Lelaki yang Menyesali Peruntungannya

Sunaryono Basuki Ks
http://www.suarakarya-online.com/

“Kenapa aku tidak beruntung?” renungnya. Alangkah malang lelaki ini, dia tidak memahami makna sebuah cobaan yang kapan saja diberi Tuhan.

Dan cobaan bagi manusia sudah direncanakan oleh Tuhan tidak akan melebihi kekuatannya. Pasti manusia akan mampu menahan cobaan itu sebab memang demikian rencana Tuhan. Bukanlah Tuhan juga sudah memerintahkan pada manusia lain untuk mengatakan kebijakan ini: “Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ketepian, bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian.” Tiada kesenangan yang bisa dicapai tanpa sakit. Itu semua sudah dibentangkan di depan kita.

Mengapa kita tidak mau belajar dari leluhur kita? Kegagalan bagian dari usaha. Tidak ada kegagalan tanpa usaha. Haruskah kita mengalir begitu saja mengikuti arus yang menghanyutkan dan menyerah pada nasib dengan mengatakan: “Sudah suratan takdirku yang harus kujalani.” Bukankah sudah ditetapkan, manusia harus berusaha sebelum menyerah.

“Aku sudah ditakdirkan miskin dan menderita,” kata Nasib pada teman-temannya. Kenapa orang tuanya memberinya nama Nasib? Kenapa harus nasib?
“Bukan salah orang tuamu,” kata seorang teman.

“Coba lihat tetanggaku, namanya Nengah Miskin. Memang dari keluarga miskin sehingga mungkin orang tuanya malu kalau menamakannya Nengah Laba. Tetapi Gede Laba, tetanggaku yang lain juga tidak menumpuk keuntungan. Aku tahu dia seorang pekerja keras. Ada saja yang dilakukannya bertahan hidup. Dia membuat kerupuk udang tanpa udang. Dia menggunakan terasi untuk meniru rasa udang yang gurih, dan hasilnya, usahanya maju. Dia memasukkan kerupuknya ke pasar-pasar, kemudian mempekerjakan lima orang buruh dan para pembelinya malah berdatangan ke tempatnya.”
“Tetapi aku hanyalah Nasib, bukan Laba.”

“Apa kamu menyalahkan orang tuamu?” Nasib tidak menjawab dengan kata-kata namun pandangan matanya seolah menyalahkan orangtuanya.

“Nasib manusia berada di tangannya sendiri. Jangan menyalahkan siapa-siapa, apalagi menyalahkan Tuhan, sebab Dia sudah melengkapi kita dengan tenaga, pikiran, dan naluri. Ayo kita asah nalurimu.”
“Untuk apa?”
“Mengasah naluri bisnismu.”

Nasib tertawa sebab dia merasa tidak punya jiwa berdagang. Kedua orang tuanya juga bukan pedagang tetapi hanyalah seorang buruh tani. Di tempatnya disebut penyakap, seseorang yang mengerjakan sawah milik orang lain. Si empunya tanah memiliki berhektar-hektar sawah sehingga tak mampu mengerjakannya sendiri. Nyatanya, dia memang tak pernah mengerjakan sawahnya sendiri namun punya banyak penyakap. Dan mereka ini sangat hormat padanya, seolah hidupnya benar-benar tergantung dari belas kasihan pemilik tanah. Tiap musim panen dia membawa padi di atas pedati yang ditarik oleh seekor kerbau, dan pedati itupun serta kerbaunya milik pemilik sawah yang dipinjamkan padanya.

Pada musim tanam, kerbau itu dimanfaatkannya sebagai penarik bajak dan pedatinya dimanfaatkan untuk mengangkut pisang dan kelapa ke pasar. Kelapa itu pun milik pemilik sawah yang juga punya kebun kelapa yang juga ditanami pisang. Dia membawa kelapa yang dipetik itu langsung ke pasar atas perintah empunya tanah. Dari pasar dia langsung menyerahkan hasil penjualan itu sambil membawa beberapa botol minyak kelapa dari kelapa yang diolahnya di rumah. Lalu dengan duduk bersila di lantai dan menghadapi secangkir kopi panas dia menunggu apapun yang akan dilakukan oleh pemilik tanah itu padanya.

“Hanya ini hasilnya?” “Maaf, Gusti, hanya itu. Sebagian sudah saya masak menjadi minyak kelapa.” Lalu dengan tersenyum lelaki yang duduk di kursi itu menghitung kembali uang yang digenggamnya dan kemudian memberikan beberapa lembar padanya: “Ini buat kamu, kerja yang baik ya!?”

“Terima kasih Gusti!” katanya sambil menerima uang itu. Memang hanya sekian itu yang akan diterimanya setiap dia membawakannya beberapa botol minyak kelapa murni dan beberapa lembar uang. Karena itu dari sejak semula dia disisihkan sebagaian hasil panen untuk menghidupi keluarganya. Dari mana dia akan mendapat makan kalau tidak dari tanah yang digarapnya? Karena nasibnya itu dia namakan anaknya Nasib, dengan harapan akan mengubah nasibnya menjadi lebih baik. Namun apa yang terjadi?

Justru Nasib tidak mau mengubah nasibnya. Dia menyerah, apalagi membantu ayahnya sebagai buruh tani. Dia ingin menjadi orang kota, bersekolah tinggi. Tetapi bagaimana bisa bersekolah tinggi kalau tak mau berusaha? SD tidak diselesaikannya. Alasannya sudah nasib seperti namanya.

Temannya tidak berputus asa memberinya semangat. Dia datang dan mengajak Nasib naik motornya menuju sebuah kedai makan yang cukup luas.
“Mau traktir makan?”

“Jangan khawatir,” kata temannya itu. Mereka duduk di sudut sebuah ruang terbuka di atas lantai yang lebih tinggi dari halaman. Di situ ada sekitar enam meja dengan masing-masing empat kursi. Di seberang halaman, terdapat pula lantai yang ditinggikan, tetapi tidak terdapat kursi. Lantai dibiarkan beralas tikar dan meja berkaki pendek tersedia di situ.
Rupanya ruang khusus itu disediakan untuk pembeli yang memilih lesehan sambil ngobrol.
“Kamu baca nama warung ini?” Nasib menggeleng.
“Manalagi, artinya ya manalagi, pembeli menjadi tak puas kalau tidak makan lagi dan makan lagi.”

Nasib mengangguk. Pesanan mereka nasi campur dan es campur yang menggugah selera. Es serut yang menggunung kecil ditaburi susu coklat dan sirup merah. Belum sampai ke mulut rasanya sudah sampai di lidah.

Apalagi ketika Nasib benar-benar menyendok tumpukan es dan sampai ke mulutnya. Sedap.

“Kamu tahu warung ini dulunya gerobak dorong yang diam menungu pembeli di selatan kampus. Hanya menjual nasi campur, sedang es campur dijual pedagang dari Madura yang punya gerobak dorong es campur. Lelaki itu menjual berbagai macam es jus. Pedagang nasi campur itu Bu Saleh, tepatnya Bu Hajjah Saleh yang setiap malam juga memerhatikan pedagang tetangganya itu menjual bermacam es.”
“Lalu, apa hubungannya dengan restoran ini?”

“Bu Saleh masih mempertahankan gerobak nasi campurnya di selatan kampus namun lama kelamaan kewalahan dengan kesibukannya disini. Dia hanya berjualan disini. Lihat begitu banyak pembantunya. Bu Saleh hanya siap di kasir dan sesekali masuk dapur memeriksa juru masaknya memasak pesanan pembeli, sesekali masih memberikan petunjuk. Dia tak mau melepaskan sama sekali urusan dapur pada para juru masaknya. Dia pernah bilang: ini kunci sebuah warung. Kalau rasa berubah maka pelanggan akan terbang.”

Waktu mereka sedang makan seorang lelaki memuatkan sekarung kacang goreng ke sepeda motornya. Kacang itu ditempatkan di dalam bungkusan setengah kilo gram kemudian diangkut di dalam karung terali dan dibawa ke toko-toko di penjuru kota.

“Lihat lelaki itu, dia pekerja yang mengantar kacang goreng buatan Bu Saleh. Walaupun digoreng, kacang itu tidak berminyak. Kacang itu kering sehingga tidak meninggalkan bekas minyak di jari jemari.”

Nasib tertegun. Dia heran, Bu Saleh sudah punya restoran laris, toh masih juga membuat kacang goreng.

“Dan kacang Manalagi ini terkenal sampai Jakarta!” lanjut temannya. “Kalau kita punya uang, kita bisa membeli tas bungkus kacang yang memuat sampai dua setengah kilogram dengan label restoran ini.”

Untuk apa dia menambah usahanya? Namun temannya tidak berhenti sampai di sini. Seusai makan dia dibonceng keluar menuju jalan lain yang jaraknya sekitar tiga ratus meter dari situ. Di depan sebuah restoran besar, temannya berhenti dan setelah menyandarkan motornya, dia tunjukkan bangunan besar tanpa dinding, di sebelahnya ada pula bangunan berdinding yang terpisah.

“Apa nama restoran ini?” tanya temannya. Nasib membaca papan nama: “Restoran Manalagi II: sedia ayam goreng, ikan bakar…Melayani pesta dan…”
Temannya tersenyum dan mengantarnya pulang.

Nasib tergolek di tempat tidur di kamarnya. Sudah beberapa bulan dia tidak pernah berpikir mengenai masa depannya. Sekarang pikirannya dikacaukan oleh pengalaman yang diberikan temannya itu. Kemudian dia keluar ke halaman dan menyaksikan kebun kelapa yang luas dengan batang-batang pisang yang tumbuh subur disana-sini. Di bagian lain kalau dia mau berjalan lebih jauh, dia akan sampai ke hamparan padi.
Ayahnya tampak tidak mengipas-kipaskan topinya. Rupanya lelaki yang makin tua itu kegerahan.
“Syukurlah kebun kelapa dan sawah tidak dijual oleh Gusti Aji,” kata ayahnya.
“Jadi bapak bisa mengerjakannya. Kalau tidak, apa yang kita makan?”

Seharusnya Nasib sudah mendengar kata-kata itu sejak lama, namun kali ni hatinya terguncang, Urat-urat di leher ayahnya mengendur, demikian juga urat-urat di lengannya. Seharusnya urat lengannnya yang mengeras karena kerja di sawah.

Tetapi apa yang telah dilakukannya? Hanya berkeluh kesah menyesali nasibnya. Kenapa Bu Saleh nampak sangat gembira padahal dia pasti bekerja keras sepanjang hari. Untuk pertama kali matanya berkaca-kaca dan diapun berkata: “Maafkan saya, Bape.”

Ayahnya memandangnya tidak berkata, kemudian menepuk-nepuk punggungnya. Dia paham, dia tidak memberinya pendidikan cukup sebab dia tidak pernah memikirkan itu. Beberapa hari ini dia hadir di kelurahan mendapat pelajaran baca tulis dan penyuluhan pertanian. Dia sadar itu perlu. Tapi dibiarkan Nasib berpikir mengenai dirinya sendiri. Tadi di halaman tampak ibunya menjemur pisang.
“Untuk selai pisang,” kata ibunya.
Nasib tertegun kembali. “Dijual?”

“Ya. Kalau sudah jadi ada yang ngambil kesini. Dia yang menjualnya, sebelumnya dia pula yang membungkusnya dan memberinya cap.”

Nasib teringat Bu Saleh.Langkahnya pun dimulai. Dia tahu bahwa tidak semua pisang bisa dijemur menjadi pisang selai. Ada yang cocok untuk kripik pisang. Ada yang cocok untuk dimakan sebagai buah, ada pula yang bisa dimasak sebagai kue sumping1. Tetapi membuat kue pisang sangat berisiko sebab kue itu hanya tahan sehari, dan dalam tempo sehari harus laku terjual. Dia ingat Bu Saleh yang tekun.

Bertahun-tahun kemudian, berhari-hari keringatnya tetes dan dia mula mengantar sendiri pisang selai ke toko-toko, namum lama kelamaan orang mengambil pisang selainya itu langsung ke rumahnya, demikian pula dengan kripik pisangnya. Kue sumping berisi pisang ukuran besar dan dibungkus daun pisang yang masih muda selalu menjadi rebutan oleh orang-orang yang menjadi “distributornya”, masuk ke hotel-hotel dan restoran yang banyak bertebaran di Lovina. Dan pisang selainya memakai cap terkenal: Nasib Bagus. Nasib sekarang harus menambah kata Bagus pada namanya tetapi Bu Saleh tidak pernah menambahkan kata “tekun” di belakang namanya. Saleh saja. ***

Singaraja 1-2 Juni 2011