Keluarga Ampuntuan

Raudal Tanjung Banua
http://www.lampungpost.com/

TAK ada pembunuhan di sini. Tak ada pembantaian. Semua mengalir mengikuti garis takdir. Tuhan memberi semua lebih dari yang diharapkan siapa pun, bahkan oleh si empunya nasib.

Nasib? Tak seorang pun tahu jalan nasib.

Ketika Orde Baru sedang jaya, ia jadi simpatisan diam-diam sebuah partai politik, sambil mengurus sepetak sempit ladang jeruk. Ketika Orde Baru di ambang bangkrut, ia terang-terangan mengaku sebagai anggota partai yang ditindas. Meski partai itu sendiri mengalami pecah kongsi, kemaruk, berkat politik belah bambu militer dan laskar terakhir Orde Baru, ia tak acuh. Ketika hantu krismon merangkak di Latin dan Asia, lalu membesar liar di negerinya, ia tak mampu beli pupuk, kecuali setekong dua-tekong beras plus kerupuk, tapi toh ia menolak ikut antre menerima sembako murah, malah memilih merutuk dan mengutuk sehingga orang-orang menoleh kepadanya.

Ketika El Nino ikut pula masuk langit berita, ia mendapatkan buah jeruknya mulai berulat persis kekuasaan yang membusuk. Ketika nasi bungkus dibagikan dan proyek Padat Karya dipadatkan, ia pun menolak ikut, malah dengan gagah memilih menjadi tukang ojek dengan motor butut yang sebelumnya ia pakai ke ladang membawa pupuk kandang. Ketika orang-orang berani turun ke jalan, ia jadikan pos ronda tempatnya mangkal sebagai posko siaga, entah siaga apa. Bendera partainya dalam lambang baru dipasangnya besar-besar, berdampingan dengan bendera merah-putih, bahkan mengalahkan ukuran pos ronda, sehingga jika kedua bendera itu berkibar serentak orang akan melihat seakan pos ronda itu akan dibawa terbang sepasang sayap raksasa ke langit harapan.

Ketika koor reformasi menggema di langit yang biru, ia kuat-kuat menginjak tanah yang waktu itu mulai basah, sebagian oleh keringat, sebagian oleh darah, dan sebagian lagi memang karena musim hujan sudah tiba. El Nino pergi, dan ia nyaris mendapat si cantik Nina, mahasiswi aktivis yang kemudian juga pergi sebab tahu ia sudah punya Atikah Bandriah dengan dua anak remaja, Budi dan Azizi. Nasib belum berpihak padanya.

Ketika pemilu pertama era reformasi hendak digelar, ia terjaring tangan panjang partainya yang sedang mengadakan konsolidasi. Nasib baik mulai meliriknya. Mula-mula ia terpilih jadi ketua pengurus anak cabang di kecamatan, secara aklamasi, terutama karena memang tak ada lagi figur yang paling heboh dan berani selain dia di kecamatan itu. Tak berapa lama, dalam kongres daerah, ia terpilih jadi Ketua di tingkat kabupaten. Ketika pemilu raya sekaligus memilih anggota legislatif dalam satu paket, tentu saja ia maju bukan di nomor sepatu. Beruntung pula ijazah yang ia peroleh dari lima tahun kuliah di kota provinsi tidaklah lusuh sebab disimpan baik-baik di balik plastik laminating, bebas kepinding, belum sekalipun ia jejalkan ke kantor-kantor partikulir dan tong sampah pemerintah. Dan saat ia gunakan pertama kali sebagai syarat caleg cap “nomor jadi”, benar-benar membuatnya jadi anggota Dewan di kabupatennya yang merana, persis kerut kulit jeruk dimakan ulat.

Tapi ia tak ciut, sebab di luar dugaan, anggota Dewan yang terpilih mayoritas berasal dari partainya. Padahal, selama bertahun-tahun partainya bagai terkubur humus dan serakan daun-daun, tak seorang pun sudi berhimpun jadi anggota. Ajaib, ketika kini partainya bangkit, entah dari mana datangnya, banyak orang menumpang bersamanya. Tak apa. Situasi memang berbalik. Terimalah dengan rida. Dan ia segera berbenah di dalam gedung dewan yang tua dan berlumut, bertahun-tahun tak pernah tersentuh kuas dan cat. Sekarang ia dan anggota Dewan lainnya yang terhormat, era paling mutakhir dari demokrasi negara ketiga, bersiap mewarnai gedung itu dengan bendera partai aneka warna dan nama-nama. Warna-warni. Ramai sekali. Melebihi pelangi. Meski memang, warna partai Tokoh Kita yang paling mencolok. Membuatnya seakan tak percaya bahwa kekuasaan yang lepas dari tampuknya jatuh persis menimpa dirinya!

Pernah ia bermimpi seolah sedang tertidur di bawah pohon jeruk. Sebuah jeruk busuk jatuh menghempas wajahnya hingga matanya terpercik perih air asam—serasa gas air mata dilepaskan polisi anti huru-hara di perempatan kota kecilnya. Tapi itulah yang terjadi. “Jeruk dan kekuasaan punya mikrofonnya sendiri, mikrofon yang akan sama-sama jatuh jika tripotnya membungkuk, condong ke arah massa,” seseorang seperti alien—makhluk langit—bicara padanya dalam tidur itu. Ia tergeragap. Kata makhluk itu lagi, “Einsten merumuskan hukum vertikal gravitasi di bawah pohon apel, tapi sebenarnya ada hukum melingkar gravitasi. Kau bisa dapatkan dari amsal buah jeruk. Karena buah jerukmu busuk, yang ada ialah ulat. Tak ada obat dan pupuk, tak ada pasar dan tawar-menawar, tak ada jual-beli, akibatnya sebuah siklus terputus yang akan merenggut buah lebih besar: kekuasaan!”

***

WAKTU ia terbangun, makhluk aneh berkepala gundul itu sudah tak ada, sebaliknya ia benar-benar mendapati buah ranum kekuasaan sebagaimana dikatakan si alien. Lihatlah, dirinya tersandar gagah di kursinya, di ruang sidang yang sudah sepi dan kosong. Tak ada lagi gema suara-suara dan perdebatan. Jelas, tak seorang pun yang berani lancang membangunkannya, sekalipun dengan lembut dan sopan, sebab semua tahu belaka betapa payah ia bekerja hari-hari terakhir ini. Hari-hari yang menentukan warna cat dan gema mikrofon di gedung Dewan itu.

Semua mahfum betapa ia telah berjuang dimasa-masa sulit: mengumpulkan satu-dua kawan untuk berani menyatakan diri. Di antaranya, menyablon kaos yang biasa mereka pakai ke ladang dengan lambang partai yang saat itu antara ada dan tiada, ditambah sedikit kata-kata, “Ada atau Tiada, Perjuangan adalah Pelaksanaan Kata-kata.” Telah ia kibarkan bendera di pos ronda. Telah ia dirikan pos siaga. Meski memang tak kelewat tegang, tak perlu menderap langkah, apalagi berdarah-darah. Semua dilakukannya dengan santai, kadang sambil cengengesan dan tertawa-tawa. Iseng, kata sebagian orang. Tapi apakah yang tidak berbahaya disaat buah kekuasaan sedang ranum di batang-batangnya yang baja? Apakah ada alasan lain jika bukan berani, saat tampuk kekuasaan hendak lapuk lalu dijaga laskar terakhir dengan separuh kantuk? Tak ada. Bahkan tindakan iseng pun hampir sebuah subversi!

Maka, apa pun kata orang, Tokoh Kita membuktikan tidak semua keisengan sia-sia. Telah ia lalui hari kemarin dengan segala rutuk dan geramnya. Merana. Kini, waktu tak membiarkannya berlama-lama jadi semerana jeruk busuk sehingga dalam pemilihan ketua Dewan, ia terpilih bulat-bulat jadi ketua, bersaing sedikit ketat dengan anggota dari partai lain yang sedang dihujat sana-sini, dan karenanya sang pesaing agak kurang percaya diri. Sedang ia tak perlu malu-malu kucing karena sejarah masa lalu membuktikan ia kucing sejati di antara tikus dan kelinci.

Selesai? Soal nasib tak ada yang selesai, bahkan ketika kelak tubuhmu dikubur, nasib baik akan tetap menyertai orang-orang yang dekat dengan dirimu. Maka begitulah, dalam pemilu periode berikutnya, ia melenggang maju dicalonkan partainya sebagai bupati. Tanpa pembunuhan apalagi pembantaian, ia terpilih dengan suara terbanyak, dan suara-suara lain dibuat ciut, kalah nyali. Maka ia dilantik sebagai bupati dengan terlebih dulu diarak pakai gerobak dan pedati, penuh berisi buah-buah tanda kemakmuran. Berhiaskan bunga-bunga simbol perdamaian.

Dalam hitungan hari, ia segera meluncurkan gerakan swasembada jeruk dan program “Jeruk untuk Semua”. Menurutnya, jika sebuah propinsi di timur tanah air berhasil dengan tanaman jagung, maka ia berpikir daerahnya bisa bangkit dengan jeruk. Sedangkan “Jeruk untuk Semua” merupakan program bagi-bagi jeruk di setiap rumah, supaya anak-anak tidak kekurangan vitamin C, dan bagi orang tua, setelah merasakan manisnya jeruk, diharapkan segera membuka kebun jeruk pula. Uniknya, ia pun mencoba memberdayakan tupai sebagai ternak unggulan lewat anjuran mencari bibit terbaik dengan menangkap tupai hidup-hidup di pohon kelapa. Ini segera mengantarnya meraih penghargaan inspiratif dari istana negara, dan tentu saja catatan dari museum rekor sebagai terobosan paling nyeleneh di negeri pulau kelapa. Saat diwawancarai, dengan rendah hati ia malah berkampanye bahwa kebijakannya itu bernilai ganda: tupai terusir dari kelapa, hati tupai baik untuk penyakit asma.

Prestasi demi prestasi sukses ia tuai, termasuk penghargaan dari sebuah lembaga sosial-politik yang mencatatnya sebagai “Tokoh Politik Lokal Bebas Konflik”. Tapi bukan penghargaan itu benar yang membuatnya tersanjung, melainkan perempuan pemilik lembaga itu membuatnya beruntung. Ya, pemilik lembaga itu tak lain Nina Asmarina, mantan aktivis yang pernah dekat dengan dia saat demo kecil-kecilan di perempatan kota kecilnya. Seajaib nasibnya dalam dunia politik, seperti itu pula nasibnya dalam dunia perkawinan. Tanpa ribut-ribut, ia nikahi Nina Asmarina secara siri dan gadis itu pun ingin. Habis perkara. Bahkan istri pertamanya tak mungkin mungkir akan sunah nabi, meski syarat berbuat adil, entahlah. Maka benarlah ia menjelma tokoh politik bebas konflik di dunia yang sesungguhnya penuh konflik.

***

WAKTU berputar segan di ubun-ubun mereka yang lamban, banyak tidur dan mengantuk. Tapi alangkah cepat menggasing mereka yang sulit tidur sebab segalanya mesti diatur. Mereka pun berjalan, dan terantuk. Tapi selalu tangan tuhan terulur, lewat tangan-tangan dewan yang merumuskan undang-undang dan aturan. Anggota dewan adalah wakil tuhan di bumi, jika kau percaya suara rakyat adalah suara tuhan—sebab bukankah rakyat, kita semua, yang memilih anggota Dewan?

Begitulah sebab-musabab dan tali-temali nasib bekerja. Ketika masa jabatan Tokoh Kita sebagai bupati berakhir, undang-undang memberinya keleluasaan untuk maju kedua kali. Ia maju lebih percaya diri, bahkan hampir-hampir tak merasa perlu berkampanye seperti tukang obat di pasar, cukup keliling membagikan bibit jeruk yang khusus didatangkan dari Kalimantan. Tak perlu mencincang lawan, membanting mikrofon atau menjilat pantat rakyat. Ia hanya merasa perlu mengganti pasangan wakilnya, dari Subandi menjadi Amzori Rifai, masih sepupu, sebagaimana kepala dinas banyak dari kalangan sepupunya sebab itu modal merawat kekuasaan.

Ketika masa kekuasaannya untuk kedua kali hampir habis, dan undang-undang yang manis dan sopan melarangnya mencalonkan diri kembali, tak ada yang perlu dicemaskan. Nasib masih akan bekerja. Undang-undang toh tak pernah menutup kesempatan setiap warga negara untuk berkuasa. Tak ada larangan kalau ia maju di daerah lain. Dan karena undang-undang kekuasaan begitu manis dan sopan, ia bisa saja maju di kabupaten tetangga, daerah asal istrinya. Namun, rekomendasi partainya tak kalah manis, sedang rumput tetangga yang sehijau kulit mangga, biarlah untuk sang istri. Ia toh tak perlu neko-neko ketika tangan panjang partainya—kini mulai tambun dan berlemak—menggamitnya untuk bertarung di tingkat provinsi, walau jabatannya masih bersisa separuh masa.

Diolah intuisi keisengannya yang sudah teruji, ia buat move sebagai calon gubernur yang mendapat dukungan penuh lembaga survei, tapi di saat yang tepat ia menelikung secara dramatik: ia putuskan untuk maju sebagai wakil pasangan gubernur saja. Bukan tanpa alasan. Ia dan partainya tahu belaka bahwa meski partainya mayoritas di dewan propinsi, tak ada jaminan para anggota Dewan akan langsung memilih dia. Waktu itu pemilihan masih dilakukan oleh anggota Dewan dengan pola voting rahasia sehingga siapa jamin anggota itu tak membelot mengingat banyak di antara mereka penumpang gelap? Jika sampai ia kalah di tengah mayoritas anggotanya, tentu akan berbahaya dan meruntuhkan reputasi partai dan dirinya sendiri. Maka, alon-alon kelakon selalu lebih baik, percayalah.

Tanpa perlu meledak-ledak, majulah ia mendampingi seorang calon yang ambisius—jauh dari kesan iseng—sehingga kelak di kemudian hari dengan sedikit keisengan saja Tokoh Kita pasti akan memetik buahnya. Ya, ya, wakil itu adalah sebaik-baiknya modal untuk maju jadi orang nomor satu dalam pemilihan berikutnya. Dan atas nama nasib baik dan rakyat banyak, pasangan itu menanglah.

***

NASIB mengalir seperti air pelimbahan, meluap di kali dangkal, seperti air hujan di cucuran atap, ke mana lagi mengalir kalau tidak di bawah kaki keluarga yang seakan milik kekal kekuasaan? Siapa lagi yang hendak ia basuh jika bukan kepala orang-orang terdekat, seolah mengusapnya dengan tongkat keajaiban?

Begitulah, istri tercinta Tokoh Kita maju sebagai calon bupati mengincar kursi yang ditinggalkannya. Sementara istrinya yang kedua, Nina Asmarina tak berselang lama maju pula sebagai wakil wali kota di sebuah kota pelabuhan yang selalu tampak seperti orang meringis—sarat beban—jika dilihat dari laut. Anak Tokoh Kita, Ir. Budi Kelana Jauhkali juga terjun ke politik, tak kepalang tanggung, perlahan tapi pasti di internal partai, Budi digadang-gadang sebagai calon sekjen lokal masa depan, dan tentu saja lebih dulu memetik bintang di bangku Dewan daerah.

Sementara drg. Azizi Makronah, si bungsu yang pandai merayu, resmi dipinang putra politikus tua kawakan—dengan perayaan tujuh hari tujuh malam—sehingga membuhul dinasti lokal dan nasional, pelan-pelan. Pesta pun berlanjut. Pesta demokrasi tahun berikut, mengantar Azizi yang manis dan selalu tampak seperti perawan suci, sebagai anggota Dewan. Tak sekadar memenuhi kuota perempuan. Azizi dikenal santun, persis saat ia praktek di klinik gigi membujuk pasiennya yang menggigil seperti rakyat menunggu mukjizat kebijakan. Klinik yang sebentar lagi akan menjelma rumah sakit swasta pertama di kota kelahirannya yang kini ranum belaka, seperti buah jeruk marabahan dalam masa panennya yang terbaik.

Demikianlah, tak perlu waktu lama menunggu pohon keajaiban nasib tumbuh dan berbuah. Sewindu sehat, satu dasawarsa sempurna. Selewat itu, tinggal menjaga akar dan sulur-sulurnya, berjalinan mencari akar dan sulur lain di tanah basah. Kini kita punya dinasti lokal yang sambung-menyambung, berjajar pulau demi pulau, dalam naungan undang-undang yang manis dan sopan, tak perlu ada pembantaian.

Tapi, entah kenapa, akhir-akhir ini, dalam tidur yang singkat dan sulit terpejam, makhluk serupa alien itu sering kali merasuk ke dalam mimpi-mimpi siang-malam Tokoh Kita. Konon, menurut staf ahlinya yang tak perlu disebutkan nama—sebab kesaksian ini bersifat rahasia—tuannya itu sering tergeragap bangun, basah keringat, ngungun seperti lanun terkepung kapal patroli.

Perlahan, setelah diambilkan air putih, sang tuan akan bercerita bahwa mimpi yang sama datang lagi. Katanya, makhluk gundul serupa alien itu, selalu, antara takjub dan gemetar, berkata padanya, “Ampun, Tuan, Ampun, Tuan….”

Ketika staf yang sebelumnya berprofesi sebagai wartawan lokal itu diminta mencatat ucapan si alien—untuk analisis mistik-politik—si staf agak kebingungan. Maka ia menulisnya campur aduk. Kadang “Ampun, Tuan,” kadang “Ampuntuan”.

Menurut Anda, apakah ada bedanya?

Rumahlebah Yogyakarta, Mei-Juni 2011 /29 January 2012