Jembatan

Nong Djese
http://kupang.tribunnews.com/

SEMAKIN lama, terasa semakin dekat. Semua ingatan yang terbungkus rapi selama ini akan dilerai kisah demi kisah, akan dicerai kalimat demi kalimat, akan dilepas kata demi kata. Digenggamnya bungkusan itu erat. Sebentar lagi.

Kembali diingat semua kenangan yang terus membelit hatinya di masa yang lewat. Semasa kecil dulu, mereka senang sekali membuat jembatan. Ketika masih bersama orangtua mereka di kampung dan rumah mereka sedang dibangun, selalu ada sisa campuran pasir dan semen yang tertinggal.

Mereka selalu membuat jembatan kecil dari sisa campuran itu. Ketika pembangunan rumah mereka telah rampung dan tidak ada lagi sisa campuran untuk dibuat jembatan mainan, mereka akan mengkhayalkan tempat tidur mereka sebagai jembatan. Mereka akan membentangkan Mau Ana* di kedua sisinya.

Kemudian diam-diam mereka berdiri dan mengamat-amatinya dari sudut kamar. Sama-sama terdiam, terkesima, lalu tertawa bersama, baru terlelap didekap angan. Mereka berdua sangat menyukai jembatan. Ia dan saudaranya.

Ketika sudah tidak bocah lagi. Perlahan dirasanya kecintaannya pada jembatan adalah cerita kanak-kanak mereka. Ia mulai berbeda dengan saudara. Ketika memasuki bangku SMA dipilihnya sekolah umum, sedangkan saudaranya memilih sekolah kejuruan. Manakala saudaranya memilih jurusan bangunan ketika kuliah, ia hanya ingin menjadi guru. Hanya itu impiannya. Dibiarkan saudaranya masuk jurusan teknik bangunan agar bisa membangun seribu jembatan.

Dimengertinya asa saudaranya itu. Dia tak punya keinginan lain selain membangun jembatan. Hanya jembatan. Ketika berbagai rancangan bangunan jembatan dipelajari saudaranya, ia hanya ingin bermandi debu kapur tulis di depan kelas. Mulai disadarinya perbedaan antara ia dan saudaranya.

Saudaranya tak pernah berhenti bercerita kalau saban malam ia tidak bisa memejamkan mata barang sebentar. Gambar aneka rupa jembatan terus memenuhi kepalanya hingga pagi menjemput. Hanya jembatan. Dan setiap kali pagi datang, saudaranya akan berdiri menatap pagi dan berikhtiar.

Saudaranya ingin membuktikan kepada orangtuanya; tak sia-sia dulu ia selalu bermain dengan sisa campuran. Ia ceritakan hal itu kepada orangtuanya di kampung setiap kali mereka menelepon. Orangtuanya begitu bangga.

Salah satu anak mereka akan menjadi orang hebat di kota besar. Ayahnya selalu membuat doa syukur dengan mengundang seluruh keluarga dan tetangga mereka di kampung. Berbeda dengan saudaranya, disadarinya betapa keinginannya mengabdi sebagai guru di kampungnya dianggap biasa-biasa saja oleh orangtua mereka. Mereka tak mengindahkannya.

Begitu mereka mendapat gelar sarjana, saudaranya mulai melamar kerja. Katanya, ia tak ingin kembali ke kampungnya. Impiannya akan tebungkus ijazah jika ia kembali ke kampung.

Sejak pagi belum utuh terbentuk, saudaranya sudah menenteng ijazah, berkeliling kota hingga pengujung malam. Semua tempat kerja didatanginya. Diutamakannya perusahaan bangunan yang ingin membangun jembatan. Agar ketika ia diwawancara, akan diselipkannya niatnya untuk membangun jembatan yang besar.

Tiga bulan berlalu dan saudaranya masih belum mendapat pekerjaan. Ketika ditimang-timang niatnya untuk kembali ke kampung, sebuah perusahaan melayangkan surat panggilan kerja kepada saudaranya. Impian saudaranya yang hampir pupus seketika menyembul kembali. Wajahnya sumringah.

Ketika saudaranya memenuhi panggilan kerja, ia telah berada di kapal laut. Kapal yang membawanya kembali ke kampung mereka. Kapal yang membawanya meninggalkan saudaranya dan jembatan. Ia sendirian.

Setibanya di kampung, kedatangannya disambut dingin. Orangtuanya hanya menanyakan kabar saudaranya. Diceritakan semua yang dialaminya bersama saudaranya itu. Betapa bangganya mereka mendengar saudaranya telah mendapat pekerjaan di sebuah perusahaan besar. Mulut ayahnya tak henti-hentinya melafalkan nama saudaranya itu seraya memanjatkan aneka doa syukur dan permohonan.

Tak ada pertanyaan tentang kabarnya dan tentang niatnya untuk kembali. Tak ada yang bertanya tentang keinginannya untuk menjadi guru. Tak ada. Potret wisuda saudaranya dipajang di ruang depan rumah mereka. Melengkapi deretan potret masa kecil saudaranya. Punyanya tidak. Pahit ditelannya. Seminggu setelah kedatangannya, lamarannya di sebuah sekolah diterima dan ia dipanggil untuk mulai mengajar.

Waktu berlalu dan saudaranya mulai jarang mengirim kabar. Mungkin karena mulai banyak pekerjaan, perhatiaan saudaranya mulai tersita. Walaupun saudaranya berusaha menyisakan waktu barang sebulan dua bulan untuk sejenak membagi cerita keberhasilannya, namun ia sadari saudaranya mulai lebih banyak bercerita tentang rencananya membangun jembatan layang. Setiap kali pula ayahnya hanya mendengar tanpa sedikit pun mengerti. Ayah tak berani bertanya, hanya mendengar.

Ketidaktahuan ayah akan terbayar dengan kebanggaan yang akan bernyala-nyala di wajahnya. Rona itu baru meredup ketika ayahnya melihat ia berjalan ke sekolah.

Detak jantungnya semakin memburu ketika angkutan umum yang ditumpanginya perlahan-lahan mulai memasuki kota itu. Hiruk dan pikuk irama kota mulai terasa beda, tak seramai belasan tahun yang lalu. Terik panas matahari makin menyiram kepala, bising bunyi kendaraan kian memekak telinga, udara penuh polusi hampir menyumpat hidung, teriakan garang kondektur silih berganti, nyanyian pengamen selalu sumbang.

Banyak hal telah berubah. Dirasanya kota ini telah begitu asing baginya. Kertas kecil bertulis alamat saudaranya tetap ada di tangannya. Untuk mencapai alamat itu ia harus berganti angkot beberapa kali. Perasaan asing lalu berbaur, karena setiap kali berganti angkot, setiap kali pula ia menabung haru dan rindu. Ia sadar tak pernah sedikit pun dalam lubuk hatinya ada kebenciaan akan saudaranya itu. Hanya satu yang paling dibencinya. Jembatan. Jembatan telah membuat ia terpisah dari saudaranya.

Diingatnya kembali cerita saudaranya beberapa waktu yang silam. Perusahaan saudaranya mendapat tawaran untuk membangun sebuah jembatan raksasa. Jembatan yang sangat besar. Dalam sebuah kesempatan pertemuan tim, saudaranya lalu menyajikan gagasan tentang sebuah jembatan yang indah. Di hadapan penawar dana, ide itu diramu semanarik mungkin.

Gambarnya dipresentasikan dan disetujui. Setelah menanti sekian tahun mimpi saudaranya akan menyata. Jembatan baru akan segera dibangun. Dibentuklah sebuah tim dari perusahaan saudaranya. Siang malam mereka bekerja. Beberapa minggu setelah itu seluruh rencana matang.

Jembatan itu tidak dibangun di atas aliran air. Ia melayang di atas perumahan. Dan akan banyak bangunan yang harus digusur karenanya. Perumahan penduduk yang telah terpinggir oleh gedung-gedung bertingkat harus digusur. Saudaranya setuju. Dengan pongah saudaranya berguman tentang rumah-rumah kumuh yang hanya merusak pemandangan kota.

Tiang kayu lapuk harus berganti beton. Seng karatan harus berganti atap baja. Lantai retak harus bergantai pualam. Itulah kota. Dengan uang ganti rugi, mereka dapat membangun rumah lain yang lebih layak di tempat lain, tentunya. Saudaranya menjelaskan bahwa perolehan tempat dan hak membangun sudah diatur sesuai dengan ketentuan yang berlaku dan jembatan itu akan tetap dibangun.

Di tengah deru bising dan terik panas yang membakar, saudaranya meneleponnya dan memberitakan kepergiaan yang mendadak ke luar negeri. Tenggorokannya membeku. Ketika saudaranya memberikan alamat sebuah hotel, ketika saudaranya memintanya untuk menginap sampai ia kembali, ketika saudaranya yang akan membayar semuanya, ia tak bisa berkata apa-apa.

Suaranya tak berbunyi. Semua kenangan yang ingin dicerai, disatukannya kembali. Semua ingatan yang ingin dilerai, dirangkulnya kembali. Ketika pandangannya mengabur, ia melihat seorang anak kecil yang tengah asyik membuat sebuah jembatan kecil.

Jembatan dari sisa campuran bangunan sebuah jembatan layang. Di antara deretan kendaraan yang merapat terseok-seok, ditutupnya telepon itu. Ia melompat.

Dibiarkanya angkot itu berlalu bersama rasa sesalnya menjauh. Dibukanya bungkusan itu. Kepada bocah dekil itu, diserahkannya sebuah selembar Bete** yang ditenun ibu mereka, sebelum berpulang.

Cibinong, Km. 46, Juli 2011.

*Bahasa dawan, selimut kecil.
**Bahasa dawan, selendang besar bermotif.