Seksualitas dalam Fiksi Soni

Judul Buku: Empat Dayang Sumbi dan sepuluh cerita lainnya
Penulis : Soni Farid Maulana
Penerbit : Komunitas Sastra Lingkar Selatan – Cetakan 1, 2011
Peresensi : Nazaruddin Azhar *
http://www.kabar-priangan.com/

Soni Farid Maulana, penyair produktif itu kembali menerbitkan buku. Kali ini buku “Empat Dayang Sumbi dan sepuluh cerita lainnya”. Isinya empat cerpen dan “Sepuluh cerita lainnya” dalam judul itu adalah jumlah fiksi mini yang ditulis Soni, yang dalam bahasanya diterangkan sebagai cerpen-puisi mini. Tentu istilah ini terdengar agak memaksa, makanya ijinkan saya menyebut “Sepuluh cerita lainnya” itu dengan istilah fiksi mini saja.

10 fiksi mini SFM dalam buku ini, telah berhasil membawa saya bertualang pada lapisan kisah mengasyikan. SFM menyajikan ceritanya dalam ikatan yang longgar, tidak seperti fiksi mini pada umumnya dalam twitter atau antologi buku lain. Mungkin karena itulah, SFM menyebutnya cerpen-puisi mini. Titik tumpunya ada pada kata “cerpen” yang berarti cerita pendek, tapi punya tipikal yang puitik, yang panjang tulisannya “mini”, bila dibanding dengan ukuran cerpen yang standar. Saya tidak “mencurigai” SFM tengah berusaha membuat tren baru, dengan membikin “fiksi mini yang sedikit lebih panjang”, tapi mungkin ini bisa disebut fiksi mini khas SFM.

Soni tampak dengan lebih leluasa berkisah. Ia tidak tunduk ke dalam definisi fiksi mini yang dianut banyak penulis lain. Dalam “keminian” teks ceritanya, SFM berekspresi dengan lebih bebas. Bumbu dan asesoris puitik ditebarnya dalam takaran yang seringkali agak terasa berlebihan. Misalnya dengan memberi ilustrasi puitik lewat kalimat yang mungkin tak akan kita temukan pada fiksi mini yang benar-benar mini, seperti yang bisa kita temukan dalam twitter. Dalam “Pukulan Telak”, umpamanya, SFM memberi keterangan untuk ekspresi Sang Jantan, setelah Sang Betina bicara bahwa puisi lebih penting dari Sang Jantan yang mungkin loyo di ranjang, bunyinya demikian: …seketika itu paras Sang Jantan murung sudah bagai sepangkas kembang bakung, di malam Jum’at sehurung layung. Rangkaian kalimat ini bahkan bisa jadi fiksi mini tersendiri.

Yang bikin saya tertarik dari fiksi mini SFM ini, adalah semangat SFM meledek perilaku manusia yang lebih banyak dikendalikan oleh dorongan atau hasrat seksualnya. Dalam variasi yang beragam, SFM menyajikan tema seksual sebagai sketsa cerita.

Dalam fiksimini berjudul “Iklan” misalnya, SFM menyajikan karikatur tentang kebiasaan banyak iklan produk, yang tampak selalu mencoba menyasar hasrat seksual konsumen, demi membenamkan imaji produk yang dijual, sebagaimana biasa kita lihat di televisi. Eksploitasi tubuh perempuan dalam iklan diyakini para pengusaha bisa mengendalikan kesadaran massa (konsumen) pada produk yang dicitrakan dalam iklan. SFM menyindir hal itu, dengan mengisahkan sang betina yang mau menjual rumah tapi tak laku-laku, lalu ia mencantumkan tulisan sebagai iklan: dijual rumah ini beserta pemiliknya. Tidak sampai satu hari 1000 orang datang menawar. Maklum, sang betina konon tak kalah cantiknya dengan pembobol bank (Malinda Dee?).

Empat Dayang Sumbi

Tema tentang seksualitas, yang dibalut dalam kisah sepi seorang pria bernama Soni, dan perjumpaannya dengan perempuan Dayang Sumbi, terhidang likat dalam empat cerpen yang saling bertaut, dalam kumpulan “Empat Dayang Sumbi”. Empat cerpen ini bisa dibaca terpisah, masing-masing dalam judul tersendiri, tapi juga bisa disatukan hingga kita bisa menganggapnya sebagai sebuah novelet, atau novel pendek, dengan empat sub judul.

Kisah lengkapnya tentu saja bisa Anda baca dalam bukunya. Saya hanya akan bercerita tentang kesan saya setelah membaca empat cerpen tersebut.

SFM tampaknya meminjam sosok dirinya sendiri untuk beraksi sebagai tokoh fiksinya. Nama tokohnya pun Soni, dan ia adalah wartawan karena diceritakan meliput masalah kriminal (hal. 6), juga penyair (hal. 9), pelatih teater/monolog (hal. 35), penulis novel dan naskah drama (hal. 57). Semua pekerjaan tokoh itu juga dikerjakan SFM, si penulis cerita. Lokasi ceritanya di Bandung, meski untuk beberapa tempat SFM lebih memilih membikin lokasi fiktif.

Cara demikian tampak membuatnya lebih leluasa bertutur. Meski empat cerpen ini ditulis dalam rentang waktu yang panjang (2002 – 2005), tapi benang merah dan mood cerita bisa terjaga.

Kisahnya sekilas terlihat sederhana, yakni pertemuan Soni dengan empat wanita berbeda yang terikat pada imaji tentang sosok Dayang Sumbi. Kesan saya, kisah ini sebenarnya menyimpan potensi menarik, bila SFM menulisnya dalam bentuk novel dengan pendalaman karakter tokoh yang lebih kuat. Terutama karakter Soni sendiri.

Sebagai pembaca, kita diberi gambaran tentang hadirnya perempuan yang hampir semua misterius. Bernama Dayang Sumbi, Tias, Aura, dan kemudian Ning. Empat perempuan itu seakan hadir secara kebetulan, tanpa latar belakang yang membuat kita yakin, bahwa empat perempuan itu “layak” hadir dalam kehidupan Soni. Kita tidak diberi petunjuk yang kuat, mengapa tiba-tiba Soni bertemu Dayang Sumbi di kafe, lalu perempuan itu yang kemudian dipanggil Tias, tiba-tiba bisa hadir di dalam kamar tidurnya dengan misterius, lalu muncul Tias yang maunya dipanggil Aura, serta kemunculan Ning di akhir cerita. Satu sama lain memiliki kesamaan, yakni penampilan yang mirip, aroma parfum sama, yang dipertautkan oleh imaji Soni tentang Dayang Sumbi, termasuk Ning yang mengaku saudaranya Aura, dan mengakhiri kisah dari empat cerpen ini dengan ujung yang dibiarkan misterius, menggantung.

Saya teringat novel “Telegram” karya Putu Wijaya. Latar belakang psikologis yang kuat dalam novel itu membuat kita bisa menerima kehadiran Rosa, tokoh khayalan si pria. Manifestasi dari rasa khawatir, rasa takut, serta krisis kejiwaan yang membuatnya lemah, digambarkan dengan meyakinkan dalam situasi yang dibiarkan baur; apakah ini fakta, atau khayalan?

Soni, dalam fiksi SFM, tidak diberi latar belakang psikologis yang kuat semacam itu, mengapa ia harus bertemu sosok perempuan yang kesemuanya menyaran pada sosok Dayang Sumbi, baik karena pengakuan perempuan itu, atau menurut sangkaan Soni sendiri. Kita mungkin akan lebih percaya bila dalam kisah ini Soni sebagai penyair atau pengarang, sedang terobsesi oleh kisah Dayang Sumbi, misalnya, hingga semua kejadian itu terjalin sebagai manifestasi obsesif sang tokoh. Dan hadirnya Aura yang meninggal karena keguguran setelah berhubungan dengan Soni, akan menjadi fakta menarik, bahwa ternyata perempuan itu memang hadir dalam dunia nyata Soni.

Tokoh Soni hanya diceritakan belum pernah punya pacar sebelum bertemu Dayang Sumbi/Tias/Aura, dan kemudian mengalami peristiwa seksual hingga Aura hamil. Peristiwa hamil dan matinya Aura yang cukup penting dalam kisah ini, karena mampu mengubah kondisi psikologis tokoh Soni hingga merasa biografinya menjadi sehitam aspal jalanan, kehilangan gairah, merasa pengecut, bagai bangkai tikus yang busuk, hanya dikisahkan dalam kilas balik saat Soni bertemu Ning. Potensi kejiwaan tokoh Soni yang berubah drastis ini tidak dipersiapkan dalam pondasi yang kuat sebelum peristiwa kematian Aura itu terjadi, atau sebelum Soni mengaku sebagai bajingan tak berarti.

Lepas dari semua itu, “Empat Dayang Sumbi” memberi tawaran gaya bercerita yang sangat menarik untuk diapresiasi dan ditelaah lebih lanjut.***

Nazaruddin Azhar, Penikmat Sastra /21 Sep 2011