Padang Cinta dan Canda Andrea

Nazar Shah Alam
http://blog.harian-aceh.com/

Membaca novel Padang Bulan sama halnya meneguk cinta dan canda Andrea Hirata. Seperti juga dalam tetralogi Laskar Pelangi, Andrea Hirata masih bermain dengan tokoh Ikal—aku—dan beberapa tokoh dalam tetralogi dulu. Kecuali itu ada penambahan beberapa tokoh di sini, sebut saja seperti Syalimah, Enong, Zamzami, Detektif M. Nur, Bu indri, Zinar, dan lain-lain. Kemunculan tokoh-tokoh baru di sini menambah kekuatan Andrea Hirata dalam mengeksplorasi tema dan konflik di dalamnya. Warna baru dalam aroma lama, begitulah kiranya.

Dibuka dengan kisah kecintaan Zamzami, ayah Enong, kepada istrinya, Syalimah, dan kematian yang tak terduga yang menimpa Zamzami, juga masalah beruntun yang merundung keluarga tersebut adalah aroma pembukaan yang baru dari keempat novel sebelumnya. Dalam beberapa bab dipenuhi dengan kisah pilu kehidupan Enong. Dan keunikan novel ini adalah bagaimana seorang Andrea Hirata bercerita dengan gaya zigzag—maksudnya: satu bab bercerita tentang Enong, bab satunya lagi tentang tokoh Ikal—begitu seterusnya hingga kedua tokoh ini dipertemukan dalam satu bab di tengah cerita.

Enong adalah perempuan yang tegar dan seorang penambang timah perempuan pertama di Belitong. Enong mesti meninggalkan sekolah dan harapan masa depan sebab ayahnya, Zamzami, meninggal pada saat ia empat bulan lagi hendak ujian akhir di kelas enam SD. Mengikuti adat orang Melayu bahwa anak sulung mesti menjadi tulang punggung keluarga jika ayah mereka sudah tiada, ia nekat berhenti sekolah. Namun Enong adalah pecinta bahasa Inggris dan ia menjaga cintanya sampai kemudian ia masuk ke salah satu kursus bahasa Inggris di Tanjong Pandang saat usianya sudah tak lagi muda.

Dalam pada itu Ikal masih saja terus menganggur dan menjadi bujang lapuk. Ikal berteman akrab dengan detektif M. Nur, seorang pemuda yang juga bujang lapuk dan sama nasibnya dengannya. Ikal masih mencintai A Ling, cinta lamanya. Namun A Ling, menurut kabar yang diterima Ikal dari detektif swasta, M Nur, akan dinikahkan dengan Zinar, seorang pengusaha tembakau dan gula yang rupawan dan seorang olahragawan. Ikal patah hati dan berniat hendak merantau ke Jakarta.

Akibat cemburu pada Zinar, Ikal berusaha sekuat tenaga mengalahkan lelaki tampan itu pada setiap keadaan. Ikal memesan alat peninggi badan dari Jakarta dan ketika digunakan rupanya hamper saja membunuhnya. Ia kemudian mencari cara agar bisa mengalahkan Zinar di lomba catur 17 Agustus. Namun Ikal kalah telak dari Zinar. Ia mengatur strategi agar dapat melawan Zinar pada lomba tenis meja, ia dipaksa kalah dengan cara memalukan, yaitu berkali-kali mesti sembunyi di bawah meja untuk menghindari smes tajam Zinar. Kalah di dua lomba itu Ikal mengatur cara agar dapat masuk menjadi anggota tim sepakbola, sayangnya ia hanya menjadi cadangan mati di sana.

Ketika Ikal dan Detektif M. Nur hendak berangkat ke Jakarta, keduanya merasa terbeban pikiran. Ikal terus menerus merasa kalah dalam percintaan dan berniat untuk bertemu A Ling sekali lagi saja, sedangkan M Nur menangis tersedu sedan akibat sangat berat hati karena harus meninggalkan merpati pos kesayangannya, Jose Rizal. Maka mereka kembali menuju Belitong di paginya.

Enong kemudian masuk kursus bahasa Inggris dan di sana ia diminta membuat puisi. Enong meminta Ikal membuatkan puisi untuknya, lalu ia menerjemahkannya ke bahasa Inggris. Ini adalah awal pertemuan Ikal dengan Bu Indri, seorang pengajar di tempat kursus bahasa Inggris dan menyukai puisi. Bu Indri menyukai puisi-puisi Ikal sekaligus menyukainya. Ikal belum bisa berpaling dari A Ling.

Kekonyolan-kekonyolan bermunculan dalam hampir tiap bab. Bagaimana anak Melayu udik menfsirkan ulang tahun dengan cara sok tahunya masing-masing: yaitu ulang tahun adalah sebuah acara khitanan untuk orang yang bukan islam, peringatan untuk arwah pencipta lagu, penghargaan kepada pencipta kue bertingkat dan lilin berangka, dan atau penghargaan kepada anak yang ayahnya sudah tinggi pangkatnya, semakin tinggi pangkat ayahnya semakin sering pula anaknya berulangtahun.

Dalam Padang Bulan ini rupanya Ikal belum berbaikan dengan Ayahnya sebab masalah tidak setuju ayahnya pada rencana ia menikahi A Ling (dalam: Maryamah Karpov). Ikal minggat dari rumahnya sehingga beberapa bulan, ia tinggal di rumah Mapangi. Lalu pulang kembali ke rumah karena ayahnya sakit. Harapannya akan disambut dengan tangis menderu dari sang ibu sama sekali tak didapatnya, bahkan ibunya serta merta memancing-mancing pekerjaannya.

Bab-bab yang pendek dan mudah dipahami sebab ditulis dengan bahasa yang tidak terlalu “berat” membuat novel ini begitu mudah diresapi. Pembaca seakan dibawa bermain ke dalam Padang Bulan dan dengan jelas menangkap isi kampung Melayu udik sebab pendeskripsian yang kuat tentang tiap lekuk kampung dan segenap keadaan di dalamnya, deskripsi yang detil pada tiap bentuk tokohnya, dan tentu saja kelebihan dan kekurangan tokoh yang sama sekali tak ditutup-tutupi. Kekuatan budaya yang dimunculkan di dalam Padang Bulan tak jauh berbeda dengan yang ada di dalam tetralogi Laskar Pelangi, begitu jelas dan terang. Kekuatan ini seakan telah menjadi ciri khas Andrea Hirata sebagai seorang cultural novelist. Ia dengan apik menyajikan sifat unik manusia dalam satu komunitas, parodi yang cerdas dan terjadi tak disangka-sangka, nilai religi, budaya, kekuatan cinta, dan kehidupan keluarga. Novel ini seakan kembali menjadi pintu pengenalan budaya dan wawasan baru bagi para pembaca.

Padang Bulan dicukupkan sampai pada perkawinan Zinar yang rupanya saudara A Ling dengan perempuan lain dan pertemuan kembali Ikal dengan A Ling yang membawa getar cinta hingga di ubun-ubun dan menyusupi ke semua kaki bulu di sekujur tubuh. Membaca Padang Bulan tentu saja belum lengkap apabila tidak membaca novel selanjutnya dalam dwilogi tersebut, Cinta di Dalam Gelas. Dari itu, mari membaca![]

Judul : Padang Bulan
Penulis : Andrea Hirata
Penerbit : Penerbit Bentang
Tahun : Juni 2010
Halaman : 254

_________29 March 2011