Mila Novita
Sinar Harapan, 7 Feb 2009
“Sejak kecil orang pesantren sudah dekat sekali dengan puisi, nazam. Orang menghafal nama-nama nabi atau nama-nama Allah dengan nazam sehingga otomatis akan mudah dihafal. Di pesantren, orang belajar kitab, bahkan gramatikal bahasa Arab juga dengan rumus-rumus sastrawi. Mengapa? Karena pesantren (sejak-red) zaman dahulu tidak boleh mengabaikan keindahan,” ujar Masriyah Amva di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, Depok, Rabu (4/2). Continue reading “Masriyah Amva, Pesantren, dan Sastra”
