Tukang Stempel Menggotong Puisi Gelap

Fahrudin Nasrulloh*
Radar Surabaya 27 Nov 2011

Perhelatan karya dalam kancah sastra di Jawa Timur yang sempat saya amati sejak 2009 hingga sekarang cukup menggembirakan sekaligus mampu mengocok dan menyogrok kembali nyala proses kreatif siapa pun yang berderap di dalamnya. Sebagian besar berpusaran pada puisi dan kepenyairan. Sementara cerpen dan novel tak banyak dihasilkan apalagi memicu polemik dengan sambutan gempita. Beberapa hari lalu tiba-tiba saya di-SMS teman: “menurutmu penyair jawa timur masa kini yang di luar mainstream siapa, nas?”

Saya bingung menjawabnya sebab tak memiliki rekam-jejaknya. Saya juga agak heran kenapa pertanyaan itu tertuju ke saya. Lalu saya kontak Mardi Luhung dan mengobrolkannya via telpon. Saya yang awam soal perkembangan sastra di Jatim hanya sebatas meraba-raba. Penjelasan Mardi cukup menggelar peta kecil dan kecenderungan-kecenderungan estetika para penyair Jatim dan bandingannya dengan estetika penyair di luar Jatim juga modus pengaruh-mempengaruhi. Karena obrolan itu menjelang Jum’atan, dan saya belum sepenuhnya mendapat data-terang segamblangnya dari Mardi, maka SMS teman saya itu sekenanya saya balas pendek: “Mainstream yang bagaimana, bang?” Dan ia menjawab: “Di luar lirisisme, di luar sufisme dan di luar kegelapan.”

Dari situ lalu saya teringat kembali esai Ribut Wijoto di koran ini: “Inilah Lima Penyair Jatim Terbaik” (Radar Surabaya, 23 Oktober 2011) kemudian ditanggapi Umar Fauzi Ballah dengan esai “Ketokohan dan Strategi Proses Kreatif” (Radar Surabaya, 6 November 2011) dan selanjutnya diklarifikasi oleh Ribut dengan esai “Puisi Gelap dan Multitafsir Pembaca” (Radar Surabaya, 20 November 2011). Esai Ribut yang pertama bagi saya terkesan seolah-olah ia pegawai Dinas Kependudukan yang punya hak kuasa menyortir berkas-berkas puisi penyair ini penyair itu, agar punya “KTP Penyair Terbaik”, dan yang tidak memenuhi kelengkapan syaratnya harus minggir dan otomatis tak mendapatkan stempel darinya. Watak “tukang stempel” ala Orba dalam sastra (atau kesenian) beginian sungguh ironik. Saya kira tak perlu hal itu dilakukan, kecuali, ya kecuali ia tukang stempel bokong sapi yang akan dikurbankan. Alangkah lebih baik dan cap jempol jika Pak Ribut ini bikin analisis yang mendalam dan serius kayak kritikus beneran ihwal 5 penyair yang menurutnya terbaik itu lalu diterbitkan dengan biaya dari koceknya sendiri dan dicetak 5000 eksemplar lalu dibagi-bagi, tentu jika ia punya rejeki.

Berikutnya, pola stempelisasi terus bergerak kala pernyataan Pak Ribut tentang penyair Alek Subairi dalam esainya “Puisi Gelap dan Multitafsir Pembaca”: saya menilai dia belum layak masuk dalam daftar 5 penyair terbaik Jawa Timur. Kalau 100 penyair terbaik Jatim, bisa jadi. Saya beberapa kali membaca puisi Alek dan menilai karyanya sudah bagus namun belum terlalu istimewa.” Ini kan pendapat, jadi sah-sah saja. namun dalam kapasitas apa ia bilang begitu. Sebatas teman ngopi atau pengulas yahud sekaliber Ignas Kleden misalnya? Atmosfir bersastra kayak beginikah yang disebut polemik? Atau cuma main “tebang” karya orang atau atas nama perkubuan yang lebih tersamar? Ini tampaknya bukan polemik yang bermutu, karena tak mampu menciptakan gerakan sastra dengan gagasan besar dalam ruang publiknya sebagaimana polemik Sastra Kontekstual di era 80-an, tapi sekedar “percincongan” antar individu dan komunitas yang dilatenkan dengan genit dan cuap-cuap doang lewat karya. Kondisi macam gini di waktu berikutnya kiranya hanya akan melahirkan karya-karya yang meletihkan dan mudah ambruk.

Tapi sebentar, bisa jadi prasangka saya yang demikian keliru dan nggladrah, itu bisa diuji. Dengan beberapa catatan bahwa apa yang disorong oleh Pak Ribut justru merupakan sebentang tahapan diskursif yang dinamik yang dapat terus digulirkan, asal dengan cara yang elegan. Misalnya lontaran gagasannya tentang 25 tahun masa depan sastra Jawa Timur dalam Festival Seni Surabaya 2010. Salah satu yang mencuat dalam forum ini adalah apa yang dikatakan Budi Darma soal eksistensi komunitas sastra yang tidak lagi menjadi barometer untuk menilai kualitas karya sastra. Komunitas hanyalah seperti gerobak. Bisa disorong oleh siapa saja. Tetapi tetap kembali pada masing-masing individu. Gagasan Pak Ribut itu akan lebih matang jika dilengkapi semacam hasil pemetaan seluruh penulis dan karyanya serta komunitas sastra di Jatim sehingga para pembicara saat itu seperti Afrizal Malna, S. Yoga, dan Kris Budiman tidak membikin esai dari “pembacaan sepintas”, meraba-raba arah mata angin dalam derasnya karya sastra di jagat internet.

Pada FSS di akhir tahun 2011 ini, puisi yang dianggap gelap dalam kumpulan puisi Syair Pemanggul Mayat Indra Tjahyadi dimenangkan dan diterbitkan. Ini yang gelap puisinya atau jalan proses kreatif penyairnya yang memilih dunia maut, mayat, tubuh perempuan, dan karena itu puisi-puisinya berselubung misteri. Maka bagi Indra dalam pengantarnya, ketika dunia semakin banal, tugas penyair adalah menyelamatkan manusia dengan cara menghancurkan dunia untuk kuasa menemukan kemurnian dan kemurnian itu adalah surga. Ia sengaja melakukan apa yang ia sebut sebagai strategi penggelapan dengan mengacaukan pemaknaan untuk merengkuh makna-makna baru. “Manifesto Puisi Gelap”nya ini terus digaung-gaungkan terutama lewat corong Pak Ribut. Politik sastra harus dibunyikan. Juru kampanye karya adalah pula mengibarkan bendera untuk mengangkat karya.

Saya kira terlalu selangit jika Indra menyebut bahwa tugas penyair itu menyelamatkan manusia. Apanya yang diselamatkan? Diselamatkan dengan cara memberi sembako pada si miskin, ngasih gaji bulanan pada seniman terlantar, memberi Tali Asih tiap menjelang hari raya pada semua seniman Jatim, bla-bla-bla. Rendra dan Chairil Anwar itu penyair besar, apa puisi mereka menyelamatkan manusia Indonesia yang melahirkan pemerintahan yang bobrok penuh koruptor ini? Jadi “konkritnya” tugas penyelamatan yang bagaimana, Bung? Dan untuk apa dunia dihancurkan untuk melahirkan puisi yang begituan? Apa hebatnya puisi itu dibanding iklan “wani piro” rokok Djarum 76?

Penyair itu bukan nabi. Ia hanya manusia berdaging yang menulis puisi dan memberi “suara lain” atas nama eksistensinya yang fana yang sekadarnya. Penyair itu tak lebih dari penjual mie ayam yang bersetia berjualan dengan jujur-sumeleh tanpa mencampur daging ayam dengan daging tikus wirok. Puisi bahkan tak lebih kayak kentut, yang bebas keluar, setelah 20 hari si sembelit menghajar anusnya. Dan karena bobot puisi yang diangkat Indra mungkin terlalu tinggi dan terlalu gelap, jadinya maaf bila saya kurang nyandak, atau gak nutut gitu loh. Akan lebih enak jika puisi ini atau itu disebut “puisi lezat” atau “puisi sedaaap” atau puisi “mak nyuss”. Bukan puisi gelap. Mungkin puisi gelas adalah puisi yang ditulis di kamar gelap atau ditulis pas listrik mati. Entahlah.

Apa pun yang bergeliutan di sana, namanya juga tafsir, saya pribadi aplus pada dinamika sastra Jatim. Penuh debat dan intrik. Letupannya selalu berkelojotan. Inilah “Sastra Ken Arok”, dulur. Bagi yang lengah, pemalas, dan sekedar ngopi-ngopi saja, kerapkali dicap stagnan. Gugur tinggal cerita. Tinggal kentutnya. Maka, setiap seniman, kata Albert Camus, hari ini naik perahu kuno perbudakan kontemporer. Dia harus menyerahkan diri untuk ini. Kita berada di lautan yang bergelombang. Seperti semua orang lainnya, seniman harus tunduk pada kayuhnya, tanpa mati jika mungkin — dengan kata lain, terus hidup dan berkarya. Karena itu marilah kita terus maju. Ini adalah taruhan generasi kita.
_______________________
*Fahrudin Nasrulloh, bergiat di komunitas Lembah Pring Jombang.