Judul Novel Budaya: Tembang Tolak Bala
Penulis: Hans Gagas)
Peresensi: Arim Kamandaka *)
http://ponorogozone.com/

Sebuah novel kesejarahan, novel ini yang menceritakan secara lugas dan cerdas tentang Ponorogo. Meski jika orang-orang tua membaca novel ini lantas bertanya-tanya. Karena beberapa unggahan sejarah tidaklah benar dan tidak seperti apa yang didengar.

Untuk memahami novel ini memang perlu penikmatan ekstra, sebab novel ini bukan sekedar novel konvensional dengan alur yang meluncas-luncas. Nama tokoh utama Hargo, baru muncul pada halaman 112.

Batasan fakta dan fiksi menjadi sangat tipis, inilah novel Tembang Tolak Bala. Cerita dimulai ketika Hargo dan adik kembarnya berenang di sungai. Namun, tiba-tiba adik kembarnya terhisap arus sungai. Nahas, adik kembarnya itu tidak tertolong dan tidak ditemukan.

Semenjak peristiwa itu, Hargo seperti mengalami semacam tamasya fantasi. Tamasya yang berlangsung ketika dia koma di rumah sakit selama 35 hari yang membuat khawatir semua anggota keluarganya. Akan tetapi satu hal yang menarik, dalam tamasya fantasi itu Hargo mendapat sebuah kitab dari Eyang Tejowulan yang berisi tembang tolak bala. Anehnya kitab itu terbawa ke dunia nyata ketika Hargo sudah sadarkan diri.

Sekonyong-konyong ia telah tiba di sebuah zaman yang asing. Hargo mendapati dirinya berada di tengah keluarga Ki Ageng Mirah. Seorang kharismatik dan pemurah. Lantas Hargo terhisap kembali dalam sebuah pusaran hingga akhirnya ia sampai pada keluarga Tejowulan (di sini Hargo mulai berkenalan dengan dunia gemblak, bahkan sebagai pelaku). Semua terasa ganjil bagi Hargo. Sampai sini sudah sangat kentara jika Han Gagas menulis novel perdanya ini dalam semangat realisme magis.

Dalam novel ini menunjukkan dunia gemblak dari satu sisi. Sebab gemblak belum pasti pelaku sodomi. Novel ini juga tak luput dari kisah percintaan. Ada misalnya kisah kasih (tak sampai) antara Hargo dengan Mei, Juni dan kisah cinta antara Hargo dengan Juli yang meski berlatar dendam namun berakhir di pernikahan (dengan Juli yang anak sanggar, Hargo banyak berdiskusi perihal reog, warok dan gemblak, babad tanah Ponorogo dan Serat Darmogandhul). Ada pula hubungan beda etnis dan agama antara Hargo dengan Mei Ling yang Tionghoa. Meski berbeda mereka sangat dekat dan bahkan ketika pada akhirnya Mei diusir, Hargo dan Mei saling berkirim surat. Surat-surat mereka sangat menggetarkan.

Kejutan lain muncul manakala Hargo mendapati salah seorang guru laki-lakinya, Pak Marodirojo (warok) yang hendak sodomi menyetubuhinya. Hargo terbebas dari malapetaka itu diselamatkan tembang tolak bala yang tiba-tiba ia rapal. Ternyata, ia tahu guru itu tak lain adalah masih keturunan Wulunggeni, musuh bebuyutan nenek moyang Hargo, Honggodermo.

Singgah-singgah kala singgah (pulanglah segala yang buruk, pulanglah)
Pan suminggah durgakala sumingkir (Pulanglah segala yang jahat, menyingkirlah)
Sing hama sing awulu (segala hama penyakit, segala makhluk yang berbulu)
Sing suku sing asirah (segala makhluk berkaki, segala makhluk berkepala)
Sing atenggak kelawan kang sing abuntut (segala makhluk berleher dan berekor)
Padha sira suminggaha (kalian semua menyingkirlah)
Balia mring asalneki (Kembalilah ke asalmu)
….
Luputa bilahi kabeh (terhindar dari segala kenaasan)
Jin setan datan purun (jin setan tak akan mau)
Paneluhan tan ana wani (teluh tak ada yang berani)
Miwah panggawe ala (juga rencana yang buruk)
Gunane wong luput (santet dari orang terlepas)
Aniyat temahan tirta (juga niat buruk melalui perantaraan air)
Maling adoh tan ana miwah ing krami (pencuri menjauh, tak ada yang berani)
Guna duduk pan sirna (guna-guna pengasihan sirna)

Selain itu, yang menjadi kekuatan lain novel ini yakni adanya beberapa adegan pertarungan antar warok atau antar padepokan Reyog yang berlangsung seru dan mendebarkan . Intrik politik juga menambah hidup cerita. Legenda dan dongeng seputar sejarah Ponorogo memperkaya khazanah melalui novel ini. Misal tentang berdirinya Ponorogo yang bermula dari keruntuhan Majapahit, sejarah Reog, dongeng terbentuknya Telaga Ngebel dan sebagainya.

Novel Tembang Tolak Bala yang pasti menyajikan informasi yang lumayan perihal Ponorogo serta kekayaan khazanah budayanya. Jagad Warog Ponorogo ditelisik dengan tuntas lewat cara unik. Novel yang menarik dan sangat pantas dibaca”

Harapan, akan lebih banyak novelis yang menulis tentang Ponorogo. Karena sejatinya Ponorogo adalah sebuah kearifan lokal yang sisi putihnya pantas diteladani.

*) Arim Kamandaka, Penikmat sastra yang nikmat tinnggal di Ponorogo.

Categories: Resensi