Iwan Simatupang, Pembaru Sastra Indonesia

Nelson Alwi
suarakarya-online.com

IWAN Simatupang, lengkapnya Iwan Martua Dongan Simatupang, merupakan bungsu dari lima bersaudara. Lahir di Sibolga, Sumatera Utara, pada 18 Januari 1928. Dan wafat di Jakarta 4 Agustus 1970. Pendidikan Iwan di SMA Padang Sidempuan terhenti karena Agresi Belanda II (1948), lalu ia pun aktif sebagai Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP). Setamat HBS V/B Medan (1953) ia masuk Sekolah Kedokteran Surabaya, tidak tamat, lantaran berangkat ke Negeri Belanda. Continue reading “Iwan Simatupang, Pembaru Sastra Indonesia”

Puisi Gelap dan Multi Tafsir Pembaca

Ribut Wijoto
Radar Surabaya, 20 Nov 2011

Adalah sah mengapreasi karya teman-teman satu komunitas dan dipublikasikan ke media massa. Apresiasi yang bagus bakal memperkaya kesusastraan Indonesia. Kegiatan ini menjadi lebih penting karena situasi sastra Indonesia yang semakin jauh dari ranah apresiasi. Esai yang lebih subur justru tentang polemik. Hanya saja, apresiasi tersebut tentu ada batasnya. Jangan sampai apreasiasi disalahgunakan untuk menyerang karya komunitas lain. Apalagi dengan penjelasan dan pemaparan yang sangat minimalis. Kesan yang muncul menjadi sebatas menghujat. Continue reading “Puisi Gelap dan Multi Tafsir Pembaca”

Asrul Sani: Puisi Gigantis dan Cerpen Rumah

Eka Kurniawan
Kompas, 31 Mei 2007

Melalui kajian puisi dan cerpen Asrul Sani yang nisbiah jarang jumlahnya dibandingkan dengan esainya, terlihat bahwa cerpen-cerpen Asrul adalah cerpen ide, puisi-puisinya sarat dengan beban ide.

Dalam sepucuk esainya mengenai puisi Angkatan 45, atau dengan ungkapannya disebut sebagai generasi saya sendiri, Asrul Sani menulis: Continue reading “Asrul Sani: Puisi Gigantis dan Cerpen Rumah”

Tabiat yang Kita Warisi

Rosihan Anwar
Pikiran Rakyat, 09 Maret 2005

ORANG Indonesia sekarang tidak ingat lagi atau tidak tahu pamflet historis yang ditulis oleh Sutan Sjahrir, disiarkan tanggal 10 November 1945—lima hari sebelum diangkat jadi perdana menteri pertama Republik Indonesia. Buku kecil berjudul “Perdjoeangan Kita” (PK) berisi gambaran tentang keadaan bangsa Indonesia pada akhir pendudukan Jepang selama 3,5 tahun dan pada awal zaman revolusi perjuangan kemerdekaan. Sjahrir waktu itu berusia 36 tahun. Continue reading “Tabiat yang Kita Warisi”

Bahasa »