Tentang Keats, Cinta, dan Kematian

Leila S. Chudori
http://majalah.tempointeraktif.com/
BRIGHT STAR
Sutradara: Jane Campion
Skenario: Jane Campion
Berdasarkan buku Keats oleh Andrew Motion
Pemain: Abbie Cornish, Ben Whishaw

KETIKA sutradara Jane Campion tampil dengan filmnya, The Piano (1992), yang meraih penghargaan Palm D’or di Festival Film Cannes, dunia sinema kemudian menyebutnya sebagai seorang penyair dalam sinema. Kini, dengan memilih penyair Inggris abad ke-19, John Keats, sebagai subyek filmnya, apakah Campion tetap menjadi penyair di atas kanvas layar perak?

Film ini dimulai dengan gerak tangan cantik seorang perempuan yang tengah menyulam. Ini adalah jari-jari Fanny Brawne (Abbie Cornish), perempuan muda yang menyukai mode serta sangat ekspresif dan berani pada zamannya. Fanny berkenalan dengan penyair John Keats, pemuda yang mulai dikenal sebagai penyair yang konon akan menyaingi penyair Lord Byron. Pasangan muda ini langsung saling tertarik. Bagi Keats, meski Fanny mengaku tak paham puisi, dia adalah perempuan cerdas yang memiliki bakat alamiah untuk memahami karya-karyanya. Keluarga Fanny tak terlalu gembira dengan perkembangan hubungan romansa ini, karena Keats tak menjanjikan stabilitas finansial. Dia begitu miskin hingga hidupnya harus menumpang di apartemen Mr Brown (Paul Schneider), yang berperan seperti “manajer” dengan sahabatnya yang mendorong dan membantunya berkarya. Brown, seperti juga para manajer yang mengurus artisnya pada abad masa kini, begitu posesif dengan Keats, hingga dia selalu menghalangi hubungan sepasang merpati ini. “Kehadiranmu mengganggu proses pembuatan karyanya,” katanya dengan wajah masam kepada Fanny.

Puisi Bright Star yang jelas berisi Keats yang tengah mabuk kepayang hingga kini dianggap sebuah puisi yang didedikasikan kepada Fanny Browne. “Bright star, would I were steadfast as thou art- Not in lone splendour hung aloft the night/And watching, with eternal lids apart.”

Namun sesungguhnya, dalam biografi Keats, dia juga mempunyai beberapa “kawan perempuan” dekat lainnya, di luar Fanny, yaitu Isabelle Jones. Konon, semula Bright Star ditulis saat Keats tengah dekat dengan Isabelle, tapi di kemudian hari, setelah mengalami beberapa revisi, puisi itu didedikasikan kepada Fanny Browne, yang terus mencintainya hingga akhir hayat Keats yang digedor TBC.

Kali ini sutradara Jane Campion memilih jalan naratif dan konvensional dalam memotret John Keats. Dialog, adegan, musik, tata artistik, serta kostum yang bersetia pada segala aroma abad ke-19. Berbeda dengan karya-karya Campion sebelumnya yang banyak berbicara melalui hening, kini Campion sengaja memilih kata, karena Keats adalah penyulam kata yang dahsyat.

Karena Campion sengaja menyorot beberapa tahun terakhir menjelang kematian Keats, kita tak pernah menikmati bagaimana seorang John menjadi John Keats yang telah memperkenalkan kita pada romantika hidup. Misalnya sajaknya, On Death (yang sudah diterjemahkan oleh Taslim Ali ke bahasa Indonesia menjadi Tentang Mati), sesungguhnya bisa menjadi narasi saat Keats meninggal. “Mungkinkah mati itu tidur/bila hidup hanyalah mimpi/Dan gambaran bahagia/luput seperti hantu berlalu….”

Keats adalah penyair yang berhasil membuat kesengsaraan dan kematian menjadi sesuatu yang begitu romantis, yang tak perlu ditangisi, tetapi disyukuri dengan segala keindahan dan penderitaannya.

Ketika dia terpaksa terpisah dari Fanny yang sungguh dicintainya dan mereka berkomunikasi dibatasi sebuah dinding, kita merasakan luapan asmara Keats yang menggelora justru karena keterbatasan itu. Ben Whishaw sebagai John Keats yang mampu menyajikan kesengsaraan sekaligus asmara melalui sepasang mata yang bersinar itu memang aktor yang tepat memerankan penyair yang digedor nestapa ini.

Yang menarik, justru karena sutradara Jane Campion memilih narasi yang konvensional dan sederhana ini, John Keats bisa muncul sebagai dirinya: penyair yang kata-katanya masih kita genggam hingga hari ini.

03 Januari 2011