Sardi Kolot Gembel Kesohor

Iwan Nurdaya-Djafar
http://www.lampungpost.com/

JEJARING sosial, kata orang, bisa membuat kenangan masa kecil hadir kembali. Setidaknya ini terjadi tatkala sobatku Dahta menulis status di akun Facebook-nya, “Aku bukan anak Tanjungkarang. Aku anak Hajimena. Tapi aku sering nongkrong di Tanjungkarang saat SMA. Jadi aku tidak tahu siapa gerangan Sardi Kolot. Jika berkenan, ceritakanlah padaku tentang Sardi Kolot….”

Membaca status itu, aku serasa terlempar ke masa kanak yang jauh dan tergerak untuk menceritakannya. Sardi Kolot adalah gembel kesohor di Tanjungkarang sejak tahun 60-an hingga 90-an. Perawakannya gemuk-pendek, berkulit hitam, berambut rada ikal. Tingginya sekira 155 dengan bobot sekitar 60. Dia lelaki lemah akal, jika bukan setengah gila. Sardi dikaruniai umur panjang, tentu saja berikut kesintingannya yang panjang pula. Berdasarkan daftar cabut, nyawa Sardi diambil Tuhan pada usia 70-an.

Saban pagi Sardi ke luar dari rumah sederhananya di bilangan Empang, Lebakbudi. Diayunkannya langkah menuju Pasar Bambukuning yang tak jauh dari rumahnya. Ke mana pun Sardi berjalan, dia selalu menenteng batu di tangannya demi menjaga dirinya dari gangguan anak-anak nakal atau buat menimpuk orang yang tak mau memberinya sekadar uang recehan.

Kemunculan Sardi di tengah khalayak ramai selalu menimbulkan kepanikan. Dia tampil sebagai sosok yang mengancam. Berdekat-dekat dengan Sardi adalah sewujud kengerian. Berjauh-jauh dari Sardi adalah sebentuk rasa aman.

“Awas, ada Sardi Kolooooooot…,” pekik seseorang begitu melihat Sardi melintasi kawasan pasar. Khalayak ramai pun segera menyingkir. Anak-anak berlari ketakutan. Saking ngerinya, terdengar jua ledakan tangis dari seorang anak yang penjirih dengan air muka pucat pasi yang tengah diburu oleh Sardi. Anak itu lari terbirit-birit bersama pekik ketakutannya. Bukan mustahil dia terkencing-kencing juga di celana.

“Tolong, toloooooonggg…,” pekik anak itu seraya berlari menjauh.

Sardi terus mengejarnya. Anak itu berlari laksana kilat dan menghilang ke balik sebuah tikungan.

Demikianlah, Sardi kerap melancarkan serangan dengan mengejar dan menimpuki sesiapa saja yang berada di dalam jangkauan lemparan tangannya. Tanpa segan dia akan mengejar anak-anak nakal yang mengganggunya. Tanpa segan dia akan menimpuki orang yang ogah memberinya uang. Menariknya, dia tak pernah tampil memelas seperti lazimnya peminta-minta manakala dia meminta uang kepada siapapun saja. Dia justru tampil gagah perwira di dalam aksinya memalak orang. Jiwa preman benar-benar telah bersarang di dalam jiwanya yang sudah terganggu kelewat lama. Tanpa babibu, dia bisa mendadak mengejar serombongan remaja perempuan yang boleh jadi di dalam kesintingannya dirasakannya sebagai ancaman. Atau boleh jadi juga secara merahasia dia ingin mendapatkan perhatian dari jenis kelamin yang lain. Bagaimanapun jua, Sardi juga manusia, lengkap dengan nafsu syahwatnya. Sardi adalah seorang bujang lapuk, hidup sebatang kara, tanpa istri dan anak, namun tetap memiliki nafsu biologis agaknya. Sungguhpun begitu, tak terbetik cerita bahwa Sardi pernah terlibat kasus pemerkosaan atau merudapaksa perempuan. Dia tidak punya tampang pemerkosa atau seorang pedofilia.

Sebaliknya, ada kalanya pula justru Sardi yang menjadi bulan-bulanan karena dijadikan incaran gangguan oleh serombongan anak lelaki yang nakal. Merasa terusik, dia akan mengejar anak-anak itu sembari melesatkan batu-batu yang ada di tangannya. Khalayak ramai sudah mafhum atas perilaku aneh Sardi itu dan menganggapnya sebagai suatu kelaziman. Kelaziman nan zalim, mungkin.

Dari arah pasar, Sardi biasanya akan melanjutkan perjalanannya menuju Gedongdalam di bilangan Enggal. Dan itu berarti dia akan melintasi gang di sebelah rumahku. Aku hafal benar dengan jadwal Sardi melintasi gang itu, sekira pukul sembilan pagi. Aku yang sekolah siang dan masih duduk di kelas tiga sekolah dasar dan karenanya masih berada di rumah sepagi itu, sering mengintip Sardi melintas gang itu. Kemudian aku membuntutinya. Di Gedongdalam dia mendatangi rumah saudaranya, Pak Yusuf, untuk meminta sarapan. Kurang-lebih satu jam dia mampir di rumah saudaranya itu. Selepas makan, dia akan pulang melewati gang yang sama.

Kalau naluri kenakalanku dan kawan-kawan sedang kumat, dari balik dinding rumahku, kami akan mengintai kemunculan Sardi di gang sebelah rumahku itu. Dengan tangan menggenggam batu kami bersiap-siap untuk menimpuknya. Dunia tahu, timpukanku jarang meleset, dan karenanya acap tepat menghantam badannya yang gemuk lagi pendek itu. Karuan saja dia akan mengerang dan berang dan mengejar kami. Mulutnya menyerapah melontarkan kata-kata makian dalam bahasa Sunda yang kasar.

“Anjing siaaaa…” makinya dengan wajah membengis.

Mendengar makiannya kami tertawa belaka dan secepat kilat kami melesat ke arah Lapangan Enggal yang terletak persis di depan rumahku. Bagai anak panah lepas dari busurnya, tubuh kami melesat cepat, berlari terbirit-birit sekencang bisa. Seingatku, tak pernah barang sekali pun Sardi berhasil menangkap kami. Bahkan timpukannya pun tak bisa menjangkau kami yang berjarak di luar sepelemparan tangannya.

Untuk mengecohnya, biasanya kami berlari membelok ke Gang Melati yang tembus ke Jalan Raden Intan. Tubuh Sardi yang gemuk membuatnya tak bisa berlari dengan kencang. Beda benar dengan tubuh kami yang ramping sehingga laksana kawanan kuda kaki dengan gesit kami bisa berderap cepat. Dari kejauhan tampak Sardi ngos-ngosan kepayahan. Napasnya tersengal-sengal seolah mau putus diterkam ajal. Melihat hal itu tawa kami makin menjadi-jadi. Kadang terkekeh. Kadang terbahak. Ada kalanya sembari bergulingan di atas tanah tersebab tak kuat menahan sakit perut akibat tawa terpingkal-pingkal yang terus berderai.

Dari seorang warga kota aku mendengar kisah lain tentang Sardi. Pada suatu siang yang terik, tak jauh dari rumah gubuk Sardi, di Jalan Tamin di bilangan Empang, Lebakbudi, terjadi kemacetan luar biasa. Kendaraan berderet panjang dan riuh oleh bunyi klakson yang tiada putus-putusnya. Hiruk pikuk suasana dibuatnya. Kebisingan yang tak biasa benar-benar merajalela. Ada apakah gerangan? Ternyata Sardi dengan gagah tegak di tengah jalan sembari merentangkan kedua belah tangannya. Di dekat kakinya di atas jalan raya itu teronggok bongkahan-bongkahan batu-batu kerikil. Ada pula satu-dua yang berukuran besar, bahkan bata merah yang masih utuh. Bermodalkan batu-batu yang siap ditimpukannya dia menuntut agar kendaraan yang lewat mesti memberinya uang terlebih dulu. Tak pelak lagi, kali ini jiwa preman Sardi sebagai pemalak betul-betul tengah memuncak. Bukan betul sembarang betul, tapi betul, betul, betul—persis seperti sepasang lidah Upin-Ipin menuturkannya.

“Dasar sinting!” semprot sejumlah sopir.

“Sardi Kolot, gelo siaaahh!” damprat supir yang lain.

Di tengah sumpah serapah itu, toh Sardi tetap membatu. Teguh kukuh berlapis baja. Dia bertahan sejadi-jadinya di tengah jalan raya. Bentangan tangannya seolah menggarisbawahi perlawanannya yang degil tak terkira. Keringat yang mengucur di sekujur tubuhnya akibat sengatan matahari tiada dipedulikannya. Sardi tak pandang bulu, semua kendaraan yang lewat entah mobil atau motor bahkan sepeda sekalipun mesti membayar uang palakan. Sebuah sedan yang coba menyelonong begitu saja beroleh ganjaran yang keras dari Sardi. Dengan batu tajam di tangannya dia menggores badan mobil yang bercat mulus itu. Pengemudinya marah besar, tapi Sardi segera mengambil dua bongkah batu bata di dekat kakinya dan siap melemparkannya.

“Dasar gila!” semprot si pengemudi.

Hampir terjadi perdebatan sengit antara keduanya. Tapi Sardi tak melayaninya. Dia tetap bertahan meminta uang palakan. Akhirnya sang sopir mengalah. Tak ada untungnya berdebat dengan orang gila. Sardi yang sinting berada di luar jangakuan hukum. Tak ada sanksi atas perbuatan pidana yang dilakukannya. Hukum justru dengan tegas memberi pengampunan bagi si gila apabila dia berbuat tindak pidana.

Maka, tiada pilihan lain bagi para pengemudi kendaraan selain memberi uang palakan kepada Sardi Kolot. Karuan saja, sesiang itu Sardi panen raya uang recehan yang menyesaki koceknya.

Aku mengenal Sardi sejak rambutnya hitam belaka hingga putih semua. Sepanjang tiga puluh warsa Sardi telah disapa dengan nama Sardi Kolot. Kolot berarti ‘tua’ dalam bahasa Sunda. Aku tak tahu apakah Sardi pernah muda. Tentu saja pernah karena demikianlah pertumbuhan anak manusia. Tapi Sardi tampaknya adalah suatu perkecualian. Suatu anomali. Boleh jadi, dia mengidap apa yang disebut orang Sunda sebagai kokoloteun, yaitu penyakit kulit pada wajah karena sering kepanasan atau memakai bedak murahan, kulit wajahnya menjadi hitam. Karena Sardi bukan seorang perempuan dan karenanya tak mengenakan bedak murahan, maka wajah hitamnya lebih disebabkan lantaran sering kepanasan. Faktanya adalah sehari-harinya dia memang keluyuran menggelandang di bawah matahari mencorong di Tanjungkarang. Jika demikian halnya, alih-alih awet ngora alias awet muda, dia justru awet kolot atawa awet tua! Sungguh sebuah anomali bagi seorang anak manusia, yang saat dikenal orang hingga dilupakan orang sudah berpenampilan dan berusia tua.

Sungguh berkebalikan dengan anak manusia yang berangkat menua, daerah Tanjungkarang dan daerah-daerah lain yang mana pun di dunia justru beranjak muda senantiasa. Terus meremaja. Saksikanlah, bangunan-bangunan lama entah bernilai sejarah entah tidak diruntuhkan dan digusur begitu saja untuk kemudian ditukar dengan gedung-gedung baru yang tumbuh menjulang dengan citra arsitekur masa depan. Jalanan mulus atau berlubang beserta jalan layang jalin-menjalin tak keruan menyusun aneka simpang-siur persis seperti spageti panas yang masih mengepul di atas pinggan. Perumahan berhamparan di sekeliling kota dan terus melesak memperlebar kota. Kota-kota mekar atas kemekarannya sendiri di luar rencana tanpa memberi ruang bagi cagar budaya. Tanjungkarang pun meneruskan detak kehidupannya. Kota yang pernah menyaksikan kehidupan dan penghidupan seorang gembel kesohor bernama Sardi Kolot.

/11 December 2011