Bhartrihari

Hasif Amini
Kompas, 16 Juli 2006

Puisi lirik dari khazanah sastra Sanskerta seakan tersembunyi. Epik Ramayana gubahan Valmiki dan Mahabharata susunan Vyasa adalah sepasang karya tinggi besar dengan bayang-bayang demikian panjang, sehingga orang bisa lupa bahwa telah mengalun dan merebak juga banyak nyanyian di sekitar bayang-bayang itu. Kalidasa, adikavi (pujangga besar) yang konon hidup berkelana di sekitar peralihan abad ke-4 dan 5 Masehi, pun lebih dikenal dengan lakon-lakonnya, seperti Malavikagnimitra dan Shakuntala, meski ia juga menulis (selain sejumlah sajak epik) dua buah lirik abadi: Meghaduta (Awan Pembawa Pesan) dan Ritusamhara (Lukisan Musim). Kata “epik” dan “lirik” di sini tentu hanya bersifat menghampiri, dan karena itu perlu dibayangkan berada di antara dua tanda petik.

Satu soal lagi: riwayat para pujangga itu sesungguhnya tak selalu jelas—tak hanya menyangkut detail peristiwa yang terjadi, tapi juga kapan persisnya mereka hidup. Baiklah, mungkin biografi penyair memang seperti “biografi burung”, sebagaimana kata Joseph Brodsky: tak penting benar. Sebab, yang lebih penting niscayalah nyanyinya, bukan riwayatnya. Tetapi legenda telah mengambil alih, dan sedikit cerita tak akan melukai puisi.
Alkisah, Bhartrihari, penguasa wilayah Ujjain, Madya Pradesh, India, pada abad ke-5 atau 6 Masehi, adalah seorang raja yang patah hati. Sang permaisuri yang ia cintai ia pergoki menaruh hati pada seorang lelaki lain. Celakanya, lelaki yang dicintai sang permaisuri ternyata telah jatuh cinta pada seorang pelacur jelita. Dalam legenda ini, cinta dikiaskan sebagai sebutir buah segar. Dan, seakan sebuah lingkaran sempurna, si pelacur jelita itu justru mempersembahkan “buah segar” itu kepada sang raja.

Bhartrihari lalu memutuskan pergi dari istana dan bertapa di hutan. Di sana ia melahirkan Shatakatrayam (Tiga Ratus/”Abad” Sajak), sebuah trilogi yang terdiri atas Nitishataka (Seratus Sajak Kearifan Duniawi), Sringarashataka (Seratus Sajak Asmara), dan Vairagyashataka (Seratus Sajak Pelepasan Raga). Dalam ungkapan pendek yang bernas, tajam, kadang sarat ironi, Bhartrihari memerikan tiga sisi hidup yang pernah dilaluinya: sebagai raja, kekasih, pertapa. Kelak, sajak-sajak lirik (muktaka) Bhartrihari itu dikenang sebagai salah satu capaian tertinggi lirik dalam bahasa Sanskerta.

Tengoklah, misalnya, bait ini: Intan di mata pahat sang jauhari/ Satria terluka pada lengannya/ Gajah terhuyung oleh birahi/ Tebing kali kering oleh tuarang/ Bulan sabit selewat purnama/ Gadis lungkrah oleh permainan cinta/ Dan saudagar yang menderma seluruh hartanya/ Semua meruapkan pesona dalam silamnya. Sebuah paduan citraan keras dan lembut, alam dan manusia, yang dijajarkan sebagai paralel yang sekaligus mengandung kontras antara kedahsyatan dan kefanaan hidup. Digubah belasan abad lampau, bait itu menyimpan kewajaran sekaligus keganjilan: lompatan dan kepadatan imaji yang nyaris modern.

Dan Bhartrihari tak hanya menulis sajak. Vakyapadiya, sebuah traktat filsafat bahasa yang ia tulis, adalah sebuah rujukan yang termasyhur dalam tradisi filsafat India. Bhartrihari mengemukakan konsep “Sabda-Brahman”, yang ia tegaskan pada kalimat pembuka risalahnya itu: “Kenyataan tertinggi (Brahman) pada hakikatnya berwatak sabda. Tanpa awal dan tanpa akhir. Demikianlah ia merupakan prinsip tertinggi. Prinsip tetap dan kekal ini mewujudkan diri sebagai aneka macam benda dan proses di alam semesta (jagata prakriya).” Dan, dengan suara yang seakan datang dari pikiran zaman kini, ia membubuhkan komentar atas aforisme itu: “Seluruh gejala di dunia, meski tampak berbeda satu sama lain, memiliki watak dasar sebagai kata. Sebab prinsip kata (sabda) bekerja di baliknya. Kita mengenal dunia melalui kata, dan seluruh pikiran kita terjalan dalam kata-kata. Segala hal-ihwal sejak awal, ada, hingga akhirnya hanya dapat ditentukan melalui kata-kata.”

Dijumput dari: http://hasifamini.blogspot.com/2008/09/bhartrihari.html