DALGO

Sri Wintala Achmad
___Kedaulatan Rakyat

SEJAK istrinya pergi sebagai TKW, Dalgo, lelaki tiga puluhan itu banyak memboros-boroskan waktunya untuk menarikan ibu jarinya di setiap key-pad ponselnya. Ber-SMS dengan setiap perempuan yang sudi membalasnya, berkenalan, dan berkencan untuk bertemu di suatu tempat.

Bagi Dalgo, lelaki penganggur yang seluruh fasilitas hidupnya ditopang oleh istrinya itu, tidak pernah mengeluh dengan persoalan uang. Barang sakti yang sanggup menutup SPP kedua anaknya, menggaji babunya yang rela di-keloni kapan saja, dan memanjakan setiap perempuan yang gemar ditraktir di kafe atau di mal. Iapun tidak pernah mengeluh dengan uang rokok, bensin dan pulsa.

Ponsel Dalgo berdering pagi hari. Dalgo terbangunkannya, sesudah anak-anaknya pergi ke sekolah diantar babunya, yang kalau tidur serupa babi mendengkur itu. Meraih ponsel di samping bantalnya. Memencet key-pad ‘Yes’. “Ya, hallo!”

“Entar siang, om ada waktu?”

“Tentu manis. Ke mana?”

“Mal. Blok XXX.”

“Boleh. Asal Elice tidak memakai seragam sekolah ya!”

“Emangnya kenapa, om?”

“Masak di mal pakai seragam sekolah. Terus terang, om tidak mau dianjingkan sebagai perusak generasi negeri ini lho.” Dalgo tertawa. Bau alkohol yang semalam ditenggaknya menguap dari mulut naganya. “OK?”

“OK!”

“Jam berapa?”

“Satu.”

“On time?”

“Yes. See you next”

“Sampai nanti!” Dalgo memencet key-pad ‘No’. Meletakkan ponsel di tempatnya semula. Di samping bantalnya, yang selalu mengantarkan mimpi-mimpi indahnya, yang hari itu juga akan membuahkan kenyataan. Tersenyum penuh kemenangan. Bagaimana tidak? Siang nanti, Dalgo akan bertemu dengan kelinci kecilnya di mal Blok XXX, sebelum mangsanya itu dibawanya ke suatu tempat. Di mana, Dalgo akan leluasa menelanjangi Elice, menjilati seluruh tubuhnya, dan menyetubuhinya dengan birahi singanya. Sehabis-habisnya.

Elice, ya Elice. Gadis tujuhbelasan yang membangkitkan Dalgo dari ranjangnya. Menuju kamar mandi. Elice ya Elice. Pujaan yang tubuhnya lebih menggairahkan daripada tubuh istrinya, apalagi tubuh babunya yang bau keringatnya melampaui bau bangkai. Dalgo bersiul-siul, karena beberapa jam mendatang, Elice akan mengenangkan kembali peristiwa dahsyat saat bersetubuh dengan Dian, kawan sekolahnya yang sekarang jadi istrinya itu, di sebuah toilet di samping perpustakaan. Elice ya Elice. Penyadar Dalgo sebagai pejantan tulen.

Dari kamar mandi, Dalgo mendengar ponselnya kembali berdering. Dengan tubuhnya yang hanya berbalutkan handuk, bergegas ke kamarnya. Meraih ponsel. Memencet key-pad ‘Yes’. “He? Susan!”

“Bang, entar siang bisa temuan?”

“Jangan siang nanti, sayang!”

“Kenapa?”

“Aku harus menjemput anak-anakku dari sekolah.”

“Di mana pembantumu?”

“Dia sakit. Aku harus menggantikan pekerjaannya. Lain kali saja, ya sayang!”

“Tidak! Hari ini aku butuh kehadiranmu. Semalam lakiku kembali menghajarku sebelum menyetubuhiku. Aku muak dengan cara dia bercinta. Tolong aku, Dalgo! Aku butuh belaianmu, sayang. Please!”

“Ya… ya… ya…! Aku tahu itu. Tapi, jangan entar siang, ya sayang! Bagaimana kalau entar malam?”

“Kau gila! Bukankah kalau malam suamiku di rumah?”

“Bagaimana kalau besok siang?”

“Butuhku hari ini!”

“Tidak bisa!”

“Anjing!”

Dengan wajah terbakar, Dalgo memencet key-pad ‘No’. Mulutnya berkomat-kamit. Mengutuk Susan. Pesakitan yang lebih hina dari pelacur apkiran. Dalgo melemparkan ponselnya di atas ranjang. Menuju kamar mandi. Mengguyurkan air dari bak ke seluruh tubuh bugilnya yang berotot. Seperti Rambo.

***

MENJELANG satu siang, Dalgo sampai di mal Blok XXX. Menuju sebuah restoran. Duduk di kursi paling sudut. Memesan pop ice kepada salah seorang pelayan. Baru selama tiga kali sedotan rokok filternya, segelas pop ice sudah terletak di bangkunya. Dalgo mereguknya. Tanpa sedotan.

Dalgo memungut ponsel dari saku pantalonnya yang terseterika rapi. Wajahnya terbaca gelisah, saat memandang jam di ponselnya sudah menunjuk 13.15. Tanpa berpikir panjang, Dalgo mencari nama Elice di phone book. Sesudah nomor 085228110801 dan nama Elice muncul di layar ponsel, Dalgo memencet key-pad ‘Yes’.

“Hallo, om!”

“Elice sampai di mana, ya?”

“Maaf om! Aku ada acara mendadak. Diajak pacarku menghadiri pesta ultah kawannya. Lain kali aja, ya!”

“Pacar? Katanya, Elice belum punya pacar?” Dalgo kian berang saat mendengar ponsel Elice di-mail box-kan. “Brengsek!” Meletakkan ponselnya di bangku. Jantungnya berdegup kencang. Dalgo ingin mencekik Elice, yang berani mengingkari janjinya sendiri itu. “Dasar buaya kecil!”

Hiruk-pikuk di dalam mal Blok XXX terasa mempalu-palu kepalanya. Darahnya menggelegak, karena amarah di dada. Pikirannya dengan gesit meloncat serupa bajing ke wajah sephianya. Susan!

Ibu jari Dalgo mencari nama Susan di dalam phone book. Sesudah nama Susan dan nomorya 08175468343 muncul di layar ponsel, Dalgo memencet key-pad ‘Yes’. Sial! Bukan suara Susan yang terdengar di telinga, melainkan suara rekaman dari operator, “Anda terhubung dengan mail box!” Mulut Dalgo misuh tertahan, “Asu!”

Dalgo bangkit dari kursinya. Mencecek rokok di asbak. Meninggalkan pop ice yang masih separuh gelas. Membayar bon di kasir. Meninggalkan restoran di mal Blok XXX. Langkahnya gontai, seperti layang-layang yang putus benangnya. Terombang-ambingkan angin di angkasa lepas.

***

MATAHARI condong ke barat. Dalgo memasuki rumah yang masih sepi. Kedua anaknya belum pulang dari kursus PC-nya. Hanya babunya yang tampak sibuk memasak di dapur. “Yu, aku haus sekali. Buatkan aku susu!”

Dina, perempuan gembrot itu mengambil cangkir porselin dari raknya. Menuang dua sendok gula pasir di cangkir itu, serta air panas dari termos di atas bangku kayu. Mengaduknya. Menyuguhkan minuman itu kepada Dalgo yang tiduran di ranjang dengan mata menerawang. Mengisap sigaret kreteknya. Mengepulkan asapnya, yang membentuk kumparan-kumparan kelabu di bawah langit-langit. “Susunya, pak.”

“Perempuan tolol!”

“Maaf pak! Yang ada cuma susu coklat. Susu putihnya sudah habis!”

“Benar, susu coklat! Tapi, bukan yang ini!”

“Maksudnya, susu yang biasa bapak tenggak saat tengah malam? Saat anak-anak pulas tertidur? Saat angin menggigilkan setiap tubuh hingga seperti balok-balok es?”

Dalgo diam. Hanya tatapan mata seekor singa lapar. Dengan kasar, Dalgo menyeret tubuh Dina. Dibaringkan di atas ranjang. Diterkam. Digaglaknya. Dina berkelojotan, meski sulit untuk bernafas. Rasanya sudah mau mati.

Dalam beberapa kejap, tubuh Dalgo lunglai mengapas di ranjang. Di samping tubuh Dina yang semakin tampak memuakkan. “Mengapa kamu masih di sini? Selesaikan masaknya! Jemput anak-anak! Cepat!”

“Tapi….?”

“Apa?”

“Boleh aku bicara sedikit pada bapak?”

“Ya! Jangan lama-lama!”

“Pak Dalgo, sudah tiga bulan aku tidak mens.”

“Maksudmu?”

“Ah bapak ini, masak tidak tahu?”

“Jangan cengengesan! Apa maksudmu? Terus terang saja!”

“Bapak tidak marah?”

Dalgo mengangguk. Cemas!

“Dina, positif.”

Mendengar kata itu, Dalgo serasa disambar seribu satu petir. Terlebih sesudah Dalgo mendengar kabar dari seseorang tidak dikenal lewat ponselnya, bahwa istrinya akan dihukum penggal di negeri orang minggu depan, karena telah terbukti mencuri perhiasan majikan perempuannya dan meracun majikan lakinya, yang berulang kali memperkosanya, jantungnya sontak tidak berdetak. ***

Yogyakarta, 21032005