Menanti Punahnya Seni Tradisional

Amiruddin Zuhri
Media Indonesia,2 Jan 2006

ALUNAN suara gamelan sayup-sayup terdengar ketika memasuki kompleks Sekolah Menengah Karawitan Indonesia (SMKI) Yogyakarta. Suara gamelan itu tidak asing bagi para siswa di sekolah tersebut. Di tengah maraknya budaya Barat masuk ke Indonesia, para siswa berseragam putih abu-abu ini tetap bertekad mempertahankan kesenian tradisional. Mereka memiliki tekad untuk terus menghadirkan kesenian tradisional Jawa yang kian tergusur budaya pop.

Sekolah yang berlokasi di Jalan Bugisan Yogyakarta itu merupakan sekolah khusus yang menghadirkan pelajaran kesenian tradisional khususnya Jawa. Tujuannya agar kesenian tradisional Jawa seperti musik gamelan, seni karawitan, mendalang, ketoprak, bisa terus terjaga sampai kapan pun.

Butuh sebuah tekad kuat bagi para siswa yang masuk ke SMKI ini. Sebab sekolah itu memang dirancang khusus untuk kesenian tradisional Jawa, dan nyaris tidak bisa menghasilkan uang seperti layaknya kesenian pop modern.

Panji, 16, dan teman-temannya yang menjadi murid di SMKI tidak menyesal masuk ke SMKI, sebuah pilihan yang berbeda dengan teman-teman seusianya. Ketika kesenian tradisional mulai terpinggirkan, dan anak-anak muda keranjingan dengan musik pop, mereka tetap mematri budaya Jawa dengan penuh keikhlasan dan kesungguhan.

”Kalau mau jujur, apa yang diakui dunia internasional terhadap Indonesia. Pasti kesenian tradisional yang sampai sekarang masih ada,” kata Panji, siswa SMKI jurusan pedalangan ini dalam perbincangannya dengan Media Indonesia, beberapa waktu lalu.

Kegiatan belajar mengajar di SMKI ini nyaris seluruhnya berupa praktik. Itu pun sering dianggap para siswa belum cukup. Untuk mengasah insting seni, siswa disarankan untuk ikut kegiatan-kegiatan seni di luar sekolah. Bahkan jika harus membolos atau terlambat sekolah karena ikut pentas karawitan, pihak sekolah bisa memaklumi.

”Bagaimana siswa bisa berinteraksi dengan baik di hadapan publik jika tidak pernah ikut ndhalang, noprak (main ketoprak) atau pentas seni lain yang biasanya berlangsung malam hari. Kami bisa memaklumi apabila berangkat ke sekolah sering terlambat, karena malamnya ikut pentas,” kata Kepala Sekolah SMKI Yogyakarta Samsuri Nugroho.

Menurutnya, menempuh pendidikan di SMKI mempunyai beban yang sangat berat, khususnya dalam menjaga kesadaran tentang jalur telah ditempuh para siswa. Sedikit saja siswa kehilangan keyakinannya, maka bisa berakibat fatal. “Maklum saja, di sekolah ini bukan lapangan kerja yang menjadi indikasi keberhasilan alumninya. Tapi siswa harus mampu menguasai dan mengaplikasikan ilmu yang diterimanya dengan baik,” tambah Samsuri lagi.

Namun melihat kenyataan, SMKI sepertinya sedang menghitung mundur kematiannya. Indikasinya, minat siswa yang masuk ke sekolah ini semakin hari semakin sedikit. Tengok saja, di kelas pedalangan kelas I memiliki tiga siswa, kelas II hanya satu siswa dan kelas III terdapat dua siswa. Sedangkan jumlah gurunya jauh lebih banyak dibandingkan muridnya. Saat ini guru pedalangan di SMKI sebanyak enam orang.

”Bisa dibayangkan bahwa pemerintah mengeluarkan biaya yang besar untuk mempertahankan keberadaan sekolah ini,” lanjut Samsuri lagi.

Bila generasi muda tidak tertarik lagi pada kesenian tradisional, kesenian warisan leluhur itu bisa punah dimakan zaman. Kita tidak memiliki sebuah identitas lokal yang bisa dibanggakan.

SMKI Yogyakarta memang menjadi sekolah yang mempunyai nilai kekhususan tersendiri. Bahkan di Indonesia hanya ada enam sekolah sejenis ini yakni di Solo, Bali, Bandung, dan Padang. Pemerintah menilai keenam daerah ini masih memiliki kehidupan seni lokal yang kuat. Oleh sebab itu keberadaan sekolah semacam ini masih dipertahankan.

Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2007/01/menanti-punahnya-seni-tradisional.html