Sejatinya Puisi

(Sekadar Catatan dari Penikmat Puisi)
Muhammad Hanif *
http://www.riaupos.co/

Mengapa Puisi Ditulis?
Pertanyaan ini lahir dari perjalanan panjang penulis dalam menikmati sastra, terutama puisi. Bukan sekadar menikmati, seorang penikmat puisi lambat atau cepat, biasanya akan menjadi seorang penulis puisi pula seperti halnya penulis. Walaupun kegiatan menikmati dan menulis puisi itu tak harus mengantarkannya menjadi seorang penyair dalam pengertian yang umum dikenal. Seseorang dikenal sebagai penyair manakala puisi-puisi karyanya dipublikasikan dan masyarakat mengapresiasi dan menerimanya, saat itu jadilah dia seorang penyair. Banyak orang yang penulis kenal suka menikmati puisi dan menuliskannya tetapi tidak mempublikasikannya, sehingga mereka tidak dikenal sebagai seorang penyair.

Berangkat dari itu, dan selain itu, dimuatnya tiga puisi penulis (Riau Pos, 26-2-2012) yang berjudul ‘’Adik Tak Berbaju’’, ‘’Hujan Cinta di Pagi Hari’’ dan ‘’Anak Anak Rindu’’ melahirkan pertanyaan di atas: mengapa puisi ditulis? Jelasnya penulis tak menyangka sama sekali, bahwa puisi-puisi itu akan dimuat oleh koran sekaliber Riau Pos. Puisi-puisi tersebut -yang ditulis pada tahun 2005-an saat penulis di Jakarta- adalah sisa-sisa dari dokumen puisi penulis yang masih terpelihara.

Kegiatan belajar dan menulis puisi sesungguhnya telah penulis mulai sejak kira-kira 25 tahun yang lalu saat menimba ilmu agama di Pondok Pesantren Modern Al-Amin, Prenduan, Madura yang melahirkan seorang Jamal D Rahman, Ahmadi Thaha, Idris Thaha, Jamaludin Kafie dan sejumlah penulis lainnya. Buletin Qalam adalah media berlatih menulis bagi para santri Al-Amin Madura dan merupakan media awal dalam mempublikasikan karya-karya mereka. Sungguh, lebih karena putus asa, karena puisi-puisi yang penulis kirim ke sejumlah media di luar Al-Amin tak kunjung dimuat dan karena tuntutan hidup, penulis terpaksa meninggalkan kegiatan menulis puisi, dengan tetap sebagai penikmat dan pembaca sastra dan puisi.

Dengan kata lain, penulis kehilangan kepercayaan diri untuk suatu ambisi tersembunyi menjadi apa yang disebut dengan sastrawan, penyair, pujangga atau apapun namanya yang namanya tercacat di dalam kertas-kertas sejarah manusia Indonesia dan dunia. Ketika secara iseng penulis ‘membuang’ sisa-sisa ‘kata’ yang ada kepada yang terhormat para kritikus Riau Pos dan ternyata mereka tidak membuangnya dengan sia-sia, tiba-tiba lahirlah pertanyaan sebagaimana kata pengantar di atas untuk judul tulisan di atas. Dan, tulisan ini hanya sekadar catatan dari perjalanan panjang seorang peminat puisi dalam menikmati puisi.

Puisi = Hati + Akal
Penulis kira puisi tidak lebih dari ungkapan isi hati dan tuangan hasil perenungan akal seseorang. Dengan kata lain puisi adalah curahan hati, baik ditulis dengan keisengan maupun sebagai layaknya foto kenangan. Puisi juga ungkapan pemikiran filosofis penulisnya, hasil sebuah permenungan yang panjang dan mendalam. Untuk itu, untuk mengenal puisi sejati, harus diketahui apa fungsi dan kedudukan akal serta hati pada diri manusia.

Hati, dalam konsepsi Islam adalah bagian terpenting dari tubuh manusia. Sabda Nabi Saw: ‘’….Jika baik, maka baiklah semua anggota tubuhnya. Jika rusak, maka rusaklah semua anggota tubuhnya. Ketahuilah, dia itu adalah hati.’’ Dalam Hadis lain Nabi Saw berkata: ‘’Hati orang-orang beriman adalah rumah-rumah Allah di muka bumi.’’ Dalam Hadis lain, ‘’Takwa itu di sini,’’ kata Nabi seraya menunjuk dadanya yang merupakan tempatnya hati. Alhasil hati adalah sumber kebaikan. Hati yang bersih akan menjadi pilihan bagi Allah untuk bersemayam di dalamnya. Dan, fitrah hati, sebagaimana fitrah manusia, adalah kebaikan dan mengenal Zat Maha Besar nan Abadi lagi Tunggal yang telah menciptakannya.

Akal adalah alat untuk berpikir. Banyak sekali ayat di dalam Alquran yang meminta dan memerintahkan pembacanya, baik dengan cara sindiran maupun terang, agar mempergunakan akalnya. Akal dipergunakan untuk mengetahui kebenaran, kebaikan, nilai-nilai luhur dan terutama mengenal siapa Sang Pencipta. Manusia diminta untuk merenungi penciptaan semesta ini dan penciptaan dirinya agar dengan itu mengenal Sang Penciptanya, sumber kebenaran dan kebaikan. Seseorang yang telah mengenal kebenaran dan kebaikan, diharapkan akan menjadi orang yang baik dan benar lalu mengajarkan serta menyebarkannya. Dengan demikian terciptalah sebuah kehidupan bumi yang idealis dan manis.

Dengan demikian, hati dan akal punya fungsi dan kedudukan yang sama bagi semua manusia. Ketika hati dan akal manusia dihubungkan dengan puisi yang merupakan sarana curahan, sejatinya bagaimanakah puisi itu ditulis? Puisi, tanpa disadari penulisnya, akan membawanya secara perlahan dan bertahap untuk sampai pada danau kebenaran dan ke-Maha-an Tuhan Sang Pencipta. Sebagaimana kata Chairil Anwar: Tuhanku/ Di pintu-Mu aku mengetuk/ Aku tak bisa berpaling (‘’Doa’’). Atau, sesal yang digambarkan Sutardji dalam ‘’Ah’’: nah/ rasa yang dalam/ tinggalkan puri purapuraMu/ Kasih! jangan menampik!/ masuk Kau padaku.

Artinya, puisi itu sejatinya religius. Jalan menuju religius merupakan sikap religius juga adanya. Sebohemian apapun seorang penyair, percayalah, akhirnya: Aku tak bisa berpaling. Juga, karena puisi merupakan curahan hati, proses kreatif lahirnya sebuah puisi sejatinya lahir secara alami. Tak perlu memperkosa hati agar menelurkan puisi-puisi. Terutama bila proses kreatif yang dimaksud bertentangan dengan ajaran Ilahi. Sesungguhnya hidup itu sendiri sudah problematis. Setiap manusia akan mengalami musibah atau kesenangan hidupnya sendiri-sendiri yang akan mengusik hati dan akalnya yang dari situ seseorang bisa mencurahkannya dalam sebuah puisi.

Puisi yang enak itu mungkin (maaf) seperti ‘angin lebih’ dalam tubuh yang pada saatnya harus keluar dengan sendirinya. Kalau tidak, sekujur tubuh akan sakit rasanya. Jika telah keluar, tubuh akan merasa ringan dan timbul rasa lega. Mungkin yang harus dilakukan bagi keluarnya ‘angin’ tersebut sekadar pancingan semata. Jangan gusar dan emosi. Apalagi memperturutkan ambisi agar lahir puisi, agar disebut penyair! Dan melakukan perbuatan yang melanggar fitrah hati dan akal manusia religi.

Puisi = Tontonan + Tuntunan
Karena puisi bersumber dari hati dan akal yang menyukai dan mencintai kebaikan, maka isi puisi sejatinya berupa tuntunan. Sebagaimana yang dinyatakan Ralp Waldo Emerson dan dikutip Sitor Situmorang (1980: 8), bahwa pusi mengajarkan sebanyak mungkin dengan kata-kata sesedikit mungkin (blog Abdur Rosyids). Kata ‘mengajarkan’ mengisyaratkan kepada harusnya ada tuntunan dalam puisi yang dituliskan. Kata ‘sebanyak mungkin’ menjelaskan, minimal ada satu larik bait yang nyangkut di hati penikmat puisi dan membuatnya terhenyak dan tersadar. Seperti kata Alvi Puspita: adakah kita bisa belajar dari/ manisnya dosa (‘’Kalau’’). Bahwa jadilah orang yang tawaduk dan rendah hati, jangan sombong dengan kebaikan diri. Banyak orang mengambil hikmah dari kesalahan dan kekhilafan orang.

Tapi, puisi juga adalah seni. Seni merangkai kata-kata menjadi sebuah alunan kalimat berirama dan indah sehingga enak dibaca. Karena itu tiap puisi harus mengandung unsur-unsur tontonan yang membuat penikmatnya merasa nikmat dan terhibur. Sebagaimana yang dikatakan Samuel Taylor Coleridge, puisi adalah kata-kata terindah dalam susunan terindah (blog Abdur Rosyids). Tentang keindahan puisi ini, selain adanya unsur rima, ritme, majas dan pilihan diksi kata, puisi sejatinya seperti seorang wanita. Menurut pandangan Anda (maaf), manakah yang lebih menarik; perempuan yang membuka seluruh tubuhnya, perempuan yang membuka sedikit tubuhnya atau perempuan yang menutupi seluruh tubuhnya. Bayangkanlah.

Puisi = Alat Komunikasi
Sebagaimana karya tulis lainnya –sastra dan non sastra– puisi juga bahasa untuk berkomunikasi. Bahasa komunikasi, bagaimana dan apapun jenis dan bentuknya, haruslah komunikatif: Dimengerti dan dipahami dalam kecepatan yang termungkin hingga sampai pada pembacanya. Ikan sepat ikan gabus, lebih cepat lebih bagus, demikian kata orang. Bayangkan, Anda berbicara dan lawan bicara Anda tak paham dengan apa yang Anda tuturkan, capek bukan? Dan untuk apa? Jadi, puisi sejatinya haruslah komunikatif.

Kalau kemudian Agus Sri Danardana dalam ‘’Peta dan Arah Sastra’’: Membaca ‘’Laporan’’ Goenawan sambil mendengarkan ‘’Penyesalan’’ Sutardji, hal. 267 berkata, setelah membedah puisi ‘’Tentang Seseorang yang Terbunuh di Seputar Hari Pemilihan Umum’’-nya Goenawan Mohammad: Meskipun tidak dapat dikatakan mudah, sajak ini tidak sampai membuat penulis frustasi dalam memahaminya, seperti sebagian sajak Goenawan lainnya, adalah hasil dari ‘kegagalan’ komunikasi antara penulis dan pembacanya. Atau, ‘penolakan’ A Teeuw dan Umar Junus (Maman S Mahayana, ‘’SCB; Menghapus Mitos Chairil Anwar’’, Sastra yang Gundah) terhadap sejumlah puisi Sutardji, seperti ‘’Pot’’ atau ‘’Shanghai’’ dan beberapa puisi semisal adalah cermin dari ‘kegagalan’ pembaca puisi dalam berkomunikasi untuk menikmati dan menangkap pesan yang disampaikan penulis dalam karya puisinya.

‘Kegagalan’ tersebut lahir dari ‘buruknya komunikasi’ tulis yang dibuat penulis puisi dengan bahasa puitiknya. ‘Buruknya komunikasi’ ini bukan lahir dari ketidakmampuan penulis puisi dalam berkomunikasi dengan bahasa puitiknya, tapi lebih karena sebuah kesalahpahaman ide (mungkin) bahwa puisi harus sedemikian tertutupnya sehingga si pembaca harus berkerut kening dan pipi dalam memahaminya. Jujur saja, kesan ini dan pemahaman ini menghinggapi hampir (mungkin) semua kepala setiap penulis puisi, termasuk penulis jenis sastra lainnya. Sehingga ditemukan dalam beberapa ajang lomba, karya sastra yang kurang komunikatif ini bahkan cendrung gelap, justru dimenangkan oleh dewan jurinya. Bukan hal yang susah dipahami kalau akhirnya seorang Marhalim Zaini membuat catatan ‘’Di Manakah Kedalaman Novel Nubuat?’’ dalam Sastra yang Gundah.

Dengan demikian, membangun aspek-aspek komunikatif dalam berbahasa adalah sebuah keharusan. Tidak terkecuali dengan puisi, kecuali jika disepakati puisi bukanlah bahasa komunikasi. Jika ya, tentu kita harus merombak total defenisi puisi yang telah dikenal dan disepakati bersama. Dalam bahasa gaul disebut sastra yang terlalu nyastra. Jika seorang wanita, sebagaimana tamsil si atas, terlalu menutup rapat seluruh aksesoris tubuhnya sehingga tak menyentuh hati para pria.

Akan tetapi, berbeda dengan bahasa tulis lainnya, termasuk karya tulis sastra lainnya, bahasa komunikasi puisi janganlah terlalu telanjang terbuka seperti wanita-wanita kita masa kini. Bisa memuakkan dan menjengahkan, atau hanya akan menjadi catatan harian biasa. Rahasia merupakan sebagian dari keindahan, selain harus adanya unsur-unsur keindahan lainnya sebagaimana yang dipahami.

Kesimpulan
Untuk menjadikan puisi sebuah tuntunan sekaligus tontonan yang komunikatif puitif perlu sebuah proses yang lumayan menyenangkan. Agar menjadi puisi mampu tuntunan seorang penulis puisi mestilah mengasah akalnya dan mengasuh hatinya sebagaimana konsep di atas serta terlibat intens dengan problematika kehidupan masyarakatnya. Seiring dengan itu melatih diri bagaimana berbahasa puisi yang indah dan komunikatif. Dan, karena ianya sebuah proses, maka biarkan proses itu berlaku secara alamiah seperti kepompong yang mengubah dirinya menjadi kupu-kupu; jangan dipaksa-paksa. Mungkin demikian kiranya.***

________________18 Maret 2012
Muhammad Hanif, Penulis adalah penikmat sastra. Pengajar pada Ma’had Al-Uswah Pekanbaru. Pengisi kajian agama pada sejumlah masjid dan majelis taklim. 25 tahun belajar menulis puisi.