Kesebelasan Para Filsuf

Bagja Hidayat
http://www.kompasiana.com/prabu

Hegel gagal memimpin para filsuf Jerman lainnya menundukkan pasukan pemikir Yunani yang dikomando Socrates. Gawang Jerman yang dijaga Leibniz bobol oleh tandukan Socrates yang mendapat umpan silang Archimedes di menit ke-89. Masuknya Karl Marx menggantikan Wittgenstein tak mampu mengembangkan permainan tim yang dilatih Marthin Luther itu. Gol tidak sah, Socrates dalam posisi off-side,” teriak Marx. Pertandingan yang dipimpin Confucius dengan hakim garis Santo Agustinus dan Santo Thomas Aquinas itu keburu berakhir.

Tentu saja ini pertandingan fiktif. Pertandingan para filsuf ini hanya terjadi dalam sketsa komedi satir Monty Python yang dibuat tahun 1970. Jika pertandingan ini nyata, tentu saja akan menjadi partai yang sangat menarik. Bagaimana orang yang sepanjang hidupnya memakai kepala untuk menemukan arti hidup dan dunia, kini harus bekerja dengan kaki. Sungguh jauh jarak antara kepala dan kaki.

Python tak sendiri menyusun tim dan membayangkan para filsuf bermain sepak bola. Belakangan banyak buku yang mengupas soal tim impian yang terdiri dari para filsuf, penulis, penyair dan pemikir kondang. Ini bukan semata keisengan. Ini karena para pemikir yang dipilih itu kerap membuat ulasan tentang pertandingan sepak bola. Juga karena sepak bola adalah sebuah budaya yang melibatkan manusia, objek utama kajian filsafat.

Mark Perryman, wartawan sepak bola The Guardian yang tertarik pada filsafat, misalnya, menyusun buku sepak bola Para Filsuf (1999) dengan mengumpulkan kutipan-kutipan para pemikir tentang sepak bola. Ia menempatkan filsuf Prancis kelahiran Aljazair, Albert Camus, sebagai penjaga gawang, Sartre, Marx dan Wittgenstein sebagai bek.

Pilihan kepada Camus tentu bukan asal tunjuk begitu saja. Peraih Nobel sastra 1957 ini mencintai sepak bola sejak remaja. Dalam hidupnya yang miskin di Aljazair, Camus kerap bermain bola sebagai kiper. Dengan begitu, ia punya banyak waktu merenungkan pertandingan. “Jika bicara moral dan tanggungjawab, saya berutang kepada sepak bola,” ini ucapan Camus yang sangat terkenal.

Setiap pemain bertanggung jawab dengan posisinya: bek, pengatur bola, penyerang dan penjaga gawang, sehingga tim adalah sebuah organisasi yang punya tujuan yang sama yakni menciptakan sebanyak mungkin gol. Tim dengan organisasi yang rapuh akan sangat mudah diringkus lawan. Meskipun punya tugas sendiri-sendiri, setiap pemain berhak membuat gol. Tak ada kekhususan hanya pemain penyerang saja yang harus menjebol gawang lawan. Bahkan penjaga gawang tak diharamkan membuat gol.

Gol adalah tujuan akhir, kata Camus. Karena itu permainan yang asyik adalah permainan yang bersih. Seorang pemain dihukum karena niatnya. Wasit akan memberi kartu merah atau kuning jika seorang pemain menjegal dengan sebuah rencana. Tapi pemain yang baik tak akan membalas kelakuan pemain yang buruk itu. Dari Kempes hingga Maradona, dari Pele hingga Ronaldo, dari Chartlon hingga Owen, harus tetap tegak seraya menahan emosi karena terus dijegal oleh para bek tim lawan. Tak mudah memainkan peranan semacam itu.

Sebab sepak bola menuntut inisiatif, kompetisi dan konflik. Ini ucapan seorang Marxis Italia, Antonio Gramsci. Permainan ini menjadi tertib karena ada aturan Karl tak tertulis tentang fair play. Pemain tak boleh saling pukul karena, kembali kepada Camus, bukan itu tujuan akhir pertandingan. Jika kita kunjungi situs Perryman di philosophyfootball.com, kita akan tahu betapa semua pemikir di dunia menaruh minat pada sepak bola. Bacalah omongan Ibsen. Atau dengarlah mimpi Derrida yang ingin menjadi pemain sepak bola profesional. “Di bawah mistar, semuanya jadi tak berarti,” katanya.

Pendeknya sepak bola menjadi rumit sekaligus asyik. Sebuah drama dua babak berdurasi 90 menit. Permainan ini seolah menyediakan segalanya tentang dunia yang mungkin dan tak mungkin, ranah yang gelap dan terang, yang asyik dan memabukkan. Milan Kundera bilang, di stadionstadion sepak bola ada semacam esktasi. Orang terbuai oleh sebuah permainan yang saling mengalahkan. Manusia di sana mempertontonkan hasrat purbanya: berlomba untuk menang.

Karena itu tak mudah melacak darimana sepak bola bermula. Umur sepak bola, barangkali, setua umur manusia itu sendiri. Permainan ini ditemukan di Marx hampir belahan dunia dengan ragam bentuk dan jenisnya. Dari suku Eskimo hingga Astek, dari Cina kuno hingga Mesir zaman batu.

Ahli strukturalis Prancis, Claude- Levi Strauss jauh-jauh datang ke Papua untuk melihat bagaimana orang suku Gahuku-Gama bermain sepak bola. Dari sana ia pulang dengan serangkaian renungan tentang sepak bola yang dimainkan suku itu yang dilakukan berhari-hari hanya agar skor tetap sama. Dalam The Savage Mind (1968) yang menghimpun laporan tentang kehidupan komunitas tradisional di duina, Strauss menulis bahwa setiap pertandingan adalah ritual. Dan setiap ritual mengandung “permainan”. sepak bola, bagaimanapun, adalah soal menang dan kalah. Karena itu permainan ini bersifat memisahkan: ada pemenang dan lahirnya tim pecundang. Tetapi sepak bola sekaligus juga bisa menyatukan. Ada “satu” piala yang diperebutkan untuk menyeleksi tim terhebat lewat kompetisi yang terbuka dan transparan, terutama musim Piala Dunia seperti bulan-bulan ini.

Shindunata dalam Air Mata Bola (2002) menulis kesebalasan para penyair ketika akan digelar Piala Dunia 2002 di Prancis. Ia mengutip tim impian yang dibuat oleh penulis kolom sepak bola, Thomas Grassberger. Seperti juga Phyton dan Perryman,

Thomas menyusun tim yang terdiri dari para sastrawan, pemikir dan filsuf kondang dari seluruh dunia berdasarkan tesis yang pernah mereka hasilkan. Plato, misalnya, dipasang sebagai play maker karena menyukai tempo tinggi. “Mereka yang terlambat tak boleh ikut main,” begitu semboyan murid Socrates ini. sepak bola telah menjadi sumber ilham yang tak habis-habis. Maka benarlah Ibsen. Dunia tak seru jika tak ada sepak bola. Konon, kata para sosiolog, sepak bola mencerminkan budaya sebuah negara. Ah, sepertinya bukan lagi konon. Ini benar-benar terjadi di Indonesia.

09 June 2010
Dijumput dari: http://olahraga.kompasiana.com/bola/2010/06/09/kesebelasan-para-filsuf/