyajikan filsafat dengan nuansa humor atau anekdot—tanpa mengubah substansi—terlihat lebih elegan daripada hanya berpusing-pusing memecahkan satu teori dalam polesan ilmiah.

Thomas Cathcart dan Daniel M. Klein, penulis buku ini berkeyakinan bahwa penggunaan bahasa yang tepat sangat vital dalam menunjang pemahaman seseorang terhadap sesuatu. Kecerobohan dalam memilih diksi bahasa bisa berpengaruh fatal bagi pemahaman secara komprehensif.

Buktinya, sepasang suami-istri pindah ke sebuah apartemen yang baru dan memutuskan untuk mengganti kertas tembok di ruang makan. Mereka memanggil tetangga yang mempunyai ruang makan dengan ukuran yang sama dan bertanya, “Berapa gulung kertas tembok yang Anda beli ketika Anda memasangnya di ruang makan?” “Tujuh,” katanya.

Maka pasangan itu membeli tujuh gulung kertas mahal, dan mereka mulai memasang. Ketika mereka hampir menghabiskan gulungan yang keempat, ruang makan sudah selesai. Merasa terganggu, mereka kembali ke tetangga itu dan berkata, “Kami mengikuti nasihat Anda, tetapi ada kelebihan tiga gulung!” “Jadi?” katanya. “Itu juga terjadi padamu?” Ampun! (hal, 133).

Filsafat terasa enteng ketika disajikan dalam bentuk cerita-cerita yang menghibur. Semua itu akan kita jumpai dalam buku setebal 212 halaman ini. Sejumlah anekdot-anekdot kocak tentang filsafat terangkum secara padat dan rapi.

Naufil Istikhari Kr., Pencinta buku
02 October 2011