Titie Said: “Saya Harus Meresensi Buku Puisimu, Linda!”

Linda Djalil
Kompas, 25 Okt 2011

KATA-KATA adalah niat, dan janji. Titie Said, penulis handal, wartawan dan sempat pula menjadi ketua Badan Sensor Film Indonesia itu, kira-kira satu setengah bulan lalu berkata kepada saya, “Luar biasa puisi-puisi kamu. Saya harus meresensi buku puisimu, Linda! Tapi harus dengan versi saya ya? Nanti tante kirim ke koran Kompas saja ya Lin?” ujarnya.

Saat itu kami duduk bersebelahan di Bentara Budaya seberang kantor Kompas, saat ada acara peluncuran buku. Saya peluk lengannya yang gempal. Dia memeluk saya lama sekali. Entah mengapa, ibu yang satu ini tiba-tiba saja memberikan kehangatan yang luar biasa siang itu. Ada perasaan berkecamuk di dada, yang entah apa namanya, saya sendiri tidak bisa mengartikannya.

Lalu, Titie Said kembali membuka-buka buku kumpulan puisi jurnalistik saya, “Cintaku Lewat Kripik Blado” yang diterbitkan oleh penerbit Kompas bulan Juni silam. Beberapa judul dibaca cepat. Lalu geleng-geleng kepala. “Kamu betul-betul sastrawan, Linda. Permainan katamu luar biasa. Tante pikir, kamu hanya wartawan jagoan. Tahunya kamu penulis fiksi yang sangat baik,” ujarnya lagi.

Saya cubiti lengannya berkali-kali. “Uh, bisanya ya ngono, tante! Asal muasal saya kan memang dari Fakultas Sastra UI, Sastra Indonesia. Lagipula, sastrawan apa’an tante? Sastrawan ngasal? Jadi wartawan kan karena kesasar lho..hahahaa…!”

Lalu kami tergelak bersama. Saya juga menganjurkan Titie Said untuk sesekali menulis di Kompasiana. Saya jelaskan juga buku kumpulan puisi jurnalistik itu adalah hasil tulisan saya sehari-hari dari dunia maya Kompasiana. “Masuknya bagaimana? Syaratnya apa?” tanyanya penuh minat.

Lalu saya ceritakan mudahnya masuk, dan beranekanya kita bisa menulis topik apa saja. ”Banyak anak muda pandai-pandai di Kompasiana. Dari luar kota, bahkan luar negeri. Mereka menulis dengan semangat. Kalau tante masuk, tentu kami banyak belajar dari tante. Tidak dibayar, dan tidak membayar” ujar saya lagi panjang lebar. Lalu kami tertawa-tawa lagi bersama. Katanya lagi, “Ok..ok… Kompasiana ya Lin? Ntar tante buka deh di rumah!”

Beberapa minggu setelah itu, saya sempat terpikir, apa kabar Titie Said? Kapan resensi buku itu akan dikirim ya? Tapi untuk menghubunginya rasanya terbesit segan. Nanti dikira saya terlalu mendorongnya menodong naskah itu. Untuk meresensi hasil karya sendiri, yang dilakukan oleh orang lain, tentu harus mengikuti situasi kondisi orang yang bersangkutan. Tidak boleh dipaksa.

Lalu muncul berita itu. Titie Said, yang saya sebut selalu ‘tante’ itu, dipanggil Sang Kekasih. Rumah Sakit Medistra adalah tempat nafas terakhirnya, dari awal perjalanan hidupnya sejak 11 Juli 1935. Ia meninggal karena stroke. Terlintas dalam bayangan saya, saat di Bentara Budaya ia mengambil makan siangnya dalam satu piring penuh, ditambah kue-kue manis sebagai pelengkapnya. Sempat saya tanya, “Hayo tante…, umur segini makan dibatasi lho…!” – ia hanya tertawa lebar sambil menikmati isi piringnya.

Titie Said adalah aset Indonesia. Betapa tidak. Hidupnya senantiasa disumbangkan bagi kecerdasan bangsa. Berapa banyak sudah wanita Indonesia yang membaca majalah Kartini, hampir tiap penerbitannya membaca berbagai hasil karya Titie Said. Cerita bersambungnya, ”Jangan Ambil Nyawaku” selalu ditunggu-tunggu kaum wanita, dan membuat bulu kuduk merinding. Saya ingat, sebelum karya itu dibukukan sebagai novel, saya membacanya di Rumah Sakit Carolus sambil terbaring di tempat tidur. Betapa cerita “Jangan Ambil Nyawaku” mengerikan, menyedihkan, tapi sekaligus memberikan semangat bagi orang-orang yang sedang menderita sakit. Air mata saya bergulir di dalam kamar Rumah Sakit yang hening. Majalah Kartini itu saya simpan di samping bantal. Saya juga ingat bagaimana seorang suster Rumah Sakit memergoki saya sedang menangis membaca cerita Titie Said itu, lalu saya katakan, “Iya suster…, yang ngarang cerita ini luar biasa sekali. Sepertinya cerita ini betulan. Padahal ini kan hanya fiksi”

Novel hasil karya wanita yang nama aslinya Sitti Raya Kusumawardani ini memang sudah puluhan yang diterbitkan. Tahun ‘60 an juga sudah muncul kumpulan cerpennya. Sebagian naskahnya sempat musnah bersama harta berharga, mangkok antik, dokumentasi pribadi, foto-foto kenangan, saat rumahnya yang luas di atas tanah 1200 m2 itu dilalap api beberapa tahun silam. Sebagaimana penggambaran tokoh hebat dalam novel “Jangan Ambil Nyawaku”, Titie Said menghadang petaka itu dengan ketegaran yang mencengangkan. Ya, ia memang wanita Indonesia yang luar biasa. Janjinya kepada saya, untuk meresensi buku puisi saya, entah sudah sempat dibuat atau belum, buat saya tidak masalah. Yang penting, makna terbesar adalah ia sempat memberikan apresiasi atas hasil karya saya dengan tulus, dan menginginkan sebuah resensinya dari tangannya sendiri. Bahwa itikad itu tak tersampaikan, tentu semua karena ketentuan Allah semata-mata.

Selamat jalan, tante Titie Said…….. , peluklah dia ya Allah…. peluklah dia dengan segenap cinta….

Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2011/10/obituari-titie-said-saya-harus.html