Harta Karun Cerita Panji

Judul : Konservasi Budaya Panji
Penulis : Aminudin Kasdi, Dwi Cahyo, Lydia Kieven, Nasrul Ilahi, RM Yunani Prawiranegara dkk.
Penerbit : Dewan Kesenian Jawa Timur
Tebal : 16 halaman
Peresensi : Henry Nurcahyo
http://www.balipost.co.id/

CERITA Panji adalah harta karun terpendam yang dimiliki jawa Timur. Lahir di Kediri, berkembang sejak jaman Majapahit, menyebar ke banyak daerah hingga mancanegara, dan beredar dalam berbagai cerita rakyat. Cerita Panji bukan sekadar cerita. Ini adalah pusaka yang tak ternilai harganya. Sudah saatnya kita menyelamatkan, memelihara, mengembangkannya sebagai kontribusi positif pembangunan budaya bangsa. Pada dasarnya, Cerita Panji adalah sekumpulan cerita pada masa Hindu Budha di Jawa yang berkisah seputar kisah asmara Panji Asmorobangun dan Puteri Candrakirana (Dewi Sekartaji) yang penuh dengan petualangan sampai akhirnya memerintah di Kerajaan Kadiri. Tetapi ternyata, ditemukan banyak ajar pendidikan formal dan nonformal, bahkan sebagai bahan baku industri budaya.

Cerita Panji adalah cerita Jawa asli yang kemudian menyebar ke berbagai wilayah nusantara (Bali, Sunda, Lombok, Kalimantan, Palembang, Melayu) serta di berbagai negara di daratan Asia Tenggara. Hal ini merupakan aspek penting yang perlu disosialisasikan sebagai alternatif cerita wayang yang selama ini hanya menjadi monopoli Mahabrata dan Ramayana yang datang dari India.

Beberapa kesenian tradisional yang selama ini menggunakan cerita Panji misalnya Wayang Beber (Malang), Wayang Topeng (Pacitan), wayang golek Kediri, waang thengul (Bojokerto), wayang krucil (Nganjuk), Legong Kraton (Lasem), Lutung Kasarung (Jabar) dan banyak kesenian di Bali, Kalimantan, Kamboja dan sebagainya. Sementara yang berupa fisik, terdapat dalam relief di beberapa candi (punden berundak) di lereng Gunung Penanggungan, Candi Penataran dan peninggalan purbaka di lereng gunung Arjuno. Bahkan, patung Panji pernah ditemukan di Candi Selokelir di lereng Penanggungan.

Menurut Henricus Supriyanto, Cerita Panji merupakan satu-satunya budaya Indonesia yang menyebar sampai dengan Kamboja dan Thailand. Ini adalah ekspor budaya Indonesia. Sebagaimana cerita-cerita sastra Islam yang berkembang di Indonesia berasal dari Parsi. Karena itu keberadaan cerita Panji ini perlu dikukuhkan kembali sebagai asset budaya Indonesia, karena kebudayaan global yang dicari justru budaya lokal sebagai identitas bangsa. Lihat juga legenda Ular Putih dari Cina Selatan yang sudah mengglobal. Bahkan buku Raffles tentang sejarah Jawa, sudah beredar luas dalam bahasa Indonesia.Banyak yang terperangah, bahwa Panji ternyata bukan sekadar dongeng menjelang tidur. Panji adalah sosok sejarah sekaligus lehenda. Sosok Panji ternyata sudah amat sangat lama terpatri di lereng Gunung Penanggungan, Arjuno dan juga tertatah di Candi Penataran. Cerita-cerita terkait Panji juga banyak mengajarkan kearifan lokal dalam menjaga kelestarian alam. Salah satu dongeng Panji terkait pertanian misalnya Enthit. Di situ ada tembang, ”sing nandur timun mentheg-mentheg iki sapa… enthiiit.” Bukan hanya timun, tapi cabe, kacang panjang, dan berbagai macam sayuran serta hasil bumi lainnya. Dongeng itu bahkan kemudia dikembangkan menjadi lagu Jawa.

Di luar Jawa ada beberapa. Di Kalsel sistem lumbung pangan sangat kuat, punya stok padi 12 tahun lalu. Mereka paling dapat bertahan ketika krisis. Mereka tanpa menggunakan pupuk kimia dan pestisida. Kebijakan pertanian Indonesia tidak cukup kuat, pertanian organik belum menjadi kebijakan politik yang kuat. Kasus petani Kediri yang dipenjara karena memproduksi benih adalah kasus yang sangat memprihatinkan. Masih butuh kebijakan untuk mendukung budaya petani dengan tradisinya.

Tetapi yang Yunani Prawiranegara, pertanian ramah lingkungan tidak ada benang merahnya dengan cerita Panji? Gak gathuk. Kecuali cerita Enthir yang berasal dari cerita Panji. Benang merahnya apa? Cerita Panji muncul setelah majapahit, bersifat kerakyatan, bukan bahasa Majapahit tapi dengan bahasa rakyat. Berkembang hingga ke Makasar, Siam, Kamboja dan sebagainya. Aspek arkeologinya ada di Penanggungan dan Arjuno. Juga di Penataran. Aspek seninya Wayang Topeng Malang, Wayang Klithik, tari Beskalan (remonya Malang) juga bersumber dari gerak-gerak Panji. Jadi, spirit apa yang melatarbelakangi pertanian ramah lingkungan ini terkait dengan cerita Panji?

Rakyat

Tapi yang jelas, kata, Yunani, Panji adalah cerita rakyat meski berasal dari Kraton. Spirit Panji dalam pertanian berpihak pada rakyat, bukan penguasa. Cerita panji banyak relief di Penanggungan dan Arjuno, merupakan sikap sifat rakyat Majapahit yang jenuh dengan politik, lari ke gunung, alam back to nature, neo megalithicum, candi-candi dibangun di lereng gunung, punden berundak. Dalam kehidupan pertanian hendaknya menghormati leluhur, seperti punden berundak. Kembali pada alam, ini kedua, karena dengan profil di Arjuna dan Penanggungan diadopsi dengan pesantren, Mandalagiri, ini sesuai dengan spirit Panji.

Panji selama belasan tahun. Dalam tempo 13 tahun itu Lydia berkelana sambil menjadi tour guids naik angkot, jalan berkilo-kilo meter. Bahkan Lydia sendiri sudah melakukan ekspor budaya Panji ke Jerman.

Cerita Panji bisa disejajarkan dengan Mahabarata dan Ramayana, serta Serat Centhini, yaitu sumber yang tak pernah kering, bagaikan ensiklopedi, dan mengandung aspek simbolik, religi bahkan juga kemiliteran. Tidak hanya bicara soal lingkungan kraton. Bahkan, cerita dapat menjadi mediator masyarakat kraton dengan luar kraton dengan tradisi lakunya. Cerita Panji masih memiliki peluang untuk dikembangkan lagi, diekspresikan dalam susastra, seni pertunjukan atau multikespresi

Dalam cerita rakyat dikisahkan bahwa Raden Panji keluar dari kraton, mengembara untuk mencari kekasihnya. Menurut Dwi, ini terlalu simple. Pengembaraan Panji itu adalah sebuah perjalanan eksploratif sosiobudaya untuk memotret lingkungan di luar kraton. Ada korelasi yang menarik antara kraton dan luar kraton. Karena itu dalam cerita Panji banyak menyerap budaya-budaya luar kraton.

Mengenal Figur Panji

Siapakah sesungguhnya Panji? Masih banyak yang beranggapan bahwa Panji adalah sosok fiktif yang hanya ada di di cerita dongeng. Citra ini memang tak lepas dari kemasan budaya tutur Panji yang lebih berupa ”Dongeng yang Disejarahkan” ketimbang ”Sejarah yang Didongengkan”. Bila dirunut ke belakang, barangkali ini tak lepas dari pengaruh kekuasaan Majapahit ketika cerita heroik soal ”pahlawan Kadiri” ini lahir.

Menurut Dwi Cahyono, memahami Panji setidaknya berhadapan dengan tiga aspek, yaitu sejarah, apakah Panji memang manusia yang betul-betul ada dalam sejarah? Aspek kedua, sebagai karya sastra, hanya rekaan, nonfaktual. Ketiga, Panji sebagai ekspresi yang lebih variatif dalam seni pertunjukan. Bagaimanapun Panji musti dapat didudukkan dalam kerangka sejarah, karena tidak bisa dilepaskan dari sejarah Jawa masa Kediri, Singosari dan Majapahit jaman Hindu Budha. Mana yang betul-betul faktual dan mana yang merupakan ekspresi kreatif atau rekaan belaka.

Dalam bukunya, Prof. DR. CC. Berg (1928) menyebutkan, bahwa penyebaran cerita Panji dimulai adalah Kertanegara Raja Singasari mengadakan pamalayu, tahun 1277 M sampai kurang lebih tahun 1400 M. Dari sumber ini diketemukan Panji adalah pahlawan kebudayaan sebagaimana tahun 1996 pernah dijadikan tema sentral Pekan Budaya Bali, karena cerita Panji dianggap paling banyak memberikan keteladanan membangun kebudayaan Indonesia.

Ki Ageng Sri Widadi dari Kasunyatan Jawi, dalam makalahnya yang tak dibacakan dalam pertemuan itu menulis, Panji adalah tokoh yang menggunakan kesenian untuk menundukkan lawan. Panji pandai bermain gamelan, juga penari yang piawai, sebagai dalang yang pintar mempesona penonton, bahkan berjasa menyusun nada-nada gamelan berlaras pelog.

Hal ini dikuatkan oleh Dwi Cahyono, arkeolog dari Universitas Negeri Malang. Menurutnya, Panji adalah tokoh manusia biasa, yang merupakan Pangeran Jawa dan bukan pahlawan pendatang seperti Tama dan Pandawa Panji adalah sosok yang piawai berolah seni, seorang Maecenas kesenian Jawa masa lalu. Panji acap diceritakan sebagai pemain musik, penari, pemain drama (sendratari) dan penulis puisi. Panji adalah tokoh teladan masa lampau, dan perilakunya merupakan teladan arif dalam mengembangkan lingkungan dengan cara-cara yang sarat dengan nilai ekologis. Keteladanan Panji sebagai seseorang yang dipredikati sebagai ”pahlawan budaya” masa lalu (masa Hindu-Budha) itulah kiranya yang perlu diupayakan untuk dapat ditransformasikan bagi pengembangan kesenian lokal dan pertanian serta pengelolaan lingkungan hidup pada masa kini maupun mendatang.

04 September 2011 | BP