Menyibak Dewan Kesenian yang tak bergeming

Arifin Yus
http://arifin-yus.blogspot.com/

Menyibak Dewan Kesenian Tanjungbalai yang tak bergeming

Awal kata disini kita tetaskan dulu penyatuan tanggapan yang disampaikan oleh beberapa pekerja seni dan teater pada omong omong seni dan teater di pos teater Kimbang pada l4 Februari 2011 yang lalu isi tanggapan hampir sama;” Dari tahun ketahun Dewan Kesenian Tanjungbalai tidak bergeming’, bahkan cendrung adem adem aja siapapun itu ketua. Satu pertanyaan lagi; Dewan Kesenian Tanjungbalai tidak tanggap dengan keberadaan seni dan budaya yang ada sehingga lahirlah kekecewaan dari pekerja seni dan pekerja teater, ada apa dibalik mengeramnya DK tersebut tidak bisa kami perkirakan, di basic tak ada gebrakan endingnya sudah pasti pertanyaan dan kekesalan.

Tahun ini berakhirlah masa jabatan ketua DK dan akan beranjak kepemilihan ketua lagi,was was menyelimuti komite pekerja seni khususnya pekerja teater. Pada dasarnya Pekerja teater tidak mau ikut was was namun karena tidak adanya perhatian untuk teater ini dan selama ini teater merasa tidak dipedulikan oleh DK maka sudah pasti kelompok pekerja teater Tanjungbalai berencana untuk mengarahkan telunjuknya kepada ketua DK yang betul betul eksis dan tidak pilih kasih tentunya,siapa itu orangnya tentu masih tersimpan dilumbung teater.

Saya memaparkan hasrat hati para pekerja teater Tanjungbalai ini justru banyaknya keluhan dari kelompok teater yang ada,dimana keluhannya? Yaah..sulitnya untuk mementaskan satu pertunjukan teater yang seyogianya DK dapat membantu baik sarana maupun prasarana, tapi kenyataannya jauh panggang dari ikan, teater Lorong Company misalnya, selalu menemui kesulitan andai hendak pementasan, taulah teater, hanya modal semangat saja untuk berpentas, itupun sudah syukur mereka mau menampilkan atraksi teaternya.

Untuk sebuah pertunjukan teater kita butuh gedung, properti, bahkan harus punya surat izin keamanan, belum lagi segala yang menyangkut biaya operasional termasuk cetak undangan, tentu tidak sedikit biaya yang dibutuhkan. Boby Marpaung selaku pimpinan teater Lorong Company menelan air mata memikir itu semua, Cuma semangat yang tersisa dan memikirkan generasi muda agar tidak jauh dari rumah teater justru beliau tetap mengadakan pertunjukan teater Lorong Company pada Bulan Maret 2011 ini mengangkat naskah “Pinangan” Karya Anton Chekov di Aula Dispora Tanjungbalai, padahal Aula Dispora bukan standardnya teater untuk menampilkan sebuah drama. Kasihan sekali.

Dalam waktu yang sama Teater Kimbang pimpinan Herwinsyah Sirait juga berencana untuk mengadakan pertunjukan teater mengangkat naskah; ”Senja di Puluau” dan naskah “Garo Garo Tasumbat” karya Arifin Yus, tapi Herwinsyah Sirait yang akrabnya dipanggil bung Comen masih bingung dengan taksasi biaya yang telah dirinci sampai jutaan rupiah. Coba coba pentolan Kiambang ini melempar bola ke Agustoni selaku ketua Dewan Kesenian Tanjungbalai, ada respon positif bahkan mengajak bung Comen untuk bareng mengadakan pementasan seni pada Maret yang akan datang di gedung Wanita Tanjungbalai alasan pentas bareng dalam rangka mengakhiri jabatan Agustoni sebagai ketua Dewan Kesenian Tanjungbalai, lalu, kenapa mesti akhir jabatan baru memukul gong,itulah yang disesalkan bung Comen, desas desusnya Agustoni mencalon kembali, yah sudah pasti para pekerja teater yang punya satu suara akan berpikir panjang dan teramat panjang.

Kita berlayar sudah tersandung batu karang,tentu tidak akan menempuh jalan yang sama agar tidak tersandung kembali. Kesalahan itu harus jadi tolok ukur, kesalahan harus jadi pelajaran agar tidak salah lagi memilih demi kelestarian seni dan budaya di Tanjungbalai yang akan datang. Mengapa tak bergeming Dewan Kesenian Tanjungbalai.

Dari satu sisi kami selaku pekerja seni dan teater menganggap Ketua Dewan Kesenian Tanjungbalai Cuma punya skil musik lalu Cuma ada rasa ingin menonton tari dan teater namun tidak menc intai, nah kalau Cuma rasa namun tak ada cinta ibarat menggantung tak bertali, sejanggut udang tak dimiliki, tergantung apalah pertunjukan seni, termanggut manggut Cuma menunjukkan diri.

Di sisi lain kami beranggapan ketua Dewan Kesenian dari Wadah PNS sehingga untuk mensyiarkan kesenian dan teater masih ragu menerobos keatas atau barangkali kesibukan kongkrit yang selalu mengiri langkah keseharian,kalau demikian halnya kenapa harus ambil bahagian dalam pencalonan yang akan datang?!

Sekilas dibalik angan-angan kelompok teater di Tanjungbalai

Kami dari kelompok teater di Tanjungbalai tidak minta diistimewakan, tapi bantulah, bentuk apapun itu, agar generasi muda yang kami bina semakin bersemangat untuk berteater, kita merasa senang sekali melihat generasi muda sekarang ini masih mau berteater, mereka punya kesempatan untuk menjadi penerus teater, generasi muda yang muda usia, kuat bertenaga serta cerdas dalam pemikiran jangan sampai kita robohkan semangatnya Selaku pekerja teater sangat tau sekali kalau kontribusi untuk teater sama sekali tidak ada, itu kami tau sekali, tapi apalah artinya kalau teater Tanjungbalai hanya mengeram di pos latihan dan Cuma berlatih terus tidak tau daun sirih kemana ujungnya.

Hasrat hati para pekerja teater hendaklah Dewan Kesenian Tanjungbalai tanggaplah dengan dunia Teater dan bantulah mereka agar pertunjukan teater menjadi Hiburan Rakyat yang benar benar menghibur.

Sebagai penutup ; kepada Dewan Kesenian Tanjungbalai marilah kita merobek angan angan kelompok teater yang ada di Tanjungbalaui mewujudkannya menjadi sebuah impian pasti yang selama ini hanya menjelma dalam angan angan. Disamping itu pembinaan teater generasi muda itu salah satu pola hidup menghindari Narkoba dan kemaksiatan. Belah bambu memakai kayu, kayu diikat akar cemara, Kalaulah Dewan Kesnian sama sekali tidak mau tau,jangan mengharap menjadi ketua selanjutnya.

27 Februari 2011
Dijumput dari: http://arifin-yus.blogspot.com/2011/02/menyibak-dewan-kesenian-yang-tak.html