Kartini, Sebuah Persona

Goenawan Mohamad
IRB Press, April, 2004

Kartini: satu tokoh epik dan tokoh tragik sekaligus. Dalam pelbagai segi ia memenuhi syarat untuk itu: perempuan rupawan, cerdas, perseptif, pemberontak tapi juga anak bupati Jawa, penuh cita-cita pengabdian tapi juga lemah hati, dan sementara itu terpojok, kecewa, terikat, dan akhirnya meninggal dalam umur 24 tahun.

Tak mengherankan bila pemikir feminisme Indonesia awal ini lebih sering dihadirkan dalam bentuk “siapa”. Sepengetahuan saya, masih sedikit usaha meletakkan pikiran dan argumen Kartini – yang kemudian diterbitkan setelah ia meninggal – dalam kaitannya dengan pikiran dan argumen orang cendekia lain di awal abad ke-20, seperti H.O.S Tjokroaminoto, Tan Malaka, Soekarno, Moh. Hatta, Ki Hadjar Dewantara, S.Takdir Alisyahbana, Syahrir dan lain-lain, ketika masyarakat Indonesia menghadapi soal-soal modernitas dan identitas, kemajuan dan tradisi, kondisi kolonial dan pembebasan, agama dan semangat Aufklärung.

Surat-surat Kartini kepada Stella Hollander, (seorang perempuan muda biasa di Negeri Belanda, yang tahu sedikit-sedikit tentang “Hindia” melalui bacaan dan perspektif kaum “progresif”) dapat bermanfaat untuk itu: membahas Kartini bukan sebagai tokoh, tapi pokok. Dari sini kita akan dapat mengikuti, misalnya, deskripsi dan tinjauannya tentang hubungan antara birokrasi kolonial dan rakyat setempat, antara birokrasi itu dan pemerintahan Hindia Belanda – dalam perbandingan dengan gambaran Multatuli dalam Max Havelaar — penggunaan dan penyalah-gunaan kekuasaan dan simbul-simbulnya, juga reaksinya terhadap keadaan pathologis masyarakat waktu itu, yang hidup di bawah diskriminasi rasial dan apartheid bahasa.

Menarik juga untuk mencoba melihat apa yang tidak disentuh Kartini. Misalnya ketegangan kelas masa itu, antara petani dan priyayi, antara priyayi dan santri — sesuatu yang seharusnya oleh Kartini dirasakan secara dekat, sebab ibu kandungnya sendiri, selir bapaknya, bukanlah dari kalangan priyayi; ia konon berasal dari kalangan pesantren.

Tapi bisa dimengerti bila tentang Kartini orang lebih bicara sebagai tokoh ketimbang pokok. Ide Kartini bukan datang dari ide. Berbeda dengan banyak pemikiran feminisme di Indonesia akhir abad ke-20, apa yang dikatakan Kartini bukan sekadar saduran. Pengaruh luar tentu ada dan penting. Tapi dalam hal Kartini, ide itu berkembang dari tubuh yang langsung menanggung sakit – satu hal yang tak dialami oleh intelligentsia Indonesia yang bukan perempuan ketika mereka berbicara tentang pedihnya hidup orang tertekan di masyarakat kolonial. Mereka laki-laki, dan mereka tak hidup sebagai buruh, tani ataupun si miskin dalam bentuk lain.

Yang ingin saya katakan ialah bahwa bukan karena gagasan feminisme maka Kartini ada, tetapi karena Kartini ada, maka ia seorang feminis.

Persoalannya: bagaimana Kartini “ada”? Kita tak mengenalnya kecuali melalui surat-suratnya. Atau dengan membaca riwayat hidupnya – yang umumnya ditulis dengan bahan pokok ratusan pucuk surat-surat itu. Kita tak mengenal zamannya, kecuali dengan membaca buku sejarah masa itu.

Yang sering dilupakan ialah bahwa tiap sosok yang berbicara selalu hadir sebagai persona: bagaimana ia merepresentasikan diri sebagai respons terhadap orang lain tempat ia berbicara. “Bagaimana” di situ adalah sebuah proses – kita perlu melihatnya sebagai proses – tatkala ia bernegosiasi dengan si orang lain, dengan menggunakan bahasa, untuk menyesuaikan dan mengubah persepsi, untuk merumuskan identitas atau memodulasi identitas itu, untuk memilih apa yang dikatakannya dan apa yang tak dikatakannya.

Dalam sepucuk surat bertanggal 18 Agustus 1899, misalnya, ia menulis: “Sebelum kamu mengatakannya bahkan aku tidak tahu kalau aku keturunan bangsawan.” Tampak bahwa Kartini mencoba meletakkan dirinya dalam suatu latar sosial yang sebenarnya tak persis ada padanannya dalam pengalaman Eropa – dan kemudian menunjukkan sulitnya kedua pengalaman dipertukarkan.

Di dalam bagian surat ini, negosiasi berlangsung tanpa hasil yang memuaskan. Tapi Kartini tampaknya sepakat untuk mengidentifikasikan dirinya, seorang putri priyayi, dengan aristokrasi (“bangsawan”). Pada saat yang sama ia tak menyebutkan kesulitan lain: asal usul dirinya sendiri, yang beribukan seorang selir yang datang bukan dari kalangan yang kini sudah disepadankan dengan “aristokrasi”. Malah yang dikatakannya: “Ibuku masih sangat terhubung dengan Kerajaan Madura” – meskipun Kartini tahu, dan Stella tidak, bahwa “Ibu” di sini bukanlah ibunya sendiri, melainkan ibu tirinya, “permaisuri” Bupati Jepara.

Tentu saja ada yang tak pas di sini, dan saya kira Kartini sadar ia menghadapi satu persoalan yang rumit dan peka. Penyelesaiannya sangat sepadan dengan pandangan egalitarian Stella Zeehandelaar: “Aku rasa tidak ada hal yang lebih menggelikan dan bodoh dari pada orang yang membiarkan dirinya dihormati hanya karena dia keturunan bangsawan”.

Panggil aku Kartini saja, itu namaku. Kami orang Jawa tidak punya nama keluarga. Kartini adalah sekaligus nama keluarga dan nama kecilku, dan “Raden Ajeng’, dua kata ini menunjukkan gelar. Ketika aku memberikan alamatku… tentu aku tidak bisa hanya menulis Kartini, bukan? Hal ini pasti akan mereka anggap aneh di Belanda, sedang untuk menulis jeffrouw (nona) atau sejenisnya di depan namaku, wah, aku tidak berhak untuk itu – aku hanyalah orang Jawa. (24 Mei 1899)

Dalam kutipan-kutipan di atas tampak, bagaimana Kartini yang berbicara di situ adalah Kartini yang harus membentuk diri dan terbentuk dalam sebuah pertemuan: Kartini yang menafsirkan dirinya sendiri untuk lebih mudah dipahami orang “di Belanda”, kemudian untuk dipahami Stella, seorang perempuan di negeri itu yang baru dikenalnya melalui surat.

Sudah tentu salah satu kekurangan besar dalam pembicaraan tentang surat-surat Kartini selama ini ialah tak diketemukannya surat-surat yang ditulis oleh Stella, orang yang pernah menyebut Kartini “pasangan jiwa” itu (surat bertanggal 13 Januari 1900). Seandainya bahan-bahan itu diketemukan, akan dapat diketahui lebih jelas bagaimana persona Kartini terbentuk dan hadir sebagai “Kartini” yang kita kenal selama ini.

Dengan sendirinya, medium sangat berperan penting dalam terbentuknya persona itu. Korespondensi, kita tahu, berbeda dari catatan harian. Catatan harian adalah ibarat sebuah kapsul pesawat antariksa yang berisi seorang astronaut di dalamnya. Dalam catatan harian, seseorang masuk dan diam di sebuah ruang komunikasi yang paling intim, tapi juga berada dalam ruang pikiran dan imajinasi yang hampir tanpa batas. Tak ada orang lain. Atau orang lain itu (seperti dalam catatan harian Anne Frank) diciptakannya sendiri dan berada di bawah ampuannya: teman bicara imajiner itu tak bisa menjawab.

Kecuali bila seseorang sadar bahwa catatan hariannya suatu ketika akan dibaca orang lain, maka ia praktis secara mutlak menguasai ruang komunikasi itu. Ia bisa berbicara apa saja: tentang malasnya suami atau bentuk hidung mertua. Catatannya bisa berperan seperti sebuah curahan konfesional, semacam pengakuan dosa yang tanpa pastur.

Bila catatan harian adalah ekstrim yang satu, media massa adalah ekstrim yang lain. Bila catatan harian ibarat sebuah kapsul pesawat antariksa, media massa ibarat sebuah konser di alun-alun. Ruang komunikasi di sini hampir sepenuhnya publik. Menjangkau sebuah audiens yang besar, berkat teknologi Guttenberg dan kapitalisme-cetak, media massa mengandung paradoks. Ia kuat dalam potensi mempengaruhi, tapi ia juga rentan.

Berbeda dengan para peminat dan partisipan sastra tulis yang diproduksikan dalam bentuk manuskrip, yang “beredar” dan dibaca di kraton-kraton, audiens media massa tak dikenal oleh sang penulis dengan akrab. Sang penulis hanya menduga-duga auidens itu, baik tingkat informasinya maupun potensinya menerima informasi baru, baik nilai-nilainya maupun kecemasannya. Seorang yang muncul di depan audiens yang luas itu bisa merasa dalam posisi kekuasaan. Tapi ia juga dalam sorotan yang tak bisa dikendalikannya.

Kartini, terutama karena posisi sosialnya yang khusus, memilih menampilkan diri dengan cara yang paling elusif:

Apa yang kutulis di surat kabar hanya omong kosong saja…aku tidak diizinkan menyinggung isu-isu penting…Ayah tidak suka bila anaknya menjadi buah bibir orang banyak. (20 Mei 1901)

Ia masih mengambil sikap yang sama setahun kemudian:

…aku ingin [menulis di surat kabar] tapi tidak dengan namaku sendiri. Aku ingin tetap tidak dikenal…di Hindia ini – jika seseorang mendengar tentang artikel-artikel yang ditulis perempuan Jawa, mereka akan segera tahu siapa menulis tulisan itu. (14 Maret 1902)

Dibandingkan dengan kedua ekstrim di atas, surat-menyurat bisa dilihat sebagai sesuatu yang berada di tengah-tengah – antara ruang komunikasi yang intim dan surat kabar. Dalam korespondensi, ada seorang lain yang nyata, yang bisa bertanya dan bereaksi. Tak hanya itu: orang lain itu secara konsisten dapat diidentifikasikan.

Stella Zeehandelaar adalah salah satu dari orang lain itu. Tapi dengan kualifikasi yang khusus: ia “sahabat pena”. Kata ini mengandung ambivalensi. Persahabatan itu terjalin, tapi antara kedua penulis surat belum pernah ada pertemuan secara fisik. Keduanya hanya dihubungkan dengan sebuah instrumen kecil untuk menyampaikan kata-kata, “pena”.

Ambivalensi itu tercermin pula dalam bahasa yang dipakai. Dalam bahasa Kartini, ungkapan ekspresif silih berganti dengan ungkapan komunikatif.

Terkadang ia memasukkan diri ke dalam wilayah pengalaman Stella (ia menyebut sepotong pantai di Laut Jawa sebagai “Klein Scheveningen”, seakan-akan Jepara bisa dibayangkan sebagai Den Haag). Di saat lain ia memasukkan Stella ke dalam wilayah pengalamannya, seperti ketika ia dengan liris dan memukau menceritakan suasana senja di pendopo kabupaten: “Gamelan…yang ada di pendopo itu bisa bercerita padamu lebih banyak dari padaku”.

Tapi dengan kalimat seakrab itu pun, Kartini toh tetap tidak mengungkapkan kepada Stella bahwa ia – yang dengan getir menggambarkan hak laki-laki untuk berpoligami – adalah hasil dari seorang ayah yang beristeri dua. Kartini memilih kata-kata keras untuk melukiskan sikapnya terhadap perkawinan semacam itu: “aku sendiri membenci, menganggap rendah”, dan ia ingin “mengubah keadaan yang tak tertahankan ini”. Tapi sesuatu yang justru dialaminya sehari-hari, di dekat ibu kandungnya yang selir, tetap tak diperlihatkan. Stella, yang menyebutnya dan disebutnya “pasangan jiwa”, tetap seorang asing.

Dalam ambivalensi itu pula, Kartini tiba-tiba bisa memposisikan Stella seolah-olah sahabatnya itu wakil dari keangkuhan dan ketidak-tahuan Eropa.

Seperti terbaca dari suratnya bertanggal 15 Agustus 1902, ia ingin agar Stella tahu, bahwa di Jawa, bahkan di gubuk-gubuk miskin, di antara orang-orang yang tak terpelajar, “kamu akan bertemu banyak pujangga dan seniman”. Sebab menurut Kartini, “orang Jawa dan puisi saling terjalin begitu erat”. Sebagai “bangsa yang memiliki rasa pada puisi…”, bangsa itu “tidaklah rendah dalam peradaban rohaninya”.

Ada sikap melebih-lebihkan di situ: sebuah idealisasi masyarakat Jawa, mirip dengan idealisasi lanskap Nusantara dalam lukisan-lukisan “Mooi Indie”. Tapi ada juga sikap defensif. Stella seakan-akan bagian dari perlakuan yang menganggap rendah “peradaban rohani” orang Jawa; dengan kata lain, bagian dari laku tak adil orang Belanda.

Sikap defensif itu muncul tak hanya di situ. Tulis Kartini dalam surat bertanggal 23 Agustus 1900, “…jangan pernah mengatakan kalau orang Jawa tidak punya hati”.

Saya kira sikap kepada Stella itu datang dari kesadaran yang jamak dalam kondisi kolonial: bahwa sang “bumiputra”, termasuk Kartini, berada terus menerus di dalam “pandangan” orang Eropa – dan bahwa identitas dan harga mereka ditentukan oleh “pandangan” itu dan oleh cara menghadapinya.

Kadang-kadang Kartini dengan jinak menurut. Ia merasa dirinya tak berhak menyebut diri “jeffrouw”. Ia menerima pandangan bahwa orang Jawa memerlukan orang Belanda yang akan “mengulurkan tangan” untuk “mengangkat”-nya (surat bertanggal 13 Januari 1900) – variasi lain dari gambaran imperialisme sejak abad ke-17 tentang “the white man’s burden”. Kita juga tahu kritiknya kepada masyarakat di Jawa, yang meletakkan perempuan dalam posisi terkurung.

Tapi tak jarang ia menampik dan mengelak, menyadari bahwa “pandangan” Eropa itu tak pernah tepat.

“Berapa pun lamanya orang Eropa tinggal di sini, namun mereka tak akan pernah tahu benar-benar hal yang ada di Jawa sini seperti kami”. (6 November 1899)

Ia pun menertawakan prasangka dan stereotipe yang tak jarang dipakai orang Eropa untuk melihat orang Jawa, seperti ketika ia menyebut seorang professor dari Jena yang “menyangka kami masih setengah liar dan ternyata…kami tidak lebih dari orang-orang kebanyakan”.

Ia sadar bahwa ia dan adik-adiknya mendapat perhatian orang-orang Eropa itu, karena gadis-gadis pintar dari Jepara itu ganjil, eksotis, tidak normal dalam ukuran Eropa:

Aku yakin orang tidak akan memberikan seperempat perhatian mereka kepada kami [seandainya kami tidak] memakai sarung dan kebaya, melainkan gaun; [seandainya] selain nama Jawa kami, kami mempunyai nama Belanda…(9 Januari 1901)

Ada sarkasme yang halus dalam kalimat itu: kepedihan sebuah obyek. Dan tak hanya itu. Dari sepucuk surat di awal Januari 1900 saja sudah terasa kemarahan Kartini ketika ia menceritakan bagaimana orang bumiputra diperlakukan hina oleh pejabat-pejabat Belanda, bagaimana pula apartheid dalam penggunaan bahasa meletakkan tiap orang ke dalam satu klasifikasi yang represif.

Tulisnya tentang seorang pemuda terpelajar Jawa yang diberi tempat terpencil oleh Residen Belanda sebagai semacam hukuman: “dia telah belajar mengenal hidup, bahwa tidak ada yang lebih baik…dalam melayani orang-orang Belanda selain daripada merangkak bergumul debu dan jangan bicara bahasa Belanda sepatah kata pun bila dekat mereka…”.

Rasa marah yang terpendam seperti itu, tapi juga rasa tergantung dan kagum kepada mereka yang datang dari Eropa, “sumber peradaban, sumber cahaya”, adalah ambivalensi yang berlanjut terus sampai tahun-tahun terakhir hidupnya.

Agaknya tak mudah menentukan sikap di sebuah masyarakat kolonial yang menyaksikan kekalahan bangsa sendiri dengan pedih. Mungkin pula banyak hal tergantung dari momen dan dari persona Kartini dalam sebuah proses yang berbeda.

Demikianlah dalam sepucuk surat di bulan Oktober 1902, kepada sepasang suami-istri orang Jerman ia menulis: “Kami tak mengharapkan dunia Eropa akan membuat kami lebih berbahagia…Saatnya telah lama lewat ketika kami secara sungguh-sungguh yakin bahwa Eropa adalah satu-satunya peradaban, tinggi-luhur dan tak tertandingi”. Tapi dalam surat yang murung bertanggal 25 April 1903 ia masih mengatakan kepada Stella: “Kau tahu kalau dari dulu, hingga kini, salah satu mimpi terbesar kami adalah pergi ke Eropa untuk melanjutkan pendidikan kami.”

Mungkin ini membingungkan – tapi ambivalensi adalah awal dari nasionalisme Indonesia. “Nasion” dikonstruksikan sebagai bagian dari dorongan modernitas (yang sangat dirasakan Kartini), dan juga sebagai posisi defensif. Bangsa dibentuk untuk melampaui lokalitas dan kekolotan yang menjepit, dan juga untuk merespons pandangan panoptik Eropa yang menguasai discourse. Identitas pun dirumuskan, dan identitas pada dasarnya adalah persona.

*) Naskah ini pertama kali ditayangkan sebagai kata pengantar untuk buku Aku Mau…: Feminisme dan Nasionalisme (Surat-surat Kartini kepada Stella Zeehandelaar) yang diterbitkan oleh Penerbit Buku Kompas bekerjasama dengan IRB Press (April, 2004).