Mendialogkan Al-Quran dengan Realitas

Judul Buku : Al-Quran Kitab Zaman Kita
Penulis : Syaikh Muhammad Al-Ghazali
Judul Asli : Kayfa Nata’amal ma’al Qur’an
Penerbit : Mizan, Bandung
Cetakan : I, Maret 2008
Tebal : 362 halaman
Peresensi : Ahmad Fatoni*

BAGI kalangan muslim, keyakinan akan kebenaran isi Al-Quran begitu mendalam. Bahkan menyentuhnya pun harus dalam keadaan suci. Begitulah Al-Quran, yang tidak ada pengurangan atau penambahan sedikit pun, sejak diturunkan sampai akhir zaman. Semua itu merupakan penjagaan dan pemeliharaan Allah dari hal-hal yang menistakan Al-Quran, baik dari kalangan jin maupun manusia.

Sayangnya, sikap kaum muslim terhadap Al-Quran yang mereka muliakan itu sudah demikian parah. Terlebih belakangan ini, Al-Quran tak ubahnya seperti sungai kering atau padang pasir yang gersang. Memang benar kaum muslim sekarang menyimak bacaan Al-Quran, namun mereka tidak merespons apa pun. Akal mereka seolah-olah beku membisu.

Muhammad Al-Ghazali melalui buku ini mengecam kaum muslim yang banyak terpaku pada teks Al-Quran tanpa mementingkan aspek-aspek dialogisnya, sehingga mengakibatkan mereka masih terbelakang dibandingkan umat-umat yang lain.

Salah satu asumsi yang dikemukakan Al-Ghazali, meski datangnya Al-Quran tergolong baru, tetapi ia berhasil menancapkan pengaruhnya dan mengarahkan pemikiran dengan metode dialogis, bahkan melebihi metode pemikiran Persia dan Yunani. Dengan cara membumikan pesan-pesan Al-Quran itulah generasi awal Islam meraih zaman keemasannya.

Namun apa yang terlihat pada generasi muslim berikutnya, Al-Ghazali mencemasi ketidakseimbangan antara bacaan dan pemahaman, atau antara bacaan dan realitas. Lebih jauh Al-Ghazali belum menemukan adanya hubungan yang metodologis antara bacaan dan analisis kritis yang dilakukan umat Islam atas teks Al-Quran. Dengan kata lain, umat Islam sekarang membaca Al-Quran hanya semata-mata mengharap berkah, tanpa analisis kritis dan tiada menghayati makna teks di dalamnya (halaman 28).

Menurut tokoh Ikhwanul Muslimin ini, umat Islam senyatanya menjadikan Al-Quran sebagai pedoman hidup dan mengaktualisasikannya secara aktif dalam pergaulan sehari-hari. Dengan kedalaman ilmu dan kejernihan bahasanya, dalam buku ini Al-Ghazali ingin memandu kaum muslim bagaimana membaca dan mengatasi aneka bentuk problem dalam sinar Al-Quran.

Buku Al-Quran Kitab Zaman Kita mengajukan berbagai analisis tajam atas makna teks Al-Quran dalam konteks kekinian, mulai dari kesalahan penafsiran, sikap mental kaum muslim, dosa-dosa politik dalam sejarah Islam, hingga cara mendiversifikasikan Al-Quran. Al-Ghazali yakin, Al-Quran adalah satu-satunya sumber bagi setiap upaya pengembangan sistem islami.

Kata kunci dalam buku ini ialah ajaran tentang keseimbangan. Yaitu keseimbangan dalam menggunakan akal (‘aql) dan sumber teks (naql), serta dalam memandang dunia (dunya) dan agama (dien). Al-Ghazali sendiri bukan jenis orang yang mencari-cari pembenaran agama demi meluluskan sebuah kepentingan dunia. Ia juga tidak anti terhadap modernisme dan kemajuan. Ia ada di tengah-tengah: antara dunia dan agama, serta antara ‘aql dan naql.

Karena itu, Al-Ghazali mengecam golongan yang menyeru ke arah kejumudan, mengurung akal dalam tempurung tekstual belaka sehingga menjadi penghalang bagi kaum muslim untuk berinteraksi dengan Al-Quran secara betul. Islam sendiri membebaskan akal dan tidak pernah menyekatnya. Islam justru mengaktifkan fungsi akal agar dapat membaca teks-teks Al-Quran dan memikirkan rahasia-rahasia serta hukum-hukumnya.

Berbagai pemikiran kritis yang dicetuskan Al-Ghazali dalam buku ini menemukan relevansinya mengingat seringnya kalangan muslim memahami teks-teks Al-Quran lepas dari konteksnya. Sayangnya, terjemahan buku ini agak cacat oleh penggunaan judul “Al-Quran Kitab Zaman Kita” yang tidak pas dengan fungsi universalitas Al-Quran, juga kurang nyambung dengan judul buku aslinya.

*Ahmad Fatoni
Pengajar Bahasa Arab-FAI Universitas Muhammadiyah Malang

PuJa

http://sayap-sembrani.blogspot.com/