Bila Cerpen Serupa Reportase Televisi

Judul buku : Korsakov
Penulis : Wina Bojonegoro
Penerbit : Elmatera, Yogyakarta
Tebal : 184 hal
Peresensi : Tita Tjindarbumi *
http://www.lampungpost.com/

ADALAH sebuah keberanian ketika seorang Wina Bojonegoro, single parent yang mengaku menulis cerpen sejak tahun 1988, membukukan cerpen-cerpennya dalam sebuah buku kumpulan cerpen yang diberi judul Korsakov. Tak banyak penulis cerpen yang melakukan hal serupa meskipun bisnis buku terus melaju dengan cepat. Penerbit juga bermunculan bak jamur, saling berlomba menerbitkan sebanyak-banyaknya buku berbagai genre, tetapi sedikit penerbit mayor yang mau gambling menerbitkan buku kumpulan cerpen dan antologi puisi. Alasannya cukup beralasan, pembelinya tak banyak.

Selain itu, editor sebuah penerbitan dengan tegas mengatakan penerbitnya tidak akan menerbitkan buku kumpulan cerpen kecuali karena alasan khusus. Alasannya sederhana, jarang pembaca membeli buku kumcer jika tidak yakin isinya bagus. Dan nama penulis masih tetap menjadi jaminan meskipun tak semua penulis terkenal selalu menulis bagus.

Tak heran jika penulis di genre ini banyak yang membukukan karyanya secara indie. Membiayai sendiri semua biaya penerbitan sampai promosi, bahkan menjual sendiri bukunya seperti sales pada umumnya, bahkan memilih sendiri editor dan endorser.

Tak ada yang salah ketika penulis ingin membukukan karyanya seperti yang dilakukan Wina Bojonegoro dan penulis lainnya yang menerbitkan secara indie. Sementara yang perlu kita cermati adalah apakah buku mereka sudah layak dibaca dan punya nilai plus bagi pembaca?

Korsakov, buku setebal 184 halaman, ini berisi 18 judul cerita pendek Wina yang sebagian besar sudah dimuat di koran lokal Kota Surabaya. Jika membaca satu demi satu cerpen dalam buku ini, terasa sekali penulis ingin membawa pembaca ke berbagai aneka corak problema kehidupan yang terjadi di Surabaya. Kejadian sehari-hari yang bisa terjadi pada siapa saja, perempuan khususnya, dengan lakon dan karakternya suroboyoan sekali. Dengan mengangkat kisah-kisah lokal dengan dialek lokal yang kental, istilah yang pada umumnya digunakan di daerah Surabaya, juga logat kental arek Suroboyo, jadi tak heran jika cerpen-cerpennya dimuat di koran lokal. Sehingga di setiap cerpennya, Wina tak perlu susah-susah memberi catatan kaki untuk istilah bahasa Jawa dan istilah lain yang biasa didengar di keseharian Kota Buaya. Padahal, lazimnya setiap menggunakan bahasa daerah, asing, atau resapan yang tidak baku, harus ditulis miring dan disertakan catatan kaki tentang arti kalimat, kata, atau istilah yang digunakan dalam cerpen tersebut.

Lalu, mengapa Korsakov yang menjadi judul buku ini? Mengapa penulis tidak memilih judul yang lebih menggambarkan keseluruhan isi buku? Bukankah judul harus mencerminkan isi buku? Sehingga tidak terkesan ada pengelabuan atau penipuan publik? Betul ada cerpen dengan judul Korsakov, tapi isi cerita tersebut logika berceritanya lompat-lompat dan tidak lebih bagus dari cerpen yang berjudul Lelaki Berbulu atau Di Atas Jembatan Rolak, Namaku Giri, meski judul yang terakhir terlalu panjang, tidak punya magnet. Menurut saya, judul Korsakov memang cukup punya daya tarik antara lain karena berbau asing dan bisa laku dijual. Faktor bisnis sepertinya memang harus dikedepankan.

Sebuah cerpen bisa ditulis oleh siapa saja yang punya kemampuan baca-tulis. Tetapi, sebuah cerpen yang bagus selain sangat subjektif, sesuai selera penulis dan pembaca, ada banyak hal yang perlu diperhatikan sehingga pembaca tidak merasa membaca cerpen seperti mendengar berita di televisi atau membaca berita di koran.

Sebuah cerpen yang baik harus bisa menggugah hati pembaca, ada nilai seni, keindahan. Selain itu, dapat memberi sesuatu yang bermanfaat dan pesan moral, terutama cerpen-cerpen yang ditulis oleh penulis perempuan akan bagus bila dapat memberi pelajaran berharga dari kisah-kisah yang dirangkum dengan bahasa yang baik, menggunakan kata-kata pilihan, sehingga pembaca merasa seakan dialah yang mengalami kisah itu.

Di Korsakov, saya sulit menemukan magnet yang membuat saya harus melotot, membaca kalimat demi kalimat sampai ke titik tamat di setiap judul. Saya tak menemukan keindahan dalam kalimat. Saya seperti membaca seorang reporter televisi, men-translate ucapannya ke dalam bentuk tulisan apa adanya. Meskipun begitu, cerpen-cerpen Wina sungguh hebat karena bisa menembus media lokal yang kabarnya lumayan sulit ditembus.

Beberapa teman bertanya apa yang membuat cerpen-cerpen Wina bisa dimuat di koran tersebut? Barangkali jawabannya simpel saja, kekuasaan pemuatan ada di tangan redaktur. Siapa yang bisa melarang seorang redaktur untuk memuat cerpen yang dipilihnya? Kembali lagi ini soal selera meski tetap setiap cerpen yang benar ada tolok ukurnya.

Terakhir, buku ini seperti yang diakui Wina dalam percakapan dengan saya, ia menerbitkan buku ini secara indie. Dengan bantuan beberapa teman yang menjadi editornya (ada tiga nama) seharusnya cerpen ini melalui tahap editing yang jeli. Ada banyak salah ketik (atau tak paham bahwa menunjukkan tempat harus dipisah), ada penulisan bahasa Inggris yang lumayan fatal seperti sleeper (orang yang tidur), sementara yang dimaksud dalam cerpen itu adalah slipper (sandal). Akibatnya tentu makna cerita berubah total.

Terlepas dari hal-hal yang saya kupas di atas, tentu saya acungkan jempol untuk keberanian Wina menerbitkan cerpen-cerpennya dalam sebuah kumcer ini. Setidaknya bisa menjadi bacaan di kala senggang dan untuk belajar lebih banyak tentang kehidupan orang Surabaya.

Tita Tjindarbumi, penulis /15 April 2012