Sastra dan Seksualitas, Keindahan yang Tercemar

Valery Kopong *
http://www.kompasiana.com/548338

MEMBACA beberapa karya sastra berupa novel, para sastrawan terkadang secara vulgar menampilkan suatu situasi riil yang sering dialami oleh manusia. Tulisan yang mengangkat masalah biasa yakni seksualitas yang sering menimbulkan suasana luar biasa ini tidak lain merupakan bentuk revolusi dari sastrawan yang menggunakan pintu kesusastraan sebagai jalur penyadaran bagi masyarakat tentang penghargaan terhadap perempuan dan terutama menghargai seksualitas sebagai yang terberi dari Sang Pencipta. Menelusuri penulisan ini muncul suatu pertanyaan nakal untuk direnungkan. Mengapa para sastrawan harus memilih jalur kesusastraan sebagai media penggugah nurani penghuni kolong langit ini? Masih kurangkah tulisan-tulisan yang termuat dalam pelbagai pers yang umumnya menyertakan data dan dilengkapi foto-foto yang akurat yang berbicara tentang seksualitas?

Ahmad Tohari dalam Ronggeng Dukuh Paruk misalnya, telah menggambarkan suatu kondisi dilematis yang menjadi pilihan pahit seorang perempuan yang diwakili oleh Srintil, tokoh utama dalam penceritaan itu. Srintil sebagai penghadir figur lama, yakni peronggeng ulung yang telah meninggal harus menuruti aturan sebelum dikukuhkan sebagai peronggeng baru. Beberapa aturan dalam ritus pengukuhan telah dijalani dengan baik dan terakhir tuntutan yang dipenuhi adalah sayembara pembukaan keperawanan. Sebuah acara bernuansa vulgar begitu memikat pemirsa, terutama laki-laki yang haus akan seks untuk mengikutsertakan diri dalam sayembara bergengsi itu.

Dalam konteks kesastraan, seorang novelis terasah kesadaran untuk membentangkan seluruh refleksi yang bernada sastrawi untuk berpihak pada kenyataan yang ada. Perempuan dalam sosok seorang Srintil, menampilkan sikap penuh lugu dan menuruti acara ritual yang diselenggarakan. Dapat dipahami yaitu bahwa tokoh Srintil yang ditampilkan adalah seorang gadis bocah yang apabila dilihat dari kebutuhan biologis, ia belum meminati untuk dipenuhi kebutuhan itu. Tetapi mengapa, dengan latar kesusastraan yang suram dan seram ini, Srintil dicebloskan ke dalam “malam sayembara keperawanan” yang menuruti orang yang dikorbankan tidak tahu sama sekali tentang seksualitas.

Seksualitas dalam catatan seorang sastrawan tidak dilihat sebagai aib publik, melainkan menunjukkan sebuah keterbukaan masyarakat untuk secara jernih melihat aib ini sebagai sebuah kebutuhan ritual yang diterima sebagai tuntutan yang mesti dijalani. Di sini, Ahmad Tohari dengan kekuatan daya susastra seakan menggiring kesadaran para peminat sastra untuk memahami secara detail tentang makna acara ritual pengukuhan seorang peronggeng baru yang dilihat sebagai suatu keharusan yang mendakwa.

Perempuan dalam kaca mata Ahmad Tohari adalah sosok yang gampang tergiring untuk menerima situasi yang menimpah dirinya. Perempuan yang sama merupakan pribadi yang dapat membangun suatu ikatan yang kokoh antara roh Ki Sekamenggala sebagai peronggeng ulung yang telah meninggal sekian tahun yang lalu dengan peronggeng baru. Malam sayembara dapat saya pahami sebagai penghadir kembali roh peronggeng masa lalu yang mungkin terjelma dalam diri pemuda yang memenuhi kriteria untuk membukakan keperawanan seorang Srintil.

Pemecahan keperawanan seorang Srintil sebagai bentuk peleburan dan tanda kehadiran abadi. Perempuan rela membuka rahim untuk ditumbuhi benih baru, suatu regenerasi yang dilakukan untuk memperpanjang kisah peronggengan. Rahim seorang Srintil tidak lain adalah “rahim khatulistiwa”, rahim semesta yang senantiasa memproduk manusia baru untuk tampil menafasi sebuah kisah yang menjadi milik berharga sebuah komunitas. Ronggeng adalah tarian yang dilakonkan oleh orang tertentu dan karena eksklusivitas ini memberi identitas pada komunitas Dukuh Paruk.

Penghuni kolong langit Dukuh Paruk merasa bahwa ada pengembalian reputasi dengan hadirnya Srintil yang memperpanjang kisah ketenaran kampung mereka. Mereka merelakan seorang bocah untuk dinodai demi kebersamaan. Apakah peminat masyarakat lain juga merelakan seorang perempuan untuk dinodai atas nama publik? Tapi mungkin, dalam kerelasediaan itu, secara manusiawi Srintil pun pasti membangun perlawanan terhadap tuntutan situasi itu. Terhadap pemberontakan, secara diam-diam, aku teringat akan perempuan-perempuan dalam novel “Saman” milik Ayu Utami, yang mengadakan pemberontakan dan protes dengan menggaruk kemaluan dengan garpu. Seksualitas pada satu sisi merupakan suatu keindahan tetapi dalam wajah Ronggeng Dukuh Paruk, seksualitas itu tidak lebih sebagai sebuah keindahan yang tercemar.***

___________08 November 2011
*) Penulis, Penyuluh Agama Katolik pada Kantor Kementerian Agama Kabupaten Tangerang-Banten.
Dijumput dari: http://edukasi.kompasiana.com/2011/11/08/sastra-dan-seksualitas-keindahan-yang-tercemar/