Sastra yang Memihak Petani

Agus Wibowo*
Lampung Post, 21 Sep 2008

KRISIS pangan yang melanda Indonesia dalam tiga tahun terakhir, menimbulkan keprihatinan kita. Bagaimana tidak? Di bumi subur yang sering disebut ki dalang sebagai “gemah ripah loh jinawi”, penduduknya kekurangan pangan.

Kemudian, apa yang menyebabkan kelangkaan pangan? Bagaimana bangsa ini mengatasinya?

Problem pertanian, selain disebabkan penyempitan lahan dan buruknya manajemen pertanian juga disebabkan pergeseran orientasi budaya masyarakat akar rumput (grassroot) terhadap dunia pertanian. Pergeseran orientasi itu salah-satunya dipicu stigma negatif yang diciptakan secara tidak sadar oleh literatur dan karya-karya sastra kita.

Sastra kontemporer, kata Agus R. Sarjono (2001), lebih concern pada dunia percintaan yang mengharu-biru, seks, kekuasaan, agama, dan filsafat; mengesampingkan dunia pertanian. Sastra justru menciptakan stigma ganjil pada dunia pertanian.

Pendek kata, dunia pertanian adalah representasi atau simbol masyarakat kelas bawah yang tertindas, terpinggir, dan menderita. Itu dapat kita temukan, misalnya, dalam trilogi Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari.

Benar, novel itu mengangkat kisah dengan setting perdesaan dan tanah pertanian. Akan tetapi, kisah itu hanya berkutat pada pergulatan seorang penari ronggeng pada kondisi sosial budaya di era 60-an, sementara problem pelik dunia pertanian luput–atau memang sengaja tidak disinggung.

Novel Para Priyayi karya Umar Kayam juga demikian. Novel itu memang menjadi inspirasi kemajuan masyarakat miskin untuk mengubah statusnya. Tetapi, yang terasa justru penokohan “anak desa” dengan segenap usahanya meninggalkan tanah pertanian untuk menjadi seorang priyayi. Singkatnya, pencitraan yang muncul dari novel itu, dunia pertanian identik dengan kebodohan, keterbelakangan, berorientasi pada hal-hal mistis dan serba-“hitam” yang mesti ditinggalkan.

Kearifan Pujangga Klasik

Jika kita cermati, apa yang dilakukan sastrawan kontemporer sangat kontras dengan kearifan para pujangga dahulu. Mereka dahulu justru sangat akrab dengan dunia pertanian. Kedekatan dan keakraban itu mereka tuangkan dalam karya-karya sastra yang dibuat. Beberapa literatur sastra Jawa klasik yang diteliti P.J. Zoetmulder misalnya. Karya sastra yang dibuat pada abad ke-8 dengan bentuk kakawin dan kidung itu, menceritakan bagaimana seorang raja yang rela datang ke kawasan perdesaan, guna memotivasi rakyatnya mengolah tanah pertanian. Dikisahkan pula, bagaimana para biarawan (tokoh agama) turut serta bercocok tanam, dan membangun lumbung-lumbung padi yang besar dan tinggi.

Selain itu, dalam kitab Desawarnana atau Negarakertagama digambarkan bagaimana kemajuan sistem pertanian kala itu. Disebutkan adanya perintah sang raja agar rakyatnya membuka hutan untuk dijadikan lahan pertanian. Karena kesuburan tanah pertanian, panen yang dihasilkan melimpah, sehingga rakyat memberikan pajak kepada sang raja tanpa paksaan. Kitab itu juga menyebutkan kemajuan sistem irigasi pertanian yang sangat maju.

Beberapa bukti yang telah disebutkan, menunjukkan dunia sastra (klasik) dahulu, selain mengusung tema-tema seputar keraton juga concern mengangkat dunia pertanian. Itu tidak lepas dari peran utama sastra sebagai media komunikasi dan media penerangan masyarakat. Singkatnya, sastra dimanfaatkan sebagai satu strategi kebudayaan yang efektif untuk menggerakkan masyarakat, khususnya dalam mengembangkan dunia pertanian.

Di negara-negara dengan pertanian maju, sastra juga memiliki peran penting dan strategis. Misalnya di China, revolusi kebudayaan yang dilakukan besar-besaran berhasil membuahkan gagasan baru untuk menampilkan dinamika pertanian dalam karya sastra. Misalnya dalam kumpulan cerpen Kisah Lelaki Tua dan Anjingnya, yang merupakan terjemahan sebuah karya sastra China.

Karya sastra China yang lain mampu mengangkat sosok petani dengan dinamika pertaniannya, menjadi sastra yang indah dan menawan. Itu karena petani dengan segenap problemnya tidak diangkat secara turistik dengan semangat kaum terdidik yang penuh keinginan semu, melainkan digarap dengan penuh penghayatan. Padahal, nyaris semua cerpen itu ditulis kalangan intelektual China sendiri.

Di Malaysia juga tak jauh berbeda. Sastrawan Shahnon Ahmad, misalnya, berhasil menyuguhkan sosok petani yang khas dan hidup. Itu dapat kita lihat dalam salah satu novelnya berjudul Ranjau Sepanjang Jalan.

Dalam novel itu, digambarkan beratnya perjuangan seorang petani melawan alam dan dalam mengolah tanah pertaniannya. Juga dikisahkan bagaimana anak-anak tanpa ibu bergelut dengan buruknya musim dan cuaca, serbuan pipit dan kepiting, atau meluapnya air bah yang menggenangi sawah dan merusak panen mereka. Lewat novel itu, kita disadarkan bahwa tanah pertanian bagi petani merupakan sebuah “tanah air” yang tidak mudah dipindah-pindahkan, atau dihancurkan oleh basis relasi eksternalnya.

Memihak Petani

Tampaknya, tidak ada pilihan lain bagi sastrawan kontemporer, untuk belajar dan mencontoh para sastrawan negara-negara maju. Dengan kata lain, sastrawan kontemporer tidak merasa malu apalagi “tabu” jika mengangkat tema-tema pertanian. Alangkah indahnya hamparan sawah yang menghijau, buliran padi menguning, senandung seruling anak gembala, atau riuhnya burung pipit menyerbu padi, diangkut sastrawan dalam karya-karyanya. Sastrawan kontemporer melalui karyanya, juga bisa mengungkap berbagai praktik penipuan “lintah darat”, yang menyengsarakan petani.

Kontribusi sastra terhadap pertanian, secara nyata dapat dimulai melalui pengajaran sastra di sekolah atau bangku perguruan tinggi. Sastra dengan tema-tema keindahan tanah pertanian itu, akan menumbuhkan kecintaan anak didik pada dunia pertanian. Dampaknya tentu saja positif karena mereka tidak akan malu atau merasa “tersisih” lagi, jika nantinya memilih profesi sebagai petani, dan lebih memilih menetap di desa. Dampak positif secara makro, usaha itu pelan tapi pasti akan mengubah orientasi masyarakat kita, untuk tidak terus-menerus melakukan urbanisasi besar-besaran ke kota.

Segenap pihak harus menyadari bahwa masyarakat petani merupakan sebuah realitas dominan dalam seluruh struktur sosial Indonesia. Mereka merupakan agen utama penjaga “saka guru” atau tiang utama penyangga perekonomian masyarakat. Maka, dengan menggeliatkan dunia pertanian melalui karya-karya sastra, sama halnya memperkokoh stabilitas perekonomian bangsa. Semoga.

* Agus Wibowo, Esais Sastra, Mahasiswa Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta
Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2008/09/apresiasi-sastra-yang-memihak-petani.html