Tak Kuat Menjaga Warisan

Nunuy Nurhayati, Ismi Wahid
http://majalah.tempointeraktif.com/

SURAT keputusan Gubernur DKI Jakarta setebal enam halaman itu diterima Ajip Rosidi pada Februari lalu. Isinya sungguh mengejutkan. Ditandatangani langsung oleh Fauzi Bowo pada 16 Februari 2011, surat bernomor SK IV 215/2011 itu menetapkan secara jelas bahwa Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) H.B. Jassin tahun ini hanya memperoleh bantuan dana dari pemerintah DKI Jakarta sebesar Rp 50 juta.

Sebagai Ketua Dewan Pembina Yayasan Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin, Ajip tahu betul angka Rp 50 juta setahun tak akan mampu menopang hidup PDS. Hasil rapat yang dihadiri seluruh pengurus yayasan memutuskan PDS terpaksa ditutup. “PDS harus kami tutup, kami tidak mempunyai dana simpanan lagi untuk menomboki kekurangannya,” ujar Ajip.

Kabar bakal ditutupnya PDS H.B. Jassin membuat gerah para sastrawan dan pencinta sastra. Melalui jejaring sosial di dunia maya, mereka membuat semacam gerakan “moral”. Ada pula yang menggulirkan “koin sastra”. Kabar ini rupanya sampai ke kuping Fauzi Bowo. Secara mendadak, Senin pekan lalu, dia mendatangi PDS H.B. Jassin, yang terletak di kompleks Taman Ismail Marzuki. Ia mengaku terkejut. Dia berjanji akan mengoreksi surat keputusan tersebut. “Pasti akan ada perubahan anggaran,” katanya. Apakah bisa dana paling tidak Rp 1 miliar setahun? Fauzi tak menjawab tegas.

Ajip mengisahkan, pada 2003, PDS H.B. Jassin mendapat dana dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sebesar Rp 500 juta setahun, ditambah bantuan tahunan dari Pusat Bahasa sekitar Rp 25 juta. Sayangnya, pada 2007, dana yang diterima hanya separuhnya. Ketika Ajip secara tak sengaja bertemu dengan Fauzi Bowo di Galeri Nasional dan memprotesnya, dana yang diterima kembali dinaikkan menjadi Rp 350 juta dalam satu tahun. Namun, pada 2010, dana dipotong lagi menjadi Rp 165 juta.

Minimnya dana itu membuat pengelola pusing tujuh keliling. Selain harus membayar gaji 14 karyawannya, yang mencapai Rp 15 juta sebulan, mereka harus pintar-pintar memutar uang untuk listrik, telepon, dan perawatan.

Berdasarkan data yang dimiliki PDS H.B. Jassin, terdapat 16.816 judul fiksi dan 11.950 judul nonfiksi. Untuk merawat dokumentasi itu saja seharusnya diperlukan penyejuk udara bersuhu khusus yang beroperasi selama 24 jam. Namun penyejuk udara di sana hanya berfungsi selama jam operasi, yakni dari pukul 9 pagi hingga pukul 3 siang tiap harinya. Juga tak ada perawatan penyemprotan antijamur. Padahal, idealnya, proses itu harus dilakukan dua kali dalam setahun.

Walhasil, kondisi PDS mengkhawatirkan. Puluhan ribu buku di lebih dari 60 rak kayu tanpa kaca itu tampak kumal dan berdebu. Di pojok-pojok ruang, surat kabar dibiarkan menumpuk. Di tengah lorong rak itu, Fauzi Bowo terenyak ketika seorang karyawan PDS H.B. Jassin menyodorkan foto dirinya saat menjadi inspektur upacara pemakaman H.B. Jassin pada 2000.

Pada 2001 hingga 2003, pernah salah satu perusahaan minuman ringan memberi bantuan untuk digitalisasi koleksi. Pada saat itu didatangkanlah komputer bekas dan alat pemindai. Tapi, setelah proyek berakhir, perangkat elektronik tersebut rusak. “Hanya satu persen koleksi yang sudah di-scan saat itu,” ujar Endo Senggono, pustakawan PDS H.B. Jassin.

Kepala Pelaksana PDS H.B. Jassin, Ariani Isnamurti, mengatakan proses digitalisasi data mendesak dilakukan, mengingat koleksi berharga dan tua yang semestinya sudah tak lagi dikeluarkan untuk umum. Salah satunya buku berjudul Njai Isah karya F. Wiggers, yang diterbitkan pada 1904. Koleksi ini merupakan sumbangan Soedarmadji J.H. Darmais, yang kini Wakil Pemimpin Umum Majalah Kreatif. Ada juga surat-surat tulisan tangan Chairil Anwar yang ditujukan kepada H.B. Jassin pada 1942.

Sastrawan Martin Aleida menyayangkan jika PDS H.B. Jassin tak beroperasi lagi. “Tempat ini sekarang semakin hidup untuk diskusi sastra,” ujar Martin. Bahkan peneliti sastra Amerika, Scott Scholberg, yang pernah meneliti novel berbahasa Sunda karya Utuy Tatang Sontani, mengakui PDS memiliki koleksi sastra Indonesia terlengkap. “Ini harus dipertahankan,” ujar Martin.

28 Maret 2011