Dimanakah Letak Puisi Pedalaman?

Muhammad Syariat Tajuddin
Surat kabar Minggu Pagi, 27 Peb 2005

Puisi adalah suara hati. Puisi adalah suara nurani. Ia lahir dari ruang pengap, ia lahir dari kebisingan. Ia lahir dari keheningan yang menusuk. Ia lahir dari celah kecil diri sang pengarangnya. Ia lahir dari beragam ruang rahim keterlahirannya. Lalu mencari jalan untuk meruyak ke jagat kesemestaan.

Dimaknai, diinterfretasi untuk dimengerti dan dipahami. Tetapi ia bukan sebuah kegilaan. Sebab tidak jarang ia lahir dari penghayatan atas kehidupan nyata para penulisnya. Sehingga puisi tak bisa lepas dari latar budaya keterlahirannya. Atau paling tidak ikut mewarnai latar budaya dimana ia terlahirkan. Tentu sangat beralasan. Sebab, bagaimanapun puisi adalah buah persenggamaan antara rasa dan pikiran. Bersenyawa.

Lalu bagaimana dengan puisi yang beranjak dari pedalaman ? Adakah interfretasi, pemaknaan dan pemahaman atasnya berbanding sebangun, dengan puisi yang lahir dari hiruk pikuk knalpot jalanan kota-kota besar. Atau dari desis rel kereta ? Yang nota bene digadangkan oleh sesuatu yang bernama media massa. Dan lalu ditekuni oleh para penimbang kesusateraan. Yang juga tidak jarang lebih menumpuk dan memilih berdiam di kota-kota besar.

Sementara puisi pedalaman terkadang, keterlahirannya hanya bersumber dari apa yang ditawarkan media massa sebagai buah transformasi komunikasi yang mengencang. Hingga menohok dan menceracap sampai ke bilik terdalam wilayah pedalaman. Itupun hanya separuh realitas kota yang tertayangkan. Padahal sejatinya, genius kelahirannya hanya beranjak dan bertumpu pada denting dawai petik kecapi, atau degup aroma malam yang ditingkahi gemericik air dan desah jengkrik. Atau debur ombak dan aroma pepohonan. Sedang para kritikus sastra tidak pernah punya waktu lowong sekedar menengok dan menjenguk puisi yang lepas dari spasi kesusasteraan kota-kota besar itu.

Hatta lengkaplah sudah penderitaan puisi pedalaman. Ia yang lahir dari kesunyian, lalu berhenti hanya dicatatan-catatan buram buku tulis anak sekolahan. Pun toh kalau tidak, paling banter ia hanya disuarakan di perayaan-perayaan semacam agustusan. Karena media nasional yang mestinya ikut menggadangkan puisi pedalaman juga tak kunjung punya cukup waktu. Sebab nilai komersial dan kebesaran nama para penulisnya telah menjadi pertimbangan pasar. Dan itu yang utama.

Tetapi tulisan ini tentu tidak serta merta dapat menyimpulkan bahwa semua puisi pedalaman berakhir miris seperti itu. Sebab tentu ada juga beberapa puisi yang lahir dari pedalaman lalu mengelana dan merantau jauh dari tempat ia terlahirkan, kemudian sanggup meringkus ruang dikontalasi perpuisian nasional.

Sebenarnya perdebatan antara pedalaman dan kota besar ini telah lama terjadi dan hampir bulukan untuk diperbincangkan. Tetapi catatan-catatan miris toh tetap saja menjadi kenyataan yang tak terbantahkan. Dimana antara puisi pedalaman dan puisi kota adalah sebuah ironi di atmosfere kesusateraan. Yang ketika dicoba untuk disejajarkan dalam ruang kesusateraan nasional menjadi teramat-amat sangat tidak berimbang. Puisi yang lahir dari kota—apalagi yang digarap oleh penulis yang memang telah dikenal sebagai penyair. Atau yang sebelumnya telah mengalami pembesaran media massa, kerap lebih mendapatkan porsi di ranah kesusasteraan nusantara. Ketimbang puisi yang lahir dari pedalaman dan dianyam oleh nama yang memang belum dikenal dijagat kesusateraan nasional.

Maka menarik garis demarkasi yang tegas antara puisi pedalaman dan puisi kota yang kemudian lebih dikenal sebagai puisi nasional itu, hemat saya, tidaklah begitu bijak. Sebab apapun alasannya, keduanya toh lahir dari sebuah proses yang disebut oleh Dami N Toda sebagai kerja cipta. Ia lahir dari proses penciptaan yang dapat disejajarkan dengan Tuhan Sang Pencipta yang juga mencipta. (Hamba-hamba Kebudayaan : 1984 : 94).

Alhasil puisi apapun ia, dan lahir dari latar budaya manapun ia, maka proses penciptaan keterlahirannya adalah sebuah proses sakralitas. Tak urusan, apakah ia dari latar budaya padalaman atau ia beranjak dari sebuah rahim kompleksitas bernama kota besar. Dan sungguh membincang perpuisian nasional tak boleh abai pada realitas dingin perpuisian pedalaman. Seperti yang tampak nyata pada pemberian porsi di media nasional.

Sehingga rasa-rasanya menjadi menjadi patut ditimbang kembali, untuk menggelar ulang sebuah acara semacam Festival Musik Puisi Indonesia yang pada tahun 2003 di gelar di Yogyakarta. Dan menghadirkan sedikitnya 17 komunitas se-nusantara. Sebagai media menjembatani antara Puisi pedalaman yang lahir dari komunitas lokal yang kerap luput dari spasi besar ke—Indonesia—an. Dengan puisi kota yang lahir dari komunitas kesenian yang memang berada di kota dan telah acap kali mendapat ruang. Yah sebuah jembatan rekatan silaturrahmi kebudayaan sesama orang Indonesia, ditengah gemebyar issue disintegrasi. Atau sebuah sketsa indah pluralitas ke—Indonesia—an. Dan bukankah Indonesia juga adalah pedalaman. Dari sesuatu yang bernama dunia. Sehingga dengan begitu, kita tak perlu lagi bertanya tentang dimanakah letak puisi pedalaman.(mst)

Dijumput dari: http://muhsyariattajuddin.wordpress.com/2009/07/03/dimanakah-letak-puisi-pedalaman/