Masriyah Amva, Pesantren, dan Sastra

Mila Novita
Sinar Harapan, 7 Feb 2009

“Sejak kecil orang pesantren sudah dekat sekali dengan puisi, nazam. Orang menghafal nama-nama nabi atau nama-nama Allah dengan nazam sehingga otomatis akan mudah dihafal. Di pesantren, orang belajar kitab, bahkan gramatikal bahasa Arab juga dengan rumus-rumus sastrawi. Mengapa? Karena pesantren (sejak-red) zaman dahulu tidak boleh mengabaikan keindahan,” ujar Masriyah Amva di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, Depok, Rabu (4/2). Continue reading “Masriyah Amva, Pesantren, dan Sastra”

Robohnya Dunia Santri

Fachry Ali *
Gatra Nomor 25, 8 Mei 2008

“Saya heran,” kata Abdurrahman Wahid ketika menyambut acara peluncuran website Akbar Tandjung, bulan lalu, “Kenapa setiap orang berpidato selalu menyatakan: ‘Mari kita panjatkan syukur’….” Hadirin terdiam karena tidak mengerti ke mana arah ucapan tersebut. Dan struktur “psikologi massa” semacam inilah yang menjadi “makanan” Kiai Wahid. Sebagaimana biasanya, dengan tangkas ia menjawab teka-teki itu: “Memangnya (si) Syukur tidak bisa panjat sendiri?” Continue reading “Robohnya Dunia Santri”

Sastra Pesantren dan Kosmopolitanisme Islam

Syarif Hidayat Santoso
Kompas Jawa Timur, 2005

Terdapat problem dalam merumuskan apa yang dimaksud dengan sastra pesantren. Disatu sisi, sastra pesantren dimaknai sebagai alur keislaman profetik dalam bersastra ria pada masa Arab klasik, sementara ada pula yang memberi limitasi sastra pesantren hanyalah karya yang dihasilkan para santri (Kompas Jatim, 6/9/2005). Tapi, kedua tataran ini jelas menunjukkan bahwa sastra pesantren merupakan kesusasteraan yang diikat dalam nuansa Arab-Islam plus penambahan area dari lingkungan pesantren atau minimal bagi kalangan yang dekat dengan pesantren. Continue reading “Sastra Pesantren dan Kosmopolitanisme Islam”

Sastra Pesantren dalam Pergulatan

K. Ng. H. Agus Sunyoto
http://pesantrenbudaya.com/?id=28

KH Abdurrahman Wahid (1973) memberikan abstraksi tentang sastera pesantren dalam dua definisi, pertama, karya-karya sastera yang mengeksplorasi kebiasaan-kebiasaan di pesantren,. Kedua, adanya corak psikologi pesantren dengan struktur agama (warna religius) yang kuat. Sementara Ahmad Tohari (2003) menegaskan bahwa sastera pesantren adalah sastera yang membawa semangat budaya dan tradisi pesantren, yaitu sastera yang membawa spirit religius ala pesantren dan ditulis oleh komunitas pesantren sendiri. Continue reading “Sastra Pesantren dalam Pergulatan”

Bahasa »