Trasimeno & Rencana Berladang

Ihsan Taufik
http://www.kompasiana.com/ihsan_taufik

Indonesia merupakan suatu Negara yang mempunyai ciri khas yang tidak dimiliki oleh Negara lain, salah satunya ialah memiliki banyaknya keanekaragaman bahasa yang dimana dengan semua itu telah menciptakan suatu tradisi tulis menulis yang menghasilkan banyaknya karya sastra salah satunya puisi. Hal ini bukan suatu perkembangan yang instan, butuh proses yang panjang karena menulis merupakan sebuah proses panjang di sepanjang sejarah peradaban kehidupan manusia.

Dengan banyaknya keanekaragaman bahasa yang ada di Indonesia, gaya bahasa perpuisian yang ditulis/dihasilkan berbagai penyair pun akan semakin kaya dengan banyaknya diksi yang tersaji, bahkan karya sastra yang di tulis oleh seorang etnis tertentu belum tentu bisa dinikmati oleh golongan etnis lainnya yang berbeda. Karena sastra merupakan bagian dari kebudayaan yang di tentukan oleh tata letak geografi. maka Indonesia merupakan suatu negeri yang kaya dengan karya sastra yang bisa di bandingkan. Membandingkan suatu karya sastra di rasa sangat perlu karena dengan membandingkannya kita bisa mengetahui persamaan dan perbedaannya.

Akan tetapi dengan banyaknya penduduk Indonesia yang notabene “tabu” terhadap perkembangan kesusastraannya, menjadikan karya sastra Indonesia nyaris tak terdengar. Dan gaya penulisan karya sastra (puisi) nya pun terbilang sangat stagnan, terlihat dari banyaknya penyair yang melulu menuliskan puisi tentang cinta yang menyayat hati, kematian yang membuat cengeng. Dengan itu semua menjadikan para penikmat karya sastra selalu di suguhi hal yang itu-itu saja dan efeknya terasa sangat membosankan.

Dengan demikian, banyak para penyair yang merasa gagal/mencapai kegagalan. Sampai-sampai Budi Darma (BD) menghawatirkan sikap para penyair yang jauh dari aspek kreativitas, (baca esai BD: Solilokui, Gramedia, 1984). Kekhawatirannya ternyata masih terasa hingga sekarang bahkan semakin memperihatinkan. Kekhawatiran BD senada dengan Radar Panca Dahana (RPD) yang juga khawatir pada urusan non artistic seorang penyair:

Seorang penyair akan mati jika stamina batin dan pikirannya sudah tak mampu lagi mengantisipasi diri, dunia, dan medium kreatifnya dengan baik…. Dan saya mesti berani menyatakan bahwa banyak atau kebanyakan penyair baik telah menjadi zombie, atau nekat menjadi penyair “tisu” (puisi sekali jadi sekali buang), penyair “speaker” (lebih retorik ketimbang puitik), bisa juga “asongan” (puisi jadi komoditi murahan untuk proyek pemuas perabot rumah tangga).

Oleh karena itulah, saya di sini mencoba untuk mengapresiasi dan meneliti beberapa puisi yang menurut saya jarang sekali para pembuat puisi (penyair) yang berani menulis puisi dengan tema yang lain dan berbeda, salah satunya puisi bertemakan tentang alam. Dan teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah konsep nature dari Plato.

TRASIMENO
Acep Zamam Noor

Sebuah danau
Hamparan sajadah biru
Adalah ketenangan tiada tara:
Angin dan kabut, barisan pohon-pohon
Dahan-dahan menggeraikan rambut ikalnya
Ranting-ranting mencelupkan jemarinya
Napas gunung mengalun tenang
Di bawah langit merah padam

Permukaan danau
Tak terusik bunyi serangga
Asap kelabu mengepul dari tungku
Seperti kerudung yang membelit senja
Dengan rumbai-rumbai kuning di ujungnya
Di depanku, kecipak air menjadi nyanyian
Rumput di tepian menjelma lukisan
Di antara garis hitam dan bidang hijau tua

Balkon, meja, kursi serta segelas kopi
Adalah percakapan yang sunyi:
Puisi selalu hadir di antara kesendirian
Dan kecemasan. Puisi menggenang di lantai kayu
Puisi mengambang di lapisan udara beku
Puisi menuntunku dekat padamu

Sebuah wajah tanpa wujud
Bayang-bayang gaib yang menjelma
Di keremangan. Aku sembahyang
Bersama burung-burung migran
Melewati dermaga, pulau demi pulau
Melewati masa lalu yang jauh
Melewati sejumlah dusun dan kota-kota

Kulihat bukit-bukit bersujud
Pohon-pohon merunduk, daun-daun basah
Lampu-lampu meredupkan cahaya
Angin dan kabut bergulung di angkasa
Senja membelitkan kerudung kuningnya
Semuanya bersujud padamu. Sebuah danau
Hamparan sajadah bagi semesta
Adalah ketenangan yang sempurna

(Dalam buku antologi puisi Diatas Umbria)

RENCANA BERLADANG
Jimmy Maruli Alfian

Bagaimana mungkin bercocok tanam
Kalau perangaimu masih kau peram?
Belum lagi bibit angan-angan yang kau sebar
Lebih dulu subur dari semak dan belukar

(oi, tanjung karang Cuma dongeng
Gajah mati di seberang sungai
Betapa sayang kau tak cengeng
Meratapi ladang terkulai masai)

Sebenarnya aku ingin sekali menemani
Di lereng yang dekat sekali dengan takdir
Mengumpulkan rumah siput, daun tangkil,
Bergulingan, lalu aku jatuh ke dalam jurangmu
Dan kau sasar di belantaraku

Namun adakah batang jagung berbuah
Bila kau tak rajin memupuk dan menengoknya?
Belum lagi belalang dan jahil tetangga
Selalu membuat was-was dan prasangka

Aku sudah tertarik meninggalkan kota
Rumah yang seragam memaknai cinta
Tapi adakah kau menjamin
Memberiku dangau dengan cuaca yang lain?

(oi, teluk betung si kota sampah
Bebatang dammar di hutan belantara
Betapa nikmat terkurung silsilah
Bak pendekar tak bermuka tak bersenjata)

Makanya aku sudah berbekal jimat
Dan sebuah batu akik yang harus kau kenakan
Aku membayangkan betapa keramat
Ladang yang akan dirawat

Juga sebuah lagu pop dan mainan halma
Untuk berjaga-jaga kalau gagal panen
Lantaran tabiatmu tak mampu ku siangi

Bahkan kumiliki

(dalam buku antologi puisi festival mei)

ANALISIS
Seacara denotative saya dapat menginterpretasi dari alur cerita puisi TRASIMENO karya Acep Zamzam Noor, bertemakan tentang alam, terdiri dari seorang tokoh yang sedang sembahyang di tepian danau seperti dalam bait awal di jelaskan “Sebuah danau, Hamparan sajadah biru, Adalah ketenangan tiada tara:” disini si penulis (penyair) memakai sudut pandang orang pertama untuk menceritakan tokoh utama, terlihat dari beberapa larik si penulis menggunakan kata “ku”.

Tokoh utama “ku” yang sedang berada di danau dan di alam bebas merasa tenang ketika sedang sembahyang diantara barisan pohon-pohon, di bawah langit merah padam (senja/sore), suasana danau yang tak terusik bunyi serangga, hanya ada suara kecipak air danau yang seperti sebuah nyanyian, ketika tokoh utama “ku” sedang sembahyang dalam keremangan bersama burung-burung migran yang sedang melewati dermaga, seketika itu dia “ku” seperti teringat pada masa lalunya yang terbayang seperti sebuah wajah tanpa wujud yang menjelma bayang-bayang gaib, lalu dia “ku” melihat sebuah bukit-bukit sedang bersujud, pohon-pohon merunduk, dan semuanya bersujud hanya pada Yang Maha Kuasa.

Diksi “Sebuah danau
Hamparan sajadah biru
Adalah ketenangan tiada tara:
Angin dan kabut, barisan pohon-pohon
Dahan-dahan menggeraikan rambut ikalnya
Ranting-ranting mencelupkan jemarinya
Napas gunung mengalun tenang
Di bawah langit merah padam”
Dalam bait pertama dalam teks puisi di atas bisa bermakna ketenangan/khusuknya si tokoh utama ketika sedang beribadah di atas hamparan sejadah biru di sebuah danau dengan semilir angin yang dikirim dari pepohononan dan dahan-dahan, seketika itu angin/udara pegunungan menjadi tenang dan segar dan suasana danau menjadi sangat sunyi ketika hanya ada satu orang di sana, tokoh utama sedang beribadah dengan khusuk karena disitu tak ada suara apapun walau terkadang ada suara kecipak air yang dia dengar seperti sebuah alunan nada.

seperti yang di tulis dalam bait ke dua:
“Permukaan danau
Tak terusik bunyi serangga
Asap kelabu mengepul dari tungku
Seperti kerudung yang membelit senja
Dengan rumbai-rumbai kuning di ujungnya
Di depanku, kecipak air menjadi nyanyian
Rumput di tepian menjelma lukisan
Di antara garis hitam dan bidang hijau tua”

Dalam setiap kata, larik demi larik dalam bait kedua itu bahwa di tempat itu (danau) ketika sore hari atau senja tak ada bunyi suara serangga, disitu ada sebuah tungku yang mengepul yang menutupi pandangan si tokoh utama pada langit senja, tapi dia mendengar ada suara kecipak air danau yang menjadi nyanyian diantara tepian rerumputan yang terlihat seperti lukisan atau gambaran suasana alam yang hijau. Puisi ini menunjukan salah satu keterampilan berpuisi dalam melakukan pencitraan dan menciptakan deskripsi; melukiskan suasana alam dalam gambaraan yang benar-benar nyata yang sangat indah bila di cermati oleh imajinasi. Dan puisi ini sangat indah, cemerlang kadang mengejutkan karena si penyair memang mempunyai kemahiran dasar berpuisi.

Pada puisi RENCANA BERLADANG karya Jimmy Maruli Alfian juga ditemukan kesamaan dengan puisi TRASIMENO karya ACEP Zamzam Noor yaitu penulisan puisi bertemakan tentang alam, namun ada sedikit ketidaksamaan pada kedua makna puisi tersebut, puisi RENCANA BERLADANG berceritakan tentang bagaimana si penyair mengungkapkan kekecewaan kepada seseorang bahwa si seseorang, namun selalu dia rindukan kehadirannya. ini terlihat dari bait pertama si penyair menuliskan “Bagaimana mungkin bercocok tanam/Kalau perangaimu masih kau peram?” kemudian juga dari bait ke empat “Namun adakah batang jagung berbuah/Bila kau tak rajin memupuk dan menengoknya?” dari kata-kata itu saya dapat menginterpretasikan maksud dari tiap bait itu bahwa seseorang yang dia maksud menyembunyikan perangainya, walau akhirnya dia selalu berharap kedatangan seseorang itu bahkan ingin memilikinya, seperti dalam bait-bait terakhir “Makanya aku sudah berbekal jimat/Dan sebuah batu akik yang harus kau kenakan/Aku membayangkan betapa keramat/Ladang yang akan dirawat/Juga sebuah lagu pop dan mainan halma/Untuk berjaga-jaga kalau gagal panen/Lantaran tabiatmu tak mampu ku siangi/Bahkan kumiliki”

Sedangkan puisi TRASIMENO karya ACEP Zamzam Noor tentang ritual religious seseorang. Dari segi kata yang di tuangkan dalam puisinya itu tentang pendeskripsian/gambaran alam yang sangat sunyi dan seseorang sedang beribadah. Memang sudah lazim bila ingin melakukan ritual sembahyang dengan khusuk harus di tempat sunyi dan tidak ada suara bising yang mengganggu pikiran kita, disini si penyair menuliskan gaya bahasa puisinya dengan sangat apik dan halus. Seperti di awal bait “Sebuah danau/Hamparan sajadah biru/Adalah ketenangan tiada tara:” “Aku sembahyang/Bersama burung-burung migrant/Melewati dermaga, pulau demi pulau” “Semuanya bersujud padamu. Sebuah danau/Hamparan sajadah bagi semesta/Adalah ketenangan yang sempurna”

Sepintas saja, ketika saya membaca awal puisi ini atau tepatnya dari judulnya saja “RENCANA BERLADANG” merupakan tema pokok dan gagasan utama yang ada dalam puisi tersebut yang menjadi landasan pembicaraan puisi ini adalah tentang alam.
Dengan banyak menggunakan diksi yang identik dengan alam: bercocok tanam, semak dan belukar, ladang, lereng, daun tangkil, belantara, hutan belantara, dan panen.”

Puisi ini adalah sajak yang berkaitan dengan kegiatan bercocok tanam. “Bagaimana mungkin bercocok tanam/Kalau perangaimu masih kau peram?” “Namun adakah batang jagung berbuah/Bila kau tak rajin memupuk dan menengoknya?” “Makanya aku sudah berbekal jimat/Dan sebuah batu akik yang harus kau kenakan/Aku membayangkan betapa keramat/Ladang yang akan dirawat”

Dalam puisi ini si penyair memberikan kesegaran pada khazanah puisi Indonesia, bukan karena ia telah mengerjakan sesuatu yang belum dikerjakan (secara intens) oleh penyair-penyair lain, melainkan juga karena ia menggarapnya dengan perspektif dan tekhnik yang bukan sembarangan. Dalam puisi ini (RENCANA BERLADANG/Karya: Jimmy Maruli Alfian) telah mengolah sedemikian rupa sebuah ritual bercocok tanam untuk mengungkapkan sesuatu yang sangat tragis dalam masalah cinta kerinduaan si penyair kepada seseorang yang tak kunjung hadir. Dari segi sintaksisnya dalam puisi karya Jimmy Maruli Alfian, banyak ditemukan gaya bahasa yang sangat sulit dipahami karena menggunakan gaya bahasa metaphor yang sangat tajam, namun ada juga sebagian kata-kata di salah satu bait yang menggunakan gaya bahasa yang sederhana dan memungkinkan bagi si pembaca bisa memahaminya, seperti dalam kata “Namun adakah batang jagung berbuah/Bila kau tak rajin memupuk dan menengoknya?” dan sudah saya tulis sebelumnya bahwa puisi ini berceritakan tentang kerinduaan kepada seseorang yang tak kunjung hadir. Tapi ada sebagian kata dalam puisi ini yang sangat begitu asing atau jarang di dengar oleh halayak ramai seperti kata: peram, masai, damar, mainan halma”

KESIMPULAN
Tema dari kedua puisi tersebut adalah tentang alam

DAFTAR PUSTAKA
• Anggoro 2004. Donny Anggoro, Sastra Yang Malas Obrolan Sepintas Lalu, Solo: Tiga Serangkai
• Damono 2005. Sapardi Djoko Damono, Pegangan Penelitian Sastra Bandingan, Jakarta: Pusat Bahasa
• Ratna 2006. Prof. Dr. Nyoman Kutha Ratna, S.U, Teori , Metode, dan Tekhnik Penelitian Sastra, Yogyakarta: Pustaka Pelajar
• Jurnal Sajak, Depok, Tahun I 2011
• Antologi Puisi Festival Mei, 2oo6. Bandung: TITIAN

Dijumput dari: http://fiksi.kompasiana.com/prosa/2011/06/25/sastra-bandingan-trasimeno-rencana-berladang/