Jadikan TIM Pusat Kesenian yang Sesungguhnya (1)

Arie F. Batubara
http://www.suarakarya-online.com/

SEBAGAI Kota Metropolitan yang menyandang predikat Ibukota Negara, Jakarta adalah sebuah “pusat” bukan hanya untuk aktivitas politik, pemerintahan, serta ekonomi; tapi juga untuk hampir seluruh aktivitas kehidupan di negeri ini, termasuk di dalamnya kesenian. Bahkan, dalam konteks sebagai “pusat” aktivitas kesenian tersebut, saat Jakarta berada di bawah kepemimpinan Ali Sadikin sebagai Gubernur, dalam Rencana Induk 20 Tahun DKI Jakarta yang dibuat ketika itu, dengan tegas dinyatakan: Jakarta adalah kota kebudayaan.

Memang, antara kedudukan sebagai kota kebudayaan dengan “pusat” aktivitas kesenian adalah dua hal yang berbeda. Namun, tentu tidak bisa dipungkiri kesenian adalah refleksi paling nyata dan dekat dari kebudayaan; sehingga ketika kita ingin menjadikan sebuah kota sebagai kota kebudayaan, maka yang pertama-tama harus disoal adalah bagaimana aktivitas kesenian berlangsung di kota itu. Tanpa adanya aktivitas berkesenian yang ajeg, kontinyu, serta bermutu, sebuah kota sesunguhnya tidak pantas diberi predikat apalagi mengklaim dirinya sebagai kota kebudayaan.

Begitu pun halnya dengan Jakarta. Karena itu, ketika suatu pagi di penghujung tahun 60-an, Ali Sadikin (alm) yang waktu itu menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta, didatangi beberapa seniman yang mengajukan sebuah konsep mengenai pengembangan kesenian di Jakarta, serta-merta saja konsep itu diterima untuk selanjutnya diwujudkan. Salah satu di antaranya adalah dengan membangun sebuah pusat kesenian yang kemudian diberi nama Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki (PKJ-TIM).

Tetapi, sesungguhnya, kalau ditelisik lebih lanjut, kehadiran sebuah “pusat kesenian” bagi sebuah kota tidaklah semata-mata karena adanya keinginan menjadikan kota itu sebagai kota kebudayaan. Di atas semua itu, adalah karena ia memang menjadi semacam tuntutan atau prasyarat bagi suatu kota yang hendak menjadikan dirinya sebagai sebuah kota modern yang paripurna. Itulah yang terjadi pada semua kota modern yang ada di dunia, mulai dari London, New York, Paris, Tokyo, Hongkong, bahkan hingga Singapura dan Guangzhou dewasa ini. Sebab, memang, sebuah kota modern belum dipandang sebagai sebuah kota yang lengkap sebelum kota itu memiliki sebuah pusat kesenian yang repsentatif.

Jadi, kehadiran sebuah pusat kesenian bagi sebuah kota bisa dikatakan adalah sebuah keniscayaan. Dan itu dipahami oleh Ali Sadikin sebagai gubernur yang memimpin Jakarta ketika itu. Sebab, memang, kita tahu, tugas yang dibebankan kepada pundak Ali Sadikin ketika ditunjuk menjadi Gubernur DKI Jakarta ketika itu adalah bagaimana membangun dan memodernisir Jakarta sebagai Ibukota Negara sehingga sejajar dengan kota-kota besar lain di dunia yang juga menyandang predikat Ibukota Negara. Dan salah satu esensi yang harus dipenuhi oleh Jakarta untuk itu adalah kehadiran sebuah pusat kesenian tadi.

* * * *

TENTU saja, kebutuhan sebuah kota terhadap kehadiran sebuah “pusat kesenian” tidaklah cukup sekadar hadir. Melainkan, bagaimana pusat kesenian itu memaknai kehadirannya lewat penampilan serangkaian karya seni yang memang baik dan bermutu. Sebab, arti paling esensial dari keberadaan sebuah pusat kesenian pada hakikatnya tidaklah diukur dari kemegahan dan kementerangan bangunan fisik yang dimilikinya, tetapi terutama oleh kualitas karya seni yang lahir dan ditampilkan di dalamnya.

Itu pulalah yang kita saksikan pada PKJ-TIM pada awal kehadirannya utamanya pada sepuluh hingga duapuluh tahun pertama usianya. Sejarah kesenian Indonesia dengan baik mencatat, betapa dalam dua dekade itu, PKJ-TIM sungguh-sungguh menjadi pusat aktivitas berkesenian bukan hanya untuk kota Jakarta, tapi untuk seluruh Indonesia bahkan dalam beberapa hal tertentu kerap “dianggap” sebagai pusat aktivitas berkesian untuk kawasan Asia Tenggara (sampai-sampai, konon, UNESCO pernah menanyakan, apah TIM bisa menjadi pusat kesenian atau kebudayaan Melayu).

Anggapan tersebut cukup masuk akal, karena memang pada masa itu, bisa dikatakan hampir semua pertunjukan/ pergelaran karya kesenian terbaik Indonesia senantiasa ditampilkan dan lahir di TIM. Di sisi lain, berbagai seniman dan karya seni mancanegara yang tengah melakukan lawatan ke kawasan Asia Tenggara, ketika itu umumnya lebih cenderung memilih TIM sebagai tempat pertunjukan/ pergelarannya. Ditambah dengan daya kreativitas seniman-seniman Indonesia baik itu tari, musik, teater, hingga seni rupa yang ketika itu memang dahsyat untuk melahirkan karya-karya yang spektakuler, maka tidak heran jika TIM lantas diposisikan sebagai barometer dalam kesenian Indonesia.

Dan, memang, demikianlah mestinya sebuah pusat kesenian yang sesungguhnya bagi sebuah kota. Ia harus mampu menjadi barometer.

Sebab, di situlah pada dasarnya letak makna hakiki dari sebuah pusat kesenian: menjadi barometer bagi perkembangan kesenian. Sehingga, sebuah pusat kesenian yang gagal menjadi barometer, dengan sendirinya telah pula gagal memainkan perannya sebagai sebuah pusat kesenian, dan ia tak lebih dari sekadar sebagai tempat pertunjukan kesenian.***

21 Januari 2012