Saat Nabi Darurat Muncul

Nofanolo Zagoto
Sinar Harapan, 10 Maret 2012

RUWAT Sengkolo (Joko Kamto) keluar dari kurungan putih. Ia tampil nyentrik, mengenakan ikat kepala, kacamata, seabrek kalung di lehernya, serta membawa terompet. Tiap langkah membunyikan lonceng-lonceng kecil di kakinya.

Tetapi lantaran gurunya, Ki Janggan (Bambang Susiawan) datang, bertelutlah ia di lantai panggung. “Otakku buntu, yang begini ini bukan manusia…bukan negara…yang begini ini bukan agama, bukan guru,” begitu katanya dengan wajah tertunduk. Continue reading “Saat Nabi Darurat Muncul”

Sumpah Menulis!

: Aku telah, tetap, dan akan terus menjadi pengarang! (Pramoedya Ananta Toer)
Arif Saifudin Yudistira *
lampungpost.com

Sumpah adalah pernyataan dan hakikat pergumulan tekad, perwujudan hasrat hingga pada kebulatan niat untuk melakukan sesuatu. Sumpah adalah konsekuensi dan menuntut tanggung jawab para pengucap sumpah. Dalam kehidupan kita sumpah erat dan intim dengan persoalan religiositas manusia yang berhadapan dengan Tuhannya. Sumpah sebagai tanda perwujudan kepasrahan sekaligus tantangan manusia menjadi manusia tangguh. Dengan sumpah itu pula manusia menghilangkan dirinya dan meleburkan dirinya kepada tekad, usaha hingga keputusan Tuhan. Continue reading “Sumpah Menulis!”

Zulaikha dan Segelas Air yang Tertumpah dari Tangannya

M. Raudah Jambak
http://www.lampungpost.com/

PEREMPUAN itu termenung, menatap jauh menembus langit. Tangannya mengelus ubun-ubun Zulaikha, anaknya yang baru berusia dua tahun itu. Bocah perempuan itu memandang tak berkedip ke arah ibunya, seperti ikut merasakan keresahan hati ibunya. Zulaikha pun tak seperti biasanya, dia lebih suka mengelendoti ibunya, padahal hari begitu cerahnya. Continue reading “Zulaikha dan Segelas Air yang Tertumpah dari Tangannya”

Pramoedya dan Indonesia

Ekodhanto Purba *
sinarharapan.co.id

Jika ingin mengetahui atau mengkaji sejarah dan budaya Indonesia, tidaklah salah jika karya novel Pramoedya menjadi bahan dan landasan pengetahuan serta pengkajiannya.

Betapa tidak, kisah-kisah yang diangkat dalam novel Pramoedya tidak lain dan tidak bukan merupakan cerminan wajah Indonesia pada masa penjajahan—khususnya kerajaan, serta Orde Lama (Orla) dan Orde Baru (Orba). Continue reading “Pramoedya dan Indonesia”

Bahasa »