Menguak Tabir Siti Jenar

Judul : Syekh Siti Jenar: Mengungkap Misteri dan Rahasia Kehidupan
Penulis : Mohammad Zazuli
Penerbit : Serambi, Jakarta
Tahun : I, Februari 2011
Tebal : 220 halaman
Peresensi : Muhammad Itsbatun Najih*
http://gp-ansor.org/30494-29102011.html

Ajaran Siti Jenar berupa Manunggaling Kawula Gusti (bersatunya antara hamba dan Pencipta) begitu kontroversial. Banyak pihak mengurai bahwa term penyatuan tersebut bermakna denotatif, bukan konotatif atau simbolis saja. Hal itu bisa dilihat ketika utusan kerajaan Demak menemui Siti Jenar. Namun, jawaban yang terlontar dari Siti Jenar sungguh mengejutkan dengan mengatakan bahwa Siti Jenar tidak ada. Yang ada hanyalah Allah. Ketika si utusan Demak menimpali dengan mengatakan Allah dipanggil ke Demak, Siti Jenar pun menyahut dengan mengatakan Allah tidak ada, Yang ada hanyalah Siti Jenar.

Bicara sepenggal kisah di atas, seperti membaca dongeng saja. Cerita-cerita tentang Siti Jenar hanya tersebar dari mulut ke mulut. Tidak ada catatan sejarah atasnya. Kalaupun ada, hanyalah segelintir saja. Semisal pada kitab Serat Seh Siti Jenar. Tapi, cerita itu pun ditulis pada abad ke 19 atau 500 tahun setelah kematiannya. Artinya selama kurun waktu selama itu dimungkinkan ada banyak reduksi maupun kesalahan tafsir terhadap ajaran Siti Jenar sendiri.

Banyak kalangan waktu itu terutama Walisongo tidak sepakat akan ajaran atau konsep Siti Jenar tersebut. Walisongo menganggap bahwa ajaran Siti Jenar dengan Manunggaling Kawula Gusti-nya telah bertentangan dengan spirit Islam yang menjunjung tinggi ketauhidan (keesaan Tuhan).

Menariknya, Mohammad Zazuli sebagai penulis buku menempatkan Siti Jenar sebagai sosok oposan Kerajaan Demak. Konsep pemahamannya terhadap Islam berbeda dengan konsep Islam ala pihak Kerajaan maupun Walisongo sendiri. Melihat ajaran Siti Jenar yang terus berkembang dan telah mendapat banyak pengikut, timbul semacam keresahan dari Walisongo. Maka dengan menggunakan kedekatan dengan sultan Kerajaan Demak, Siti Jenar diadili yang kemudian berakhir dengan penjatuhan vonis hukuman mati dikarenakan ajarannya yang dianggap sesat.

Unsur politik dan tirani mayoritas telah menghancurleburkan Siti Jenar. Sangat mirip dengan situasi keagamaan sekarang di mana pemerintah sering menekan keyakinan kelompok tertentu yang dianggap berseberangan.

Namun, apakah ajaran Manunggaling Kawula Gusti benar-benar sesat? Mohammad Zazuli mencoba untuk menafsirkannya dengan bahasa yang sederhana namun mendalam. Ia mengungkapkan bahwa Tuhan adalah sumber kehidupan. Tuhan bersemayam di pusat kehidupan dan hati nurani yang terdalam dari semua insan. Maka ketika kita menyadarinya, praktis akan menumbuhkan individu yang selaras dan seimbang dan menjadi manusia yang selalu menebarkan kebaikan ke seluruh alam.

Terlepas sesat atau tidak ajaran tersebut, namun sudah menjadi kewajiban kita semua untuk merenungkan identitas sebagai orang yang beragama namun pada sisi lain laku korupsi, kecurangan, dan semaraknya kebohongan telah menjadi budaya baru. Selama ini, laku ritual ibadah hanyalah dijadikan sebatas simbol ketaatan yang kering akan penghayatan. Dengan memunculkan kesadaran akan nilai-nilai Tuhan dalam jiwa (penghayatan), pastinya laku ritual akan membuahkan individu-individu yang bermartabat.

Itulah inti ajaran Siti Jenar yang coba dikembangkan serta diaktualisasikan dengan kondisi bangsa saat ini oleh Mohammad Zazuli.

*Mahasiswa Bahasa & Sastra Arab UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta