Ars Poetica

Hasif Amini
Kompas, 14 Mei 2006

Bila tak sedang memerikan hal-ihwal dunia (dan) manusia, puisi kadang menengok kembali dirinya sendiri. Lewat tangan si penyair, kata-kata lepas dan bermain,
bekerja, sesekali bercermin, merenung: apa sesungguhnya puisi, apa yang mestinya dilahirkan oleh puisi, apa yang mesti dijalankannya, apa yang tidak, dan seterusnya. Dan pencandraan diri seperti itu ternyatalah bukan hanya gejala modern kemarin sore.

Adalah Horace—Quintus Horatius Flaccus (65-8 SM), “penyair ketiga setelah Homeros dan Virgil” menurut Dante Alighieri dalam Divina Commedia—yang pertama kali menyuratkan puisi tentang puisi, dalam wujud sepucuk surat kepada Calpurnius Piso, seorang teman yang anak sulungnya berhasrat menjadi penyair. “Epistula ad Pisones”, demikianlah naskah itu disebut dalam bahasa Latin, kemudian tersebar luas, menjadi termasyhur, dan akhirnya mendapat nama baru: “Ars Poetica” (Seni Puisi). Dalam surat sepanjang 476 larik yang ia tulis dengan irama “metrum enam kaki” (hexameter) itu, Horace dengan santai dan lewat sejumlah contoh jenaka membahas antara lain pentingnya keutuhan dan fokus dalam penulisan puisi, kecocokan pokok dan gaya bahasa, serta bakat dan proses belajar yang memadai. Ut pictura poesis (“sebagaimana lukisan, begitu pun puisi”), begitulah bunyi salah satu ungkapan yang tak terlupakan dalam surat bersajak itu.

Dua puluh abad kemudian, pada tahun 1925, seorang penyair Amerika berusia 33 menggubah sebuah sajak pendek yang di kemudian hari sering dikutip sebagai semacam manifesto puisi modern. Penyair itu adalah Archibald MacLeish. Judul sajak itu (seakan sebuah tabik kepada Horace) “Ars Poetica”. Sebuah sajak bebas yang merdu, di bawah pengaruh imajisme, dengan rangkaian citraan yang terang dan jernih namun penuh paradoks, bahkan kontradiksi. Sejak larik pertama, sambil “bergerak” dari bait ke bait, ia terus menyarankan seperti apa mestinya sebuah puisi: seperti sebutir buah yang bulat dan bisu, sekeping medali tua yang terjamah ibu jari, diam bagai batu, tanpa kata bak terbangnya burung-burung, bergeming dalam waktu sebagai rembulan yang mendaki. Ia sempat juga bermain-main dengan sejumlah abstraksi (ingatan, pikiran, sejarah, duka, cinta) dan padanan imajinya, sebelum menutup diri dengan paradoks yang terkenal itu: A poem should not mean/ But be.

Jorge Luis Borges, nun di Argentina sana, pernah juga menggubah sebuah “Ars Poetica” (1960). Dalam kuatrain yang rapi, sajak itu sarat berisi perulangan pasangan-pasangan imaji yang sudah begitu tua dan biasa: sungai dan waktu, hari dan tahun, tidur malam dan maut. Dengan jalan itu ia memang tampak hendak menegaskan kembali kesederhanaan, bahkan kebersahajaan, sebagai nilai terdalam puisi. Borges, seorang penulis yang di masa mudanya pada dekade 1920-an pernah menjadi penganut ultraisme, sebuah gerakan avant-garde yang gemar meledakkan metafor warna-warni, di hari tuanya memilih bayang-bayang yang terpacak diam (atau berubah diam-diam) di tepian atau seberang hiruk-pikuk dunia.

Sementara itu, pada tahun 1968 di Berkeley, California, seorang penyair dalam pengasingan menulis sebuah sajak permenungan yang penuh harap dan ironi tentang puisi: “Ars Poetica?” Puisi yang begitu sadar diri hingga ia pun sangsi, dan membubuhkan tanda tanya, pada dirinya sendiri. Czeslaw Milosz, si penggubah sajak, memang tengah menyoal pelbagai hal seputar puisi: ia mencari bentuk yang tak terkekang pembedaan puisi dan prosa, yang mendekatkan penyair dan pembaca; mendesahkan punahnya karya yang membantu kita “menanggungkan rasa sakit dan derita”; bertanya dari mana datangnya ilham; bagaimana puisi mengingatkan bahwa setiap orang mengandung dalam dirinya banyak orang, sebab rumah kita terbuka, tak ada kunci di pintu-pintunya,/ dan tamu-tamu gaib datang dan pergi tanpa dinyana.

Tentu masih banyak sajak lain yang, tanpa menyebut diri sebuah ars poetica, bernyanyi dan berpikir tentang puisi. Kita bisa ingat, misalnya, sebuah bait dalam “Sajak-sajak Empat Seuntai” Sapardi Djoko Damono: ruangan yang ada dalam sepatah kata/ ternyata mirip rumah kita:/ ada gambar, bunyi, dan gerak-gerik di sana—/ hanya saja kita diharamkan menafsirkannya. Sebuah bait bernada takjub sekaligus cemas, yang tampak kian beralasan rasa cemasnya di hari-hari ini.

Dijumput dari: http://hasifamini.blogspot.com/2008/09/ars-poetica.html