Suara-suara yang Ditiupkan ke dalam Dada (2)

Jusuf An
http://www.kompasiana.com/jusuf_an

Dan aku tak habis pikir, ketika ada beberapa perempuan yang dengan terang-terangan mengaku mencintaimu, kau menanggapi mereka dengan tertawa. Kau menolak perempuan-perempuan itu dengan cara yang halus dan terkesan berlebih-lebihan. “Hak setiap manusia untuk mencintai manusia lainnya, tetapi menurutku pacaran hanya akan menyulut api permusuhan dan membuang-buang waktu.” Sungguh, saat mendengar ucapanmu itu aku sering merasa bersalah karena dulu telah membuatmu lebih dekat dengan Zulaikha. Betapa sampai sekarang kau masih menyimpan Zulaikha di lubuk hatimu. Itulah yang membuatmu menolak perempuan-perempuan yang sebenarnya lebih cantik dan rela dipegang bukan hanya jidad dan tangannya itu.

Aku merasakan kesedihan luar biasa atas penolakanmu terhadap tubuh-tubuh seksi perempuan-perempuan yang datang menawarkan cinta kepadamu. Lagi, yang juga tidak pernah aku pahami, kau selalu menolak ajakan kawan-kawan aktifis yang biasa berdemonstrasi bersamamu untuk meminum anggur. “Lebih baik aku minum air kencing Hitler ketimbang harus meminum minuman keras.” Kata-kata itu hanya kau batin. Tetapi lambat laun, kau mulai berani terang-terangan membenci mereka, kawan-kawan aktifis yang banyak bicara tentang kemiskinan, penindasan, dan kebobrokan moral itu. Kau memperingatkan mereka untuk meninggalkan minuman keras. Tetapi kau sadar bahwa kata-katamu hanya menjadi busa yang tak berarti apa-apa bagi mereka. Ketika suatu malam kau melihat beberapa perempuan berkerudung bergabung minum anggur bersama mereka kau mendiamkan saja. Baru setelah kau memergoki sepasang laki-perempuan yang kau anggap seniormu tengah bercinta di sebuah kamar kebencianmu tak lagi dapat tertahan. Sejak itu kau tak pernah berdiskusi dan berdemonstrasi bersama mereka. Kau banyak menghabiskan waktumu di sanggar teater, dan bertekad lebih serius mendalami seni pertunjukkan dan sastra. Kau merasa menemukan keluarga baru di sanggar teater itu; pinjam-meminjamkan uang, celana bahkan sikat gigi, makan sebungkus nasi untuk bersama, sebatang rokok bergantian; sebuah ikatan kekeluargaan yang membuatmu sulit berpisah dari mereka meskipun beberapa dari mereka ada yang kau anggap gila. Mereka yang laki-laki kebanyakan mengenakan dua anting di telinga, memanjangkan rambut dan mengecatnya, menyukai pakaian warna hitam, jarang mandi, kerap begadang sampai pagi, dan sering berteriak-teriak sendiri membaca puisi. Yang perempuan, memang berkerudung, tetapi mereka sering tidur bersama kawan laki-laki. Kau kadang heran dengan tingkah mereka, tetapi entah kenapa-meskipun kebanyakan dari mereka sering kau lihat minum anggur dan meninggalkan shalat seperti kebanyakan kawanmu yang mengaku pejuang sosial itu-kau bisa memaklumi mereka. Kau berlatih teater bersama mereka seminggu dua kali, tahlilan puisi setiap malam Jumat, diskusi soal-soal kesenian, dan menghadiri undangan untuk pentas di dalam kota.

Ketika kamar kosmu sudah habis masa sewanya dan separuh uang yang kau terima dari ibumu telah kau gunakan untuk beli buku dan mentraktir kawan-kawanmu di kedai kopi, kau ingin sekali tinggal di sanggar teater; hidup bersama beberapa anggota sanggar yang memang tak punya tempat tidur tetap. Tetapi kau teringat pada ayahmu yang dipastikan akan menanyaimu tentang kitab-kitab yang kau pelajari saban kau pulang ke Tuban. Kau teringat ibumu yang selalu memperingatkanmu untuk serius belajar ilmu agama. Kau teringat masa depan pondok pesantren ayahmu yang kelak akan diwariskan kepadamu.

“Kalau kau setuju kita bisa tinggal satu kamar berdua,” ujar Madun, salah seorang kawanmu yang juga menjadi santri kalong.

Aku merasakan sebuah ancaman baru ketika Madun menawarimu tinggal satu kamar denganmu. Dari percakapan demi percakapan yang berlangsung antara kau dengan Madun, aku tahu, Madun merupakan lelaki yang berasal dari kampung terpencil di daerah Madura. Ia datang ke Jogja dengan bekal ijazah madrasah ‘aliah dan restu dua orang tuanya. Ia memiliki keinginan besar melanjutkan ke jenjang kuliah. Ia makan dan membayar biaya kuliahnya dari berjualan buku. Ia tak menyukai puisi, tak menyukai membaca buku-buku filsafat, tak pernah meninggalkan shalat, berpuasa senin-kamis, dan tak merokok.

Ia tak pantas jadi kawanmu, Rijal!

“Bagaimana?” tanya Madun meminta jawabanmu.

Kau tak langsung memutuskan. Seminggu kemudian Madun kembali menawarkan hal yang sama, dan kau masih belum bisa memutuskan. Sampai tuan pemilik kamar yang kau sewa memanggilmu dan menyuruhmu mengeluarkan semua barang yang ada di kamarmu, baru kemudian kau mendatangi Madun dan menyetujui tawarannya.

Betapa aku sering terusik manakala tengah masuk ke dalam mimpimu dan tiba-tiba mendengar Madun membaca Qur’an. Juga, kau-yang kemudian sering begadang di sanggar dan pulang ke kamar larut malam-selalu dibangunkan Madun untuk shalat subuh di masjid dilanjutkan dengan mengaji.

Suatu hari, setelah sekitar tiga bulan lamanya kau tinggal satu kamar bersama Madun, kau menyadari kalau uang kiriman ibumu selalu ludes karena harga-harga terus melambung dan kebutuhanmu kian bertambah. Kau kemudian berpikir untuk mencari uang sendiri. Kau merasa sungkan untuk mengatakan pada ibumu agar uang sakumu ditambah. Maka, ketika suatu pagi kau duduk di atas kloset membuang kotoran begitu saja terbersit di otakmu untuk berjualan buku. Segera, setelah kau rasakan semua kotoran di usus besarmu keluar, kau buang rokokmu yang tinggal beberapa inci panjangnya lalu bergegas menuju tempat di mana Madun menggelar buku-buku dagangannya.

Dengan senang hati Madun bersedia membantumu. Pada keesokan harinya Madun membawamu ke beberapa penerbit dan mengenalkan padamu seorang tengkulak buku bekas. Tiga hari kemudian kau mulai menggelar buku-buku di halaman kampus, atau kadang di depan ruang-ruang yang digunakan seminar dan bedah buku. Kau menyukai kegiatan barumu itu; selain mendapat pengalaman baru dan sedikit uang tambahan kau juga bisa membaca buku-buku baru atau bekas tanpa harus membelinya. Sampai tiga bulan kemudian ada peraturan baru di kampus di mana kau berjualan buku; satpam kampus mengusir dan melarangmu berjualan buku di halaman kampus. Kau mencoba melawan satpam-satpam itu, tetapi kau sadar bahwa mereka hanya menjalankan tugas atasannya. Berat hari kau mematuhi mereka, lalu mencari tempat lain yang strategis. Tetapi tak kau temukan tempat itu, hingga akhirnya kau memutuskan berhenti berjualan buku ketika ada salah seorang kawan menawarimu untuk bekerja menjaga rental komputer.

Jika dibandingkan, penghasilan yang kau dapat saban bulan sebagai karyawan rental komputer masih lebih banyak ketimbang hasil berjualan buku, apalagi ketika ada pelanggan datang dan menyuruhmu mengetik segeluntung skripsi. Tetapi kau merasakan lelah yang luar biasa dan merasa telah banyak kehilangan waktu untuk membaca.

Belum genap dua bulan kau bekerja di sana, kau memutuskan berhenti.

Suatu hari, pada minggu terakhir bulan Mei, ketika uang kiriman orang tuamu sudah tak tersisa, dan kau tengah membakar sebatang rokok yang kau beli dari uang pinjaman seorang laki-laki datang mengetuk pintu kamarmu. Lelaki itu bernama Gazali. Lelaki kurus, berambut cepak, berjambang lebat, dan memiliki jidad kehitaman seakan bekas terkena luka bakar itu tinggal di kamar bersebelahan dengan kamarmu. Umurnya lebih tua satu tahun darimu. Ia rajin shalat lima waktu, berpuasa Ramadhan, dan memberikan sedekah kepada pengemis yang berderet di depan masjid saat hari Jumat. Kau sering melihat Gazali bersama beberapa lelaki yang juga memiliki ciri-ciri seperti dirinya: berjambang dan jidad kehitam-hitaman.

Gazali sering berkunjung ke kamarmu saat malam, dan bicara panjang lebar tentang isu politik dan agama. Berbeda dengan Madun yang antusias mendengarkan Gazali bicara kau jarang menanggapi apa yang Gazali. Dari kalimat-kalimat yang Gazali ucapkan kau dapat menebak bahwa Gazali merupakan salah seorang fanatik Osama bin Laden, satu-satunya tokoh yang mengaku beragama Islam yang namanya telah dijadikan merek parfum oleh pendukungnya. Anggapanmu itu dapat kau pastikan kebenarannya ketika suatu pagi Gazali datang ke kamarmu membawa sebuah surat kabar yang masih hangat.

“Lihat!” Dengan wajah merah padam Gazali menyodorkan majalah itu padamu dan menyuruhmu membaca berita yang ia tunjukkan. Saat itu, tak nampak Madun ada dalam kamar. Seadainya Madun ada pastilah Gazali akan menyodorkan berita surat kabar itu padanya, bukan padamu. Membaca judul berita itu, kau tahu di dalamnya mengulas berita tentang perang yang berkecamuk di Afganistan. “Bacalah, kau pasti akan merasa terbakar seperti aku?”

Kau mulai membaca. Berita itu mengatakan pasukan Amerika mulai menjatuhkan bob-bob di wilayah Afganistan sebagai buntut dari ambisi Amerika untuk menumpas teroris terutama gerilyawan Taliban yang bersembunyi di gua-gua. Pengeboban itu terjadi beberapa minggu setelah peristiwa runtuhnya WTC. Belum tuntas kau membaca, Gazali lantang berkata: “Perlu bukti apa lagi untuk membenarkan apa yang dikatakan Osama bahwa perang ini merupakan perang antara Islam dan Barat, bukan hanya Afganistan dan Amerika Serikat.”

“Lalu, apalagi yang kau tunggu? Segeralah kemasi barangmu, bawalah pisau dapur atau garpu dan berangkatlah ke Afganistan untuk berjihad.” Kau tetap tenang sembari memperhatikan wajah Gazali yang nampak berapi-api.

bersambung…