Hasanuddin yang Melahirkan EKI dan ESI

Agnes Rita Sulistyawaty
Kompas, 29 Juni 2009

Hasanuddin WS dikenal sebagai ahli sastra. Urusan kebahasaan bukanlah bidang yang didalaminya. Namun, justru dari tangan dia lahir Ensiklopedi Kebahasaan Indonesia, sebuah ensiklopedi perdana milik negeri ini.

Guru besar sastra di Universitas Negeri Padang (UNP) sejak tahun 2003 itu nekat menulis EKI, akronim Ensiklopedi Kebahasaan Indonesia, selama lima tahun terakhir. Ketiadaan ensiklopedi kebahasaan di Indonesia sangat kuat menggerakkannya mengumpulkan satu demi satu entri hingga menjadi ensiklopedi setebal 1.370 halaman, yang dibagi dalam empat buku.

Ia pernah mengontak teman-teman linguis dan mengusulkan agar mereka membuat ensiklopedi kebahasaan. Usul itu dinilai terlalu berat. Memulai sesuatu memang lebih sulit ketimbang menyempurnakan yang sudah ada. Hasanuddin lantas memutuskan memulai menyusun ensiklopedi. Di sinilah dia belajar tentang ilmu bahasa dan banyak mendapatkan info baru.

”Saya bukan linguis. Latar belakang ilmu saya adalah sastra. Memang orang sastra belajar bahasa, tapi tidak spesifik. Saya tak asing, tapi juga tak terlalu dekat dengan bahasa. Menyusun EKI adalah sesuatu yang baru, pengetahuan baru,” ucap pria yang 23 tahun menjadi dosen sastra itu.

Setumpuk buku tentang kebahasaan dipelajari Hasanuddin demi melahirkan ensiklopedi itu. Sebagian besar materi berasal dari Pusat Bahasa, yang lain dari delapan buku besar yang dijadikan rujukan tim penyusun. Bersama Hasanuddin, ada empat redaktur penyelia, yakni Prof Chaedar Alwasilah, Prof Atmazai, Prof Ilza Mayuni, dan Prof Khairil Anshari, serta tiga redaktur yang setia bekerja sama dalam melahirkan ensiklopedi.

Hasil kerja tim itu membuat pembaca buku bisa menemukan mulai dari beragam istilah kebahasaan, para tokoh yang berperan dalam urusan kebahasaan, beragam aksara besar di Indonesia dan dunia, hingga sejarah kebahasaan.

Hal yang menarik, kendati ensiklopedi diberi judul EKI, beragam isi dalam ensiklopedi ini justru membicarakan persoalan bahasa dalam lingkup global. Tata bahasa dalam bahasa Inggris, misalnya, mendapat tempat di ensiklopedi ini.

”Awalnya, saya dan tim mau menyusun ensiklopedi yang berisi kasus-kasus kebahasaan Indonesia. Tapi pada awal menyusun, tim tak bisa menghindarkan diri dari kebahasaan dunia,” kata Hasanuddin. Dalam beberapa kasus, mencari referensi kebahasaan asing menjadi lebih mudah karena ketersediaan literatur dan ahli yang memadai.

Beragam aksara Indonesia juga ditampilkan dalam EKI. Misalnya, aksara Rencong, aksara Pegon, atau aksara Jawa. Aksara Indonesia ini bersanding dengan aksara yang lahir di luar negeri seperti aksara Han’gul dari Korea Selatan.

EKI lahir berselang lima tahun setelah Ensiklopedi Sastra Indonesia (ESI) yang juga karya Hasanuddin. ESI merupakan ensiklopedi pertamanya. ”Dalam politik nasional kita, bahasa merupakan bagian dari kebudayaan. Sastra bagian dari bahasa itu. Kalau sastra ada ensiklopedi, mengapa bahasa enggak ada?”

Tahun 2004 Hasanuddin mengeluarkan ESI yang berisi istilah bidang sastra, tokoh sastra, serta karya sastra. Selagi menyiapkan EKI, Ensiklopedi Sastra Indonesia mengalami perbaikan hingga terbit edisi revisi tahun 2007.

Tugas kliping

Sebelum masuk perguruan tinggi, Hasanuddin mengajar di sekolah dasar. Sebagai guru SD, segala macam ilmu pengetahuan harus dipelajarinya.

Sekolah pendidikan guru (SPG), tempat Hasanuddin menuntut ilmu, mempersiapkan dia sebagai seorang guru, baik dari sisi keilmuan maupun mental. Dia masih ingat, serangkaian ”doktrin” tentang profesi guru yang disampaikan saat di bangku SPG.

”Orang lain boleh salah, tapi guru tidak boleh salah karena guru itu yang digugu lan ditiru. Kalau guru salah, bisa bahaya,” ujar pria yang gemar belajar bahasa daerah di Indonesia itu.

Di SPG pula Hasanuddin belajar tentang bercerita. Bercerita, selain kemampuan memainkan alat musik, rupanya dibutuhkan bagi calon guru SD. Tujuannya agar siswa didik yang berusia belia tertarik mendengarkan materi yang diajarkan guru.

Dari pembelajaran kemampuan bercerita itulah, Hasanuddin mulai tertarik pada dunia sastra. Dia mulai melahirkan serangkaian cerpen dan puisi.

Mulai saat itulah, ketertarikan dia pada dunia sastra bersemi. Setelah menamatkan Fakultas Sastra IKIP Padang, Hasanuddin mengajar di almamaternya hingga kini.

Sekitar tahun 2000 ia mengasuh mata kuliah Sanggar Bahasa dan Sastra. Salah satu topik yang diberikan adalah menata kliping. Sebagai guru, Hasanuddin merasa bertanggung jawab memberi contoh kliping. Lantaran tertarik sastra, jadilah ia mengkliping artikel sastra dari pelbagai koran. Ribuan artikel sastra yang dikliping Hasanuddin tersimpan dalam banyak kardus.

Suatu hari ia membaca buku pintar tentang uang. Informasi dalam buku pintar itu baginya menarik dan enak dibaca. Penulis buku itu mengatakan, buku dilahirkan dari kebiasaan ”memulung” informasi. Hasanuddin lalu teringat koleksi kliping dalam kardus. Mulailah dia menulis ensiklopedi. Sejumlah kliping, baru dia baca ulang saat menuliskan ESI.

Dalam edisi pertama, Hasanuddin bersama tim merampungkan daftar istilah kesastraan. Sejumlah nama dan karya sastrawan belum banyak dimasukkan dalam ensiklopedi ini. Baru pada edisi revisi, nama para sastrawan masuk dalam ESI.

Sebagai pembuat ensiklopedi, ia leluasa memasukkan nama sastrawan Indonesia, baik yang punya sederet karya maupun yang ”sekali berarti setelah itu mati”.

Keberadaan ESI menjadi penting sebagai pencatat sastrawan dan karya yang pernah mewarnai jagat sastra Indonesia. Pada sebuah ensiklopedi sastra dunia, hanya dua nama sastrawan Indonesia yang tercantum: Mpu Prapanca dan Pramoedya Ananta Toer. Padahal, saat merevisi ESI dalam kurun tiga tahun, ia memasukkan tambahan nama dan karya sastrawan Indonesia hingga 250 halaman.

Dua ensiklopedi yang telah ditelurkannya membuat Hasanuddin tak berhenti berpikir. Selagi mengerjakan revisi EKI, dia juga menimbang untuk mulai melahirkan ensiklopedi lain yang lebih spesifik, semisal ensiklopedi artefak Nusantara.

”Kalau tak ditulis, jangan-jangan anak-cucu nanti tak lagi mengenal kebudayaan yang pernah ada di sini. Selain itu, apa yang ada dalam ensiklopedi bisa menjadi klaim Indonesia biar orang di luar tak bisa mengklaim atas materi yang tertulis,” ucapnya.

Ia mengakui dua ensiklopedi yang dilahirkannya bersama tim itu tak sempurna. Porsi penjabaran sastrawan, misalnya, tak semuanya sama. Sastrawan sekelas Sutardji Calzoum Bachri, misalnya, mendapatkan penjelasan panjang dibandingkan dengan sastrawan yang baru lahir.

”Ini semata-mata karena banyak hal bisa diceritakan tentang sastrawan tertentu, semisal Sutardji. Kalau saya menceritakan dia sama dengan sastrawan lain, saya jadi tak menghargainya,” ucapnya.

Hal serupa terjadi pada EKI. Sejumlah penjelasan entri bisa memakan berlembar-lembar halaman, seperti penjelasan tentang Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Namun, ada pula yang beberapa baris saja.

Kritik tentang porsi penjelasan yang tak sama itu menjadi satu dari beragam kritik yang dia terima. Ia menerima kritik itu seraya mengajak tuan-puan pengkritik untuk menghasilkan ensiklopedi yang lebih baik. ”Makin banyak ensiklopedi serupa, semakin baik karena orang bisa punya banyak referensi,” ujarnya.

Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2009/06/hasanuddin-yang-melahirkan-eki-dan-esi.html