Kembali Ke Jogja Membaca Sastra

Odi Shalahuddin *
http://www.kompasiana.com/odishalahuddin

Sastra Bulan Purnama putaran ke tiga dilangsungkan di Rumah Budaya Tembi dengan tajuk: Kembali ke Jogja Membaca Sastra. Informasi yang sudah disampaikan oleh Bung Ons Untoro selaku koordinator dan penanggung jawab kegiatan ini kepada rekan-rekannya melalui jejaring sosial pada tanggal 3 Desember 2011. Saya sendiri menyatakan siap untuk hadir.

Sungguh lupa. 10-12 Desember telah ada jadwal ke luar kota, ugh, pastilah acara menarik yang dinanti akan terlewatkan. Namun beruntung, dengan mencermati situasi, saya bisa meyakinkan satu kegiatan bisa ditunda, sehingga jadwal kegiatan hanya tanggal 10-11 Desember saja. Setelah disepakati, maka meminta sopir sewaan untuk menjemput sekitar pukul 18.00

Dua jam perjalanan Kebumen – Yogyakarta, tiba di Rumah Budaya Tembi sekitar pukul 20.30. bisalah bernafas lega. Terlambat tapi pastilah bisa menikmati beberapa pertunjukan. Ya, perjalanan yang sangat cepat. Sang Sopir memacu laju kendaraan dengan kencang di jalan yang bergelombang, tapi beruntungnya tidurku sama sekali tidak terganggu. Hanya cerita dari kawan yang masih terjaga, laju kendaraan sangatlah menakutkan. Bertiga, kami turun.

Saat tiba, Veven SP Wardhana tengah membacakan cerpennya berjudul “Purnama di Kanal De Rijn”. Penonton di panggung terbuka yang terletak di bagian belakang RBT sudah penuh. Demikian pula di halaman sebelum masuk panggung terbuka, ada beberapa kerumunan yang asyik berbincang-bincang, sambil menikmati kopi atau teh hangat, gorengan atau kacang rebus yang memang disediakan oleh penyelenggara.

Terlihat Halim Hade tengah diskusi serius dengan beberapa orang, diantaranya dalam kerumunan itu terlihat Wadie Maharief, Slamet Riyadi Sabrawi dan Genthong HSA. Di sisi lain juga terlihat Kris Budiman, Hairus Salim, Eko Nuryono, dan para seniman muda lainnya.

”Bukan, bukan kisah satu sosok tertentu, tapi dari beragam kisah hidup yang dicampur,” Veven Sp Wardhana menjelaskan ketika seorang kawan menanyakan apakah cerpennya mengenai kehidupan dari sosok tertentu orang yang exile akibat peristiwa 1965.

Orang-orang yang hadir lebih banyak dibandingkan Sastra Bulan Purnama putaran satu dan dua. Kebetulan malam itu memang ada rombongan dari Surabaya yang turut berbaur bersama penonton. Para mahasiswa/i Universitas Negeri Surabaya yang jumlahnya sekitar 100 orang.

Sayang, telah melewatkan penampilan dari Komunitas Pariyem dari Kadisobo yang merupakan lingkungan tempat tinggal Linus Suryadi AG , Amron Trisnardi (Jakarta), Bramantyo Prijosusilo yang pernah aktif di Bengkel Teater Rendra yang kini menjadi petani di Ngawi, Erick Indranatan dari Kediri, Teguh Ranusastra Asmara dan Sutirman Eka Ardana dari Yogyakarta.

Tapi beruntung masih bisa menikmati performance dari Andrik Purwasito bersama rekan-rekannya dari Solo, pembacaan puisi dari salah satu mahasiswa UNS dan Sri Wintala Ahmad yang masing-masing membawakan dua puisinya, yang dilanjutkan musikalisasi puisi dan pembacaan puisi oleh Eko Tunas bersama kelompoknya ”Surau Kami”.

Terkait dengan penampilan Eko Tunas, Ons Untoro memberikan pengantarnya: ” “Pada tahun 1970-an di Yogya di kenal 4 E: Emha Ainun Nadjib, Ebiet G. Ade, Eko Tunas, dan EH Kertanegara,”

Keempat E tersebut pernah tinggal satu kontrakkan dan berproses dalam kesenian di Yogya bersama Studi Persada Klub yang dikomandani oleh Umbu Landu Paranggi yang juga dikenal dengan julukan Presiden Malioboro.

Di tengah pembacaan dan musikalisasi puisi, Eko Tunas menceritakan pula memorinya atas pengalaman dia ketika berada di Yogya. ”Saya itu kalau membuat lirik, diberikan ke kawan-kawan, sudah jadi lagu. Dulu juga begitu. Emha, yang memiliki buku notes cap monyet, kalau membuat lirik, biasa dijadikan lagu oleh Ebiet.”

Eko juga mengisahkan pada masa-masa itu, seorang penyair selain menghafal puisi-puisinya sendiri juga menghafal puisi dari kawan-kawannya. Salah satu puisi dan lagu yang wajib untuk dihafal oleh para seniman Yogya pada masa itu adalah puisi Umbu Landu Paranggi yang juga dijadikan lagu. ”Saya tidak bisa menyanyikannya, tapi saya masih hafal syairnya,” kata Eko dilanjutkan dengan mendeklamasikan lirik puisi itu, yang diamini oleh beberapa penyair pada masa 1970-an yang hadir.

Apa ada angin di Jakarta
Seperti dihembus desa Melati
Apa cintaku bisa lagi cari
Akar bukit Wonosari
Yang diam di dasar jiwaku
Kenangkanlah jua yang celaka
Orang usiran kota raya
Yang terpinggirkan di pojok-pojok kota
Pulanglah ke desa membangun esok hari
Kembali ke huma berhati

Selain itu, Eko Tunas juga membacakan puisi Emha yang dinyatakannya sebagai puisi yang juga banyak dihafal oleh para penyair Yogya. Puisi yang dijadikan lagu oleh Ebiet G. Ade, tapi tidak dimasukkan ke dalam album-album lagunya.

“Jangan dikira Emha gak pernah bikin puisi lebay atau romantis. Saya juga masih hafal syairnya. Lebai banget. Ini puisi yang dibuatnya tahun 1980-an,”

POLOS

Polos bola matamu
Berderai rambut panjangmu
Diakah kekasih sang dewa
Yang terjaga dari noda

Pasti harum jiwanya
Seperti bunga-bunga
Pasti sahaja hatinya
Suci dan mulia

Di Timur matahari bangkit
Mendaki bukit demi bukit
Dalam sukma iapun terbit
Menyembuhkanku dari sakit

Tuhan, bisakah kiranya
Kelak kukecup keningnya
Dan di telaga bening matanya
Aku membasuh luka

Selanjutnya, Eko Tunas melanjutkan pembacaan puisi dan musikalisasi puisinya oleh ”Surau Kami” hingga waktu yang merambat, telah tiba untuk usai.

Jangan lupa, selanjutnya Sastra Bulan Purnama putaran ke empat akan digelar pada 9 Januari 2012, di tempat yang sama: Rumah Budaya Tembi.

Salam,

Odi Shalahuddin
Yogyakarta, 12 Desember 2011

*) Bekerja pada isu (hak-hak) anak sejak tahun 1990. Suka belajar menulis fiksi. Lagi menghimpun tulisannya di blog: http://odishalahuddin.wordpress.com Twitter: @odish2007
Dijumput dari: http://lifestyle.kompasiana.com/catatan/2011/12/12/kembali-ke-jogja-membaca-sastra/