Asmara Nababan dalam Kenangan

Ignas Kleden
Kompas, 1 Nov 2010

Asmara Nababan meninggal dunia pada suatu hari yang seakan menjadi keinginannya sendiri: 28 Oktober 2010 Hari Sumpah Pemuda, setelah lebih dari setahun menderita kanker paru-paru.

Gejala pertama yang sempat diceritakannya ialah ketika dia kembali ke kampung halamannya di Siborong-borong, Tapanuli Utara, pada Desember 2008, untuk merayakan Natal di sana. Suatu pagi ketika dia sedang melakukan joging, tiba-tiba saja dia kena serangan yang membuatnya tak sadarkan diri dan harus ditolong orang dengan membawanya ke rumah sakit. Continue reading “Asmara Nababan dalam Kenangan”

Akulah Melayu yang Berlari

(Percakapan-percakapan yang Tak Selesai tentang Ideologi dan Identitas Kultural)
Marhalim Zaini *
Riau Pos, 13 Nov 2011

HARI INI, Riau, adalah juga sebuah negeri yang sedang sibuk menyusun katalogus identitas dirinya. Seolah ada kesadaran baru yang bangkit dari ‘katil tua’ masa silam untuk kembali menegakkan tonggak-tonggak sejarah. Dan Melayu, adalah sebuah tonggak peradaban yang hendak (kembali) ditegakkan itu. Continue reading “Akulah Melayu yang Berlari”

Antara Kho Ping Ho dan SH Mintardja

Teguh Setiawan
Republika, 14 Nov 2011

KEDUA berutang pada penerjemah Cerita Kungfu, dan keduanya membentuk identitas keindonesiaan masyarakatnya masing-masing.

“Saya menulis untuk mencurahkan hati saya. Dengan menulis, saya bisa melepaskan persoalan penindasan yang ada di dalam batin. Sebagai contoh, dalan kehidupan sehari-hari saya sering menjumpai ketidak-adilan, penindasan, dan kerakusan, tapi saya hanya bisa marah dalam hati. Continue reading “Antara Kho Ping Ho dan SH Mintardja”

Bahasa »