Sajak-Sajak Irwan Syahputra

http://www.acehkita.com/
Yang Pamit di Bulan November
“Kepadamu Perempuanku yang mengakhiri jalan cerita”

Sepertinya ada yang kosong
Pamit, lalu diam-diam bungkam

Ketika rindu terbaik tidak layak lagi terukir
Segala maharaja rasa pun seketika pupus, lalu punah

Ketika kita punya catatan indah
Lebur dalam igau, ke-absahan-nya pun usai
Seketika kau tersadar bahwa aku masih menempel erat pada rindumu
Persis di hulu hatimu

Ketika kata-kata tiada punya prosa
Segalanya mengalir begitu polos hingga ke dasar
Tiada lagi yang indah
Bahkan puji-pujian tak pernah memuaskan hati

Ada yang lenyap di bulan ini
Menjadi arsip bahwa kita pernah sama-sama mencatat rindu

Ketika sama-sama punya cerita
Dari sudut hati yang tak pernah berkesudahan
Narasi akhir pun mengakhiri
Maaf dan salam terbaik.

(19 November 2011)

Warta Si-Unyil

Aku mendongak pada tiang eksekusi
Kosong, dan tiada yang dihukum

Aku menoleh pada moncong bedil
Sepi, tidak ada yang membanjiri mata

Lalu aku berlalu pada sebuah rumah kosong
Bolong, senyap tanpa kehidupan
Sisi-sisi penuh ukir dan warna

Aku menatap jendela
Kubuang muka, lalu berlalu

Aku duduk lesu dengan sehelai nafas pucat
Aku kabarkan bahwa negeri sedang mati
Aku beri tau bahwa ada bisik murka di tanah ini
Aku bisikkan bahwa ada bangkai-bangkai yang terpanggang

Aku tancapkan panflet
Tanah ini aku lelang
Harga sejadi-jadinya
Sebagaimana ini dijadikan

Lalu aku berlalu
Mencari tanah baru yang tak kaku
Tiada teriak histeris yang tajam
Namun aku masih mendengar suara mati di sini
Orasi-orasi penyiksaan tertuang
Pembantaian dan kubur masal

(Kutaraja, 23 November 2011)

Suatu Pagi

Pagi di ujung dahan
Pagi di pucuk-pucuk
Pagi di kelapa tua
Pagi di ranting mati
Pagi di pagar berkarat
Pagi di pojok rumah

Adalah dia datang memecahkan lembab
Kering dalam sekejab
Menjambak para pemalas
Menjamah para kantoran

Adalah dia tersibak terbelalak
Membasahi peluh para pekerja

Adalah kau yang menghancurkan riasnya
Dandan terbaik berminyak-minyak
Seketika pudar berbau amis

Adalah kau yang membuatnya dahaga
Tenggorokan pahit lalu terkupas-kupas

Pun demikian
Kau tetaplah suatu pagi

(Kutaraja, 24 November 2011)

…Simpang 5 Daud Beureueh…

Di kolong langit kota Tua,
Semangkuk tuak tersaji kental,
Pujian-pujian di atas trotoar bagai lengkingan pada altar persembahan,
Akhlak dan Islam pun untuk sesaat mereka eksekusi dulu,
Glamorisme mereka leburkan pada Paganisme,
Dari Dia tiada lagi yang lebih tinggi,
Pacuan riang-gempita terus menyambangi malam akhir pekannya,

Secuil harapan terus-menerus memperdagangkan diri,
Komersialisasi Mahkota menjadi obralan murah,
Saat dan pada itu jua bertransaksi harga,

Di kolong langit Kutaraja,
Segala persoalan Tuhan mereka tunda,
Ragam murka sengaja dilupa,
Apalagi orang tua,

Di bahu jalan Kutaraja,
Mereka pun menemukan surga..

[Haba Kupi-Banda Aceh, 14 November 2011]

Sajak Jam 12 Malam

Duduk santai…
Kopi di kanan, rokok di kiri.

Bercakap-cakap dengan tenang dan damai
Terkadang tertawa terbahak-bahak sampai terjulur lidah, muka merah.
Haha…suasana seperti ini yang kami mau.

Dua, empat, enam, delapan, sepuluh…
Ya..malam itu kami sepuluh orang,
Membawa bola kata,
Dari cara ciuman hingga penari salsa yang ada di Spanyol.

Kelakar yang terlontar tak pernah kami open lagi,
Sepertinya besok kami tidak akan lapar lagi.

Dua, empat, enam, delapan, sepuluh…
Ya..malam itu kami menghabiskan sepuluh cangkir kopi
Dihirup dalam-dalam hingga tak ada yang tersisa,
Seakan jarum jam masih senantiasa menunggu kami seperti sediakala.

Ah..tak terlalu kami fikirkan,
Besok kami kembali tertawa dengan pagi yang merah bibirnya,
Jadi untuk apa kami bergundah-gulana.

Sungguh…
Sungguh indah sekali damai kami malam ini,
Tidak ada suara motor bolong asap
Tidak ada juga pabrik yang membakar diri malam ini,
Hanya saja suara jangkrik seperti orkes keroncong yang sedang latihan,
Itu memang kebiasaan kami dan jangkrik.

Dua, tiga, empat,
Ya…kami ingat.
Malam itu kami menghisap rokok Dji Sam Soe
Dengan asap tebal kami buat kabut malam itu
Biar mereka tau kami lagi bekerja,
Bekerja menggantikan pabrik-pabrik yang tertidur pulas
Diatas meja bundar yang empuk, tapi mematikan.

Mabuk dengan kopi dan rokok,
Sampai air liur meleleh, karena cakap kami yang akur dan akrab itu.
Tapi sesekali tidak lupa kami selipkan sedikit saos dosa
Biar cerita kami terus mengalir bagai kemasan saos itu,
Yang berharga dan dihargai.

Malam ini kami masuk dalam cinta dosa,
Karena kami malam ini terlalu banyak mabuk,
Mabuk dengan anggur dan ganja yang berkelas,
Lebih berkelas dibandingkan orang-orang yang punya kelas
Kelas majlis,
Kelas kantoran,
Bahkan kelas pejabatpun kami kalahkan,
Karena malam ini kami mabuk dengan uang sendiri.

Telah terbiasa kami begini.
Kalaupun kami tertidur pulas,
Tetap saja kami bangunnya cepat dan tepat waktu.
Bukan macam itik kekenyangan,
Perut busung kedepan, punggungnya melambai-lambai itik betina lainnya,
Tidak heran jika yang ditinggalkan minta pamit ke rumah orang tuanya,.
Karena masalah berhari-hari memang dicari.

Sungguh…
Sungguh luar biasa sekali malam ini.
Hampir saja jatuh, karena kursi yang kami duduki telah berumur.
Tapi tidak apalah, selagi kami tidak membayarnya.

Masih belum puas
Kokoh, mengkilat ada busanya yang tebal.

Barangkali ingin dijadikan peti mati!
Sungguh indah, tatkala mati dengan kursi yang digaji.

(16 Desember 2009)

Prosa Nurani

Langit hitam berkelabu
Menyelimuti hati yang malu
Keindahan menyapa keabadiaan
Akankah berlanjut sampai musim semi ditahun depan

Dimana burung-burung bertukar canda dari ranting yang rapuh
Daun-daun yang hijau menyapa kuntum memerah
Gemercik air menjamah dahaga para pujangga
yang bersyair tak berpenghujung

Tercatat akan ketulusan
menegur jiwa-jiwa hampa tak berdaya
Dimana akan tercipta wangi-wangian bunga
dulu tertunda untuk menyibak kelopak

Setelah para penakluk menang oleh kehendak
Setelah layu meregang nyawa

Dia tidak meminta cakrawala
Tidak pula tiara bersusun tiga
Seraya nyanyian memberi keadilan yang nyata
Bagai peri dari perahu cadik
Dengan pasangan cinta yang tumbuh serasi

(14 Januari 2010)

Istimewa

Ingatkah kau wahai wanitaku?
Dulu yang telah lama sekali
Dimana kau dan aku terlalu kecil dan masih polos dalam cinta!

Di bawah pohon randu itu kau dan aku bermain tanpa ada cela
Akrab dan hangat
Terkadang jari-jemari kita berpagutan
Lalu mata kita pun saling bertabrakan
Dalam tatapan yang tidak kita mengerti

Dukaku, dukamu, dukakita
Itulah kekuatan kita di masa ilalang muda saling bermunculan

Kini kau dan aku tumbuh dalam keremajaan jiwa,
Tentunya wajib bagi kita untuk tua, tapi dewasa adalah pilihan kita

Rasa itu mulai merekah indah
Di saat kita sama-sama mengerti tentang cinta
Tingkahku selalu kau curi, begitu juga sebaliknya denganku
Lalu senar-senar kuno mulai mendendangkan sajak keindahan diantara kita
Sajak tentang rasa, sajak tentang rindu, lalu sajak tentang cinta

Mana hati yang hendak kubawa
Selain beralamat padamu
Wahai perempuan IDAMANKU

Just for You ‘VeolintEstino’

(Kutaraja, 13 Juli 2011)

Cinta Belah Rotan

Bibirku mulai sungkan tuk berucap,
Kefasihan kian tak mampu kukumandangkan.
Kebenaran menjadi suram dan seakan-akan mengajakku diam.
Awal dari keinginan memang terkadang tertitipkan pada orang lain,
Selamat dan semoga.

Bibir yang dulu basah, kini menelan kekeringan
senyap tanpa kosa kata.

Betul!
keadaan telah mengalahkan kesepakatan
antara ruang dan waktu yang hampa tegur sapa
kalimat tanpa tuju bermain-main di sekelilingku
dan di kiri-kananmu
kini dan ke depan

Keadaan seperti apakah ini?
Mestikah mencuri hati pada hati yang dipinjamkan?
Haruskah luka kuganti dengan nanah yang menabur benih pada sutra air mata??? Entahlah..

(25 Desember 2011)

Jawaban Untuk Emak

Dalam sebuah kesederhanaan fikiran
Malam ini dia terus melilit setiap persendian
dan mata batinku

Mengenangnya
Aku meleleh
Lalu membeku persis di sudut mata
dan pipiku yang merah-merekah

Setiap kehendak tidak lagi dapat terukur
terbayar, apalagi kutebus untuk tahun ini
Berbagai ukuran punah
Berbagai timbangan kosong
Sia-sia, lantas mendekam menjadi keniscayaan semata
Karena aku adalah titahmu
Titah batin, jua titah moral

Sebagaimana mestinya aku adalah prima buatmu
Tapi tidak saat ini dan tahun ini

Engkau susah, resah melimpah
Uban berserak, kulit terkoyak
Mata berkerak, nafas tersendat

Pun begitu
Aku belum juga bisa kaubanggakan sepenuhnya
Kosong dan mengunci beribu kata

Adalah “Emak”
Aku tau itu

Sabarlah mak
Semuanya telah kusiapkan untuk jawaban
Entah kapan, ada bukanlah sia-sia
Anakmu pasti wisuda

Semoga!
(Sudut penginapan, Darussalam, 02.30 WIB 4 Desember 2011)

Para Penziarah Janji
Di Kota Tua, Kuta Raja!

Elegi pucat mati di atas gundukan tanah busuk,
Kawanan muslihat memberondong bumi Aceh

Di Kota Tua, Kuta Raja!
Bahu-membahu menodai sesama,
Dramatis kepentingan saling menindih,
Tiada yang mulia, apalagi mengaku Malaikat,

Di Kota Tua, Kuta Raja!
Kawan makan kawan,
Kawan makan lawan,
Lawan makan lawan,
Kawan tak dapat melawan,

Di Kota Tua, Kuta Raja!
Kepentingan diwakili ribuan slogan-slogan pembius,
Nyata keharmonisan berbanding terbalik dengan sekarang,

“Kita adalah sahabat terbaik, Itu dulu bung”
“Kita adalah lawan yang mematikan”
“Kita mulai mencari masing-masing jalan ”

Di Kota Tua, Kuta Raja!
Sang penyamun membaur hingga melebur,
Bermuka manis, berdandan erotis
Hingga retorika berjalan mulus,

Di Kota Tua, Kuta Raja!
Sebuah tontonan yang heroik,
Menantang saling menerjang,
Temu lawan saling menentang,

Sebuah hiburan yang memukau,
Memaki, membeli, lalu memperoleh kursi,

Sebuah kompetisi yang memakan waktu,
Berbulan-bulan,
Bernanah, lalu berbau busuk,
Kronis menunggu ajal,
Nyaris tanah ini tak bertuan,

Berbondong-bondong membesuk
Hingga berakhir digundukan tanah busuk
Terukir slogan kematian,
“Akulah Budak Negeri Ini”.

(Kutaraja, 17 November 2011)

IRWAN SYAHPUTRA, Pekerja Teater, aktif di teater kampus Komunitas Teater Mahasiswa ‘RONGSOKAN’ pada IAIN Ar-Raniry Banda Aceh. Ia lahir di Aceh Selatan, 27 Agustus 1988.